Selasa, 15 Agustus 2017

Taman Tebing Breksi Jogja? Biasa Saja


Pesona wisata Yogyakarta memang tidak akan pernah habis. Selalu saja ada inovasi wisata yang baru dan menyegarkan. Dulu jaman awal saya kuliah, yaitu tahun 2008, pantai, gua, dan air terjun di Gunung Kidul masih sedikit sekali yang tahu akan keindahannya. Jika tidak ada kuliah lapangan tentang Geografi Fisik di Gunung Kidul pasti saya tidak akan tahu indahnya alam Gunung Kidul. Jauh sebelum hebohnya sosmed, waktu jamannya friendster, obyek wisata yang sekarang hits di instagram bahkan belum ada wujudnya, belum direncanakan. 

Seiring berkembangnya fitur pada platform sosial media dan semakin banyaknya pengguna sosial media maka pesona wisata yang ada di daerah semakin naik kepermukaan. Tempat-tempat yang potensial sebagai obyek wisata segera digarap baik oleh pemerintah maupun pengelola swasta. Akhirnya, mulailah banyak bermunculan obyek wisata baru di Yogyakarta, salah satunya adalah Taman Tebing Breksi (TTB) di Pedukuhan Nglengkong, Groyokan, Sambirejo, Prambanan.

Panggung pertunjukan dibawah Tebing Breksi.
Obyek Wisata ini termasuk obyek wisata baru. Awalnya, tebing kapur ini merupakan salah satu sumber mata pencaharian warga. Warga mendapatkan penghasilan dari menambang kapur yang ada di tebing ini. Namun mulai tahun 2014, oleh pemerintah, penambangan dihentikan karena setelah dilakukan penelitian, di lokasi ini terdapat singkapan batuan endapan debu Gunung Api Purba yang membentuk morfologi bukit. Ternyata batuan kapur breksi di Pedukuhan Nglengkong ini merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran, di Gunung Kidul

Dari penelitian tersebut, akhirnya pemerintah memutuskan bahwa kawasan Tebing Breksi ini masuk dalam cagar alam dan harus dilestarikan. Sama halnya dengan keberadaan Gunung Api Purba Nglanggeran. Pada tahun 2015, sebuah Prasasti yang ditandatangani langsung oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X semakin mengukuhkan status Tebing Breksi sebagai Cagar Alam.

Dua tebing yang gagah ini seakan tampil sebagai pintu masuk.
Biasa Saja?

Saya sebenarnya sudah sering mendengar dan melihat keindahan Taman Tebing Breksi dari feeds yang ada di timeline sosmed saya. Tampak Foto-foto tebing batu putih menjadi background foto yang indah di timeline para pejalan hits yang ada di Instagram, terlepas apakah foto tersebut di edit atau tidak. 

Hingga pada suatu hari masuk sebuah chat di whatsapp dari seorang teman yang mengajak saya untuk ke Candi Ijo yang langsung saya iyakan. Sebenarnya tujuan utama saya adalah Menikmati Sunset di Candi IJo. Namun karena lokasinya satu jalur dan berdekatan dengan Taman Tebing Breksi, maka kami putuskan untuk mampir sekalian ke TTB. Soalnya saya juga penasaran dengan foto-foto indah dengan background Tebing Breksi yang bertebaran di Instagram, seperti apakah wujud aslinya.

Bagian Tebing yang diukir oleh seniman lokal dan menjadi salah satu spot foto favorit pengunjung.
Memasuki Jalan ke Tebing Breksi saya disambut oleh debu, dan segerombolan bapak-bapak tukang parkir yang ramah menyapa. Parkir untuk motor Rp. 2000, sedangkan untuk mobil Rp. 5000. Untuk tiket masuknya kita wajib bayar namun cukup seikhlasnya saja, tidak dipatok tarif.

Area parkiran saat itu sangat berdebu. Tidak hanya di area parkiran saja namun di wilayah obyek wisata ini kondisinya cukup berdebu, mungkin dikarenakan musim kemarau. Masker adalah wajib! namun sayang sekali saya tidak membawa masker. 

Sebuah tebing putih berdiri gagah, namun tidak seindah seperti yang saya lihat di foto. Menurut saya pribadi, lebih mirip area tambang. Ya, memang dulunya tebing ini kan area tambang. Sebuah area tambang yang 'dihias'. Tampaknya, mulai sekarang saya tidak akan percaya begitu saja dengan foto-foto indah yang ada di Internet. 

Pengunjung berfoto bersama burung hantu malang yang tampak stres.
Berjalan menapaki tangga tebing, saya menjumpai beberapa burung hantu dan elang yang tampak stress. Beberapa pengunjung tampak antre untuk berfoto dengan burung malang tersebut. Tembok tebing disebelah kiri saya diukir sedemikian rupa sehingga bergambarkan tokoh wayang. Tebing berukir ini yang menjadi salah satu spot foto terbaik buat para pengunjung, kesampingkan dulu debu silica yang bisa mengganggu pernafasan. 

Semakin naik keatas, saya akhirnya sampai di puncak tebing yang ditumbuhi beberapa pohon-pohon kecil sebagai penghijau area yang gersang ini. Tebing ini berhadapan langsung dengan sunset, sehingga bisa menjadi salah satu spot untuk menikmati sunset di Jogja. 

Puncak Tebing Breksi menjadi salah satu spot menikmati sunset di Jogja
Karena merasa 'biasa saja', saya akhirnya turun, dan menuju ke area foodcourt yang berdebu. tidak jajan apa-apa, hanya penasaran saja. Terlihat masih ada beberapa orang yang masih menambang kapur di Taman Tebing Breksi ini. Namun mereka tidak menambang kapur. Para penambang ini tampak sedang menambang batu. Namun sejenak saya berpikir, apakah mereka sedang menambang atau sedang membangun sesuatu? entahlah, saya tidak menanyakannya. 

Mungkin hanya sekitar setengah jam saja saya berada di Taman Tebing Breksi ini. Selanjutnya saya akan menuju ke Candi Ijo, spot terbaik menikmati sunset di Yogyakarta. Kesan saya di Tebing Breksi? biasa saja, seperti sebuah obyek wisata yang dipaksakan. Semoga kedepannya Taman Tebing Breksi bisa lebih baik dan mampu memberikan atraksi wisata yang berkesan bagi pengunjungnya sehingga membuat mereka mau untuk kembali lagi kesini. Mungkin bisa dimulai dengan memperbanyak pepohonan dan memberikan masker gratis. 

Bagaimana menurut kamu?
xxXXXxx

Burung hantu yang malang.

Mereka sedang menambang atau membangun?

Tangga terakhir menuju puncak Tebing Breksi

Piknik keluarga di Puncak Tebing Breksi sambil menikmati sunset.