Tuesday, May 23, 2017

Menyusuri Panjangnya Pantai Trikora di Pulau Bintan


Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Riau Kepulauan. Berjarak 45 km dari Tanjung Pinang, atau 70 km dari Tanjung Uban.

Nama 'Trikora' pada pantai ini katanya berasal dari Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) pada tahun 1961 dulu dalam rangka penggabungan Irian Barat ke NKRI. Pada saat itu pantai ini digunakan sebagai salah satu pangkalan terluar untuk menghadapi serangan pasukan Belanda.


Tambak ikan laut di lepas pantai Trikora, Bintan.
Saya sampai di Pantai Trikora sekitar jam satu siang. Cuaca hari itu mendung, tapi hujan tak kunjung turun. Perjalanan saya dari Pantai Lagoi ke Pantai Trikora menggunakan sepeda motor membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. 

Dalam perjalanan menuju pantai, saat saya sedang mengisi bensin eceran di satu-satunya warung yang ada di pinggir jalan, saya didatangi oleh seorang anak muda yang mukanya sudah terlihat tua, dengan rambut ala-ala Mike Jagger, bagian depan pendek, belakangnya panjang.



Adi, warga lokal yang jadi guide dadakan.
Tiba-tiba dia bertanya "Bang, abang mau kemana?".

"Mau ke Trikora bro, kenapa ya?" jawab saya dengan agak heran dan sedikit was-was karena dia berpenampilan aneh. Dia mengenakan kemeja yang sudah kotor berpadu dengan celana panjang jeans coklat yang juga sama kotornya. Bagian kaki kiri celananya di gulung sampai ke lutut, sementara satunya tidak.


"Boleh ikut bang? saya numpang sampai ke Trikora", pintanya.


Dengan perasaan was-was campur kasihan saya pun mengiyakan, kebetulan saya juga asing dengan daerah sini. Dengan adanya orang lokal yang menumpang ini bisa sekalian jadi pemandu saya.



Baca juga: kondangan di Pulau Bintan

Jangan lihat orang dari penampilannya. Barangkali nasehat itu yang harus kukatakan pada diri sendiri. Namanya Adi. Penampilan lusuhnya yang tadi sempat membuat saya was-was akhirnya hilang setelah saya banyak bercakap dengannya di sepanjang perjalanan. Orangnya ramah dan sangat talkative.



Rumah si Adi, sederhana namun terlihat nyaman.
Ternyata si Adi kesehariannya adalah menggarap kebun miliknya sendiri yang diwarisi dari orang tuanya. Dia memang suka hitch hiking karena tidak ada transportasi umum menuju Pantai Trikora. Kalaupun ada, itu sangat langka. jadi saya sarankan jika pembaca ingin mengeksplor Pulau Bintan, sewalah motor / mobil sendiri.

Sesampainya di daerah pantai saya sempat bingung mencari mana yang namanya Pantai Trikora karena pantai ini sungguh sangat panjang. Kumpulan semak dan mangrove seakan menjadi pembatas alami pantai panjang ini. Ternyata yang namanya Pantai Trikora yang sederetan pantai ini. Semua bernama Pantai Trikora hanya dibedakan jadi Pantai Trikora 1, Pantai Trikora 2, dst. Menurut Wikipedia dan juga google maps, panjang Pantai Trikora mencapai 25 km.




Garis pantai yang sangat panjang ini semuanya berpasir putih. Saat saya kesitu air laut sedang surut sehingga karang-karang yang tampak tajam menghiasi bibir pantanya. Laut biru yang tampak indah saat saya browsing gambar 'Pantai Trikora' di google tidak tampak. Malah, air laut seakan-akan tiak berwarna karena cuaca saat itu mendung. Pantai utamanya, yang entah Pantai Trikora nomer berapa berada di ujung, ditandai oleh tumpukan batuan besar seperti yang biasa kita lihat di pantai-pantai Belitung. 



Untuk sampai ke ujung Pantai Trikora yang pemandangannya paling bagus, saya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menaiki motor. Bisa dibayangkan kan betapa panjang pantai Trikora ini. 


Saya berkunjung ke Pantai Trikora pada week days jadi tidak banyak pengunjung lain yang saya lihat. Pantai luas ini terasa sangat sunyi. Warung-warung dengan gubuk gazebonya yang kosong berderetan di sepanjang pantai. Saya memesan dua cangkir kopi hitam, satunya untuk si Adi yang bersedia mejadi teman ngobrol saya. 



Sungguh berbeda dengan pantainya orang kaya, Pantai Lagoi. Pantai rakyat yang seharusnya indah ini di beberapa bagiannya ternodai oleh banyaknya sampah yang bertebaran di sepanjang pasirnya. Pasir yang putih pun seakan tampak berwarna-warni, oleh sampah. Fasilitas pengunjung? selain warung dan kamar mandi saya tidak menemukan wahana hiburan lain seperti paralayang, speedboating, dan lainnya seperti yang pernah saya baca di internet. 

Hal itu mungkin dikarenakan posisi kunjungan saya bukan pda hri-hari libur atau weekend jadi penyedia wahana wisatanya enggan menampakkan diri karena pengunjungnya memang sedikit. Selain itu cuaca yang mendung membuat saya tidak bisa melihat birunya air laut di Pantai Trikora ini.




Saya berjalan dari deretan warung Trikora menuju ujung pantai yang terdapat banyak batu-batu besar. Mungkin ini spot yang paling bagus di Pantai Trikora. Tumpukan batuan granit yang ukurannya besar-besar ini memang banyak terdapat di pantai-pantai kepulauan semenanjung melayu. Termasuk sampai di Pulau Natuna.

Saran saya, jika ingin mengunjungi pantai-pantai di Pulau Bintan, kunjungilah pada saat musim kemarau dimana airnya akan tampak berwarna biru dan jernih sehingga keindahan pantainya akan lebih berasa. Juga, kunjungilah saat peak season karena wahana dan fasilitas wisata akan lebih banyak dan beragam.