Wednesday, June 7, 2017

Menikmati Sunset Candi Ijo, Candi Tertinggi di Jogja


Jika ditanyakan kegiatan apa yang paling berkualitas untuk mengisi waktu luang? Jawaban saya adalah baca buku dan jalan-jalan! Dua kegiatan ini mampu mengisi kekosongan kita dengan sesuatu yang bermanfaat yakni pengalaman, wawasan, dan pengetahuan. Mungkin jawaban tersebut bisa dibilang naif dan klise karena saya sendiri sebenarnya masih terjebak dalam gelombang dusta sosial media. Ada waktu senggang sedikit pasti langsung buka instagram atau facebook, kalau lagi banyak kuota ya youtube.

Tapi sore itu saya merasa sangat bosan dengan sosmed yang timelinenya penuh dengan postingan tentang FPI, toleransi, Afi Nihaya, dan sebagainya. Maka saya putuskan untuk jalan-jalan, menikmati sore yang cerah dengan langit yang berwarna keemasan. Sunset! kata tersebut langsung saja terbayang dibenakku. Dimana spot sunset terbaik di Jogja yang dekat dengan rumah? jawabannya adalah Candi Ijo.


Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Letaknya tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan dan Candi Kalasan. Yang membedakan Candi Ijo dengan candi-candi lainnya di Jogja adalah letaknya yang berada di lereng perbukitan dengan ketinggian 425 mdpl sehinga membuat candi ini menjadi salah satu spot sunset terbaik di Yogyakarta. 

Saya berangkat dari rumah sekitar jam empat sore. Sebelum ke Candi Ijo, saya sempatkan mampir dulu ke obyek wisata Tebing Breksi yang masih satu jalur dengan Candi Ijo. Akan rugi kalau tidak mengunjungi obyek wisata ini karena mau tidak mau pasti akan melewati tebing breksi yang jalan masuknya tepat di pinggir jalan, 500 meter sebelum Candi Ijo. 

Hanya sebentar saja saya mengunjungi Tebing Breksi karena tempat itu ternyata biasa saja --dan berdebu--. Hanya sebuah tebing bekas tambang yang disulap jadi tempat wisata dadakan yang tenar karena --lagi lagi-- sosial media.



Memasuki area parkir Candi Ijo, saya langsung dihadapkan dengan pemandangan indah deretan pegunungan sewu dan kota Jogja yang berpadu dengan warna keemasan matahari sore. Kursi-kursi payung dari bambu berjejer rapi dipinggir tebing, memanjakan siapa saja yang hendak duduk-duduk disitu sembari menyeruput secangkir kopi panas, menikmati pemandangan alam kota Jogja yang indah dari ketinggian. Pemandangannya mirip dengan Bukit Bintang, di Jalan Raya Jogja-Wonosari. 

Tiket masuk Candi Sewu hanya Rp. 2000 per orang tapi karena saya berkunjungnya jam lima sore sedangkan Candi tutup saat maghrib maka Pak Satpam mempersilahkan saya dan pengunjung lainnya masuk dengan gratis. Terimakasih Pak Satpam. 


Candi Ijo yang semula hanya terlihat bagian puncaknya saja perlahan-lahan menampakkan seluruh tubuhnya seiring saya mendaki tangga menuju pelataran Candi yang ditumbuhi rerumputan.




Kompleks Candi Ijo berbentuk teras berundak. Candi utama berada di teras paling atas sementara di teras bagian bawah terdapat candi-candi yang masih dalam proses pemugaran. Bentuknya masih berupa reruntuhan.

Matahari sore kala itu seakan menyembunyikan rupa Candi Ijo, menyelimutinya dengan bayang-bayang siluet hitam dibalik keemasan langit senja. Tiga candi pengiring / perwara untuk memuja trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa seakan-akan tampak sedang berlutut memuja Sang Maha Tunggal, Candi Utama yang menghadap ke barat, menghadap matahari. 



Candi perwara yang berada di tengah melindungi arca lembu, kendaraan Dewa Siwa. Arca lembu ini berada di dalam candi, bersebelahan dengan lingga yoni.

Untuk memasuki Candi Utama saya mendaki sebuah tangga batu yang dijaga oleh sepasang makara , makhluk mitos berbentuk bertubuh ikan dan berbelalai seperti gajah. Kepala makara menjulur ke bawah dengan mulut menganga. Di dalam candi utama terdapat sebuah lingga yoni dengan ukuran yang besar, tingginya mencapai 3 meter.




Matahari semakin mendekati garis horizon di ujung kota Yogyakarta. Orang-orang berkumpul di pinggiran teras candi. Sebagian berdiri, sebagian duduk, sebagian lagi tidur-tiduran di rumput. Kami semua di sini menikmati matahari senja yang perlahan-lahan menuruni cakrawala. Semakin matahari turun ke bawah, maka semakin merah nyala langit di depanku, seakan menghimpit siang dengan gelapnya malam. 

Lampu kota mulai menyala. Kerlip lampu landasan pacu Bandara Adisucipto terlihat dengan sangat jelas. Lalu lalang pesawat terbang dari bandara ini juga sangat nampak. Hampir setiap 10 menit ada pesawat yang lepas landas dan mendarat. 




Lampu-lampu di bawah sana menyala semakin terang seiring dengan semakin gelapnya langit. Tiba-tiba terdengar suara sirine dari bawah, dari Pos Satpam. Dua orang Satpam mendatangi kerumunan kami, para pengunjung dan dengan senyum ramahnya mempersilahkan kami untuk pulang karena area candi akan segera ditutup. 

Masih belum puas, saya mendatangi warung di dekat parkiran pengunjung. Memesan segelas kopi hitam dan memilih tempat duduk di pinggir tebing. Malam sudah turun sepenuhnya. Kota Jogja terlihat menawan dari atas sini. Sebagian pengunjung yang belum puas juga turut serta mendatangi warung ini. Saya bergabung dengan beberapa pengunjung yang merupakan mahasiswa rantau, sama seperti saya. Berbagi cerita, berbagi kisah, di bawah bayangan agung masa lalu dan di atas gemerlapnya cahaya masa depan.


⬇⬇⬇ Tonton VIDEO amatiran saya di Candi Ijo  ⬇⬇⬇