Kamis, 04 Mei 2017

Dongeng Dari Negeri Sabana : Nyanyian Anak-Anak Rumput


Pada suatu siang yang terik di sebuah negeri sabana bernama Sumba. Sejauh mata memandang, saya hanya melihat padang rumput dan semak belukar. Kadang diselingi pohon-pohon kurus yang tidak terlalu tinggi. Dua anak kecil tampak sedang menuruni sebuah bukit. 

Anak yang paling besar membawa setandan pisang. Sementara yang kecil tampak membawa sebuah karung yang terisi penuh. Di belakang mereka, satu anak perempuan juga membawa karung dan berlari-lari kecil mengejar dua anak di depan. 

Sesekali mereka berhenti dan menaruh kantong itu di tanah kemudian bermain-main sambil menyanyikan sebuah lagu daerah yang terasa asing di telingaku. 

Di atas padang rumput yang luas, mereka berkejaran kesana-kemari diiringi tawa yang lepas seakan-akan menyiratkan bahwa hidup mereka sungguh bahagia. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika melihat mereka dari kejauhan. Tawa lepas mereka menggema sampai ke tempat saya berada. 

Baca juga tulisan saya lainnya tentang Sumba
Di beranda sebuah rumah panggung yang terbuat dari bambu. Dua babi di kolong rumah tak henti-hentinya menguik sambil menggaruk tanah mencari apapun yang bisa dikunyah. “Ah, itu mereka sudah pulang” kata seorang kakek tua di beranda rumah tempat saya duduk bersila. 

Cucunya yang masih balita duduk di pangkuannya sambil memainkan jenggotnya yang sudah memutih. Namanya Yohanis Lodwig Mete. Dia menyuruh saya memanggilnya Yoha saja, nama panggilannya sejak kecil. 

Sebelumnya, saya yang sedang menyusuri sebuah jalan pengerasan, sebuah jalan tanah bercampur kerikil dan batu kapur diantara bukit-bukit padang rumput tiba-tiba melihat sebuah rumah panggung. Di halamannya terhampar biji-biji kopi yang sedang di jemur. 

Sebagai pecinta kopi, saya langsung tertarik dengan pemandangan itu dan menghampiri rumah satu-satunya yang ada di padang ini. Rumahnya ditumbuhi pepohonan dan semak tinggi yang sengaja ditanam untuk melindungi penghuninya dari panas terik matahari timur. 

Dua gelas kopi panas dan sepiring singkong rebus yang sudah dingin tersaji di hadapanku. "Maaf ini ala kadarnya saja ya bapak" katanya dengan santun saat menghidangkan suguhan yang menurut saya sudah lebih dari cukup. Seorang asing dengan mata sipit tiba-tiba menghampiri rumahnya lalu di suguhi makan dan minum. 

Sikap dihormati sebagai tamu seperti ini selalu saya dapatkan saat singgah di rumah-rumah penduduk walaupun hanya sekedar untuk bertanya mengenai kehidupan mereka sehari-hari.

Keharusan menghormati tamu memang sudah jadi sebuah ajaran umum di setiap agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Beruntung di Negeri Padang Rumput ini, ajaran tersebut masih terpelihara dengan baik, belum termakan budaya individualisme produk kebudayaan nirkabel.

Anak-anak kecil dari padang rumput tadi dengan ceria memasuki pelataran rumah yang di pagari dengan tumbuhan singkong. "Bapatua (kakek), ini kopinya sa (saya) taruh mana?" tanya si anak perempuan dengan sedikit malu-malu. Sedangkan dua anak lainnya beringsut ke bawah rumah dan menjahili babi-babi yang sedari tadi menguik-nguik terus. "Sini saja, ini bapa dari Jawa mau liat kopinya", jawab Kakek Yoha. 

Sebungkus besar plastik berisi kopi di sodorkan kehadapan saya. Biji-bijian yang masih hijau tersebut masih belum berbau wangi. Kakek Yoha menjelaskan kalau biji kopi ini diambil dari kebunnya yang berada di bawah bukit, dekat dengan sekolahan dua cucunya itu. 

Anak perempuan dengan senyuman yang manis ini punya cita-cita jadi dokter.
Saya baru sadar kalau hari ini memang hari aktif sekolah. Bocah-bocah tadi ternyata baru pulang sekolah, padahal jam di pergelangan tanganku menunjukan sudah pukul tiga sore. "Sekolahnya di mana ade?" tanyaku. Bocah perempuan yang manis itu langsung bersembunyi di balik tubuh saudaranya. Dia tampaknya malu ditanya oleh om-om aneh dari negeri antah berantah ini. Sambil tersenyum cengengesan, dia meminta Kakeknya saja yang menjawab.

Kakek Yoha menjelaskan kalau tempat cucunya sekolah ada di balik bukit, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah bukit yang di maksud. Sekolahnya berada di desa tetangga. Jaraknya sekitar satu setengah jam berjalan kaki.

Di tengah perjalanan, anak-anak juga harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup dalam untuk ukuran anak kecil, sehingga mereka biasanya meninggalkan seragamnya di sekolah. Seragam baru dipakai ketika mereka sampai di sekolah. 

Kakek Yoha juga menjelaskan, pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru kepada cucu-cucunya itu biasa mereka kerjakan di siang hari sepulang sekolah. Karena jika dikerjakan di malam hari, mata mereka akan sakit karena hanya diterangi oleh pelita dari lampu minyak. Penggunaan lampu minyak juga mereka atur se efisien mungkin karena harga minyak mahal. Listrik? Sebuah fasilitas mewah orang kota saja. 


Jalan Pengerasan yang dikelilingi oleh bukit-bukit sabana.
Perjuangan bocah-bocah inilah yang lantas menginspirasi dan memberi motivasi kepada saya untuk terus dan terus belajar tanpa menyerah pada keadaan. Saya yang hidup di sebuah kota besar penuh dengan fasilitas yang memudahkan justru termotivasi oleh perjuangan bocah kecil di Negeri Padang Rumput yang jauh dari kata modernisasi. Belajar adalah tentang proses. 

Proses dalam pembelajaran itulah yang sebenarnya memberi kita wawasan dan pengetahuan. Karena belajar itu tidak berujung. Selama kita hidup kita akan terus belajar dan belajar supaya menjadi pribadi yang lebih baik.