Monday, May 15, 2017

Candi Kalasan, Sebuah Penghormatan Bagi Jiwa Yang Bebas


Jalanan siang itu sangat padat, truk dan bus saling salip, saya yang hanya menaiki sebuah motor matic tua melaju dengan kecepatan seadanya, tak sampai 40km/jam, mungkin.

Tepat di pinggir jalan raya, saya dikejutkan oleh sosok bangunan berbatu tinggi menjulang. Bangunan batu tersebut tampak kontras dengan rumah-rumah semen di sekelilingnya.

Bangunan berbatu itu merupakan sebuah candi yang bernama Candi Kalasan, sesuai nama tempat dimana candi itu berada. Candi ini terletak persis di pinggir jalan raya Jogja - Solo, di Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. 

Baca Juga: Candi Gebang, Si Kecil Yang Penyendiri
Penasaran, saya langsung masuk gang yang mengarah ke candi tersebut. Sebuah pos retribusi  berukuran 2 x 2 meter yang terbuat dari bambu tampak sepi. Hanya ada sebuah sepeda motor yang diparkir di sebelahnya. Seorang pria paruh baya di dalam pos itu tersenyum ramah kepada saya.

Pos retribusi Candi Kalasan Yogyakarta

"Sendirian saja Mas?" Tanya bapak itu.

"Iya Pak, cuman mampir, kebetulan tadi lagi di jalan liat candi jadi sekalian mampir liat-liat" balasku sambil menyodorkan selembar uang Rp. 5000 untuk tiket parkir dan retribusi. Murah.

Saya menitipkan jaket kulit suede berwarna coklat yang sudah agak lusuh ke bapak penjaga bernama Supri itu.

Candi Kalasan merupakan Candi umat Buddha yang didirikan pada tahun 778 Masehi sebagai sebuah vihara dan penghormatan terhadap bodhisattva wanita yang bernama Tarabhawana atau Dewi Tara (menurut prasasti Kalasan).

Dewi Tara merupakan lambang dari kebebasan/ kemerdekaan jiwa, dan menyatakan keberhasilan dan prestasi hidup yang sejati dan bersifat suci. Dewi Tara juga merupakan lambang dari belas kasih serta kehampaan (Śūnyatā, ketidak beradaan dan ketidak kekalan duniawi) yang diajarkan dalam agama Buddha. 

Candi Kalasan di Jogja ini adalah peninggalan dari Dinasti Syailendra di Sumatera, sama dengan Candi Borobudur, sebagai bukti bahwa pengaruh kerajaan Sumatera pada waktu itu juga sampai ke tanah Jawa. Pembangunan candi ini diperintahkan oleh Maharaja Tejapurnaparna Panangkaran.


Saya berjalan memasuki kawasan Candi yang dikelilingi oleh rerumputuan. Suasana sangat itu memang sangat panas. Namun hawa panas tersebut langsung ditepis oleh hembusan angin sejuk dari pohon-pohon di sekitar candi.

Candi Kalasan ini berbentuk persegi dan belum sempurna. Banyak bagian-bagian candi yang belum lengkap. Atapnya berbentuk segi delapan dengan puncak yang berbentuk dagoba (stupa) namun kondisinya sudah rusak, tidak berbentuk stupa lagi.


Terdapat empat bilik / ruang penyembahan di Candi Kalasan tapi tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Lagian tidak ada tangga menuju bilik tersebut karena bagian tangganya juga rusak. Kata penjaga Candi Kalasan, Pak Supri, dulu bilik utama Candi Kalasan terdaoat sebuah patung Dewi Tara dari perunggu setinggi enam meter namun sudah hilang karena di curi pemburu harta karun yang tak bertanggung jawab.

Tubuh dan atap candi dihias dengan ukiran-ukiran yang sangat indah. Terdiri dari relung-relung, sulur-sulur, arca-arca Budha, dagoba-dagoba dan arca Gana, yaitu manusia kerdil berperut buncit yang biasanya memikul barang.


Bajralepa, lapisan pengkilat candi yang misterius

Salah satu bagian Candi Kalasan yang menarik adalah bagian tembok pada sisi luar candi yang bernama Bajralepa. 


Bajralepa adalah semacam plester atau pelapis untuk membuat relief pada candi mengkilat. Di Candi Kalasan, lapisan semacam vernis tersebut di lapiskan pada relief berukir rumit yang menyerupai motif batik pada empat sisi bangunan candinya.

Menurut Pak Supri, Bajralepa tersebut akan menyala memantulkan sinar bulan, terutama saat bulan purnama. Bagian tembok tersebut akan bersinar putih keemasan, kontras dengan bagian tembok candi lainnya.

Bagian candi yang di lapisi Bajralepa tampak lebih putih daripada bagian lainnya. Katanya jika bulan purnama akan bersinar putih memantulkan cahaya bulan.
Bajralepa inilah yang membuat Candi Kalasan berbeda dengan candi-candi lainnya. Hanya ada dua candi yang menggunakan pelapis Bajralepa, yakni Candi Kalasan dan Candi Sari.

Menurut Pak Supri, tim arkeolog sudah berusaha membuat tiruan Bajlarepa ini namun tidak berhasil. Istilah 'Bajralepa' itu sendiri berasal dari beberapa prasasti yang menjelaskan teknik pembuatan candi.

Mengenai hiasan ini, Bernet Kempers dalam bukunya, Indonesia Selama zaman Hindu, halaman 25, menyebutkan bahwa cara pembuatan hiasan yang cukup rapi dan memikat ini menunjukkan bahwa pada masa pembuatan candi ini memiliki pemahat dan ahli plester bangunan yang sangat cakap. Bahkan lebih cakap dari ahli bangunan jaman sekarang.

Selain bangunan utama Candi Kalasan, di sekelilingnya terdapat tiga buah candi kecil berbentuk stupa yang kondisinya tidak utuh.


Saat saya berjalan mengitari Candi Kalasan, saya juga menemukan banyak bebatuan yang tersusun rapi yang merupakan bagian-bagian dari candi yang belum mendapatkan pasangannya. Jadi untuk sementara batu-batu tersebut, yang sebagiannya merupakan batu berukir yang indah hanya ditata sedemikian rupa sampai ada pasangannya.

Barangkali asyiknya jadi arkeolog itu seperti bermain puzzle. Kita akan mendapatkan sebuah kepuasan saat berhasil menyusun puzzle tersebut.

Sendang dan Pohon Beringin

Setelah puas mengitari Candi Kalasan, saya kembali ke pos retribusi dan sedikit ngobrol tentang Candi Kalasan dengan Pak Supri. Pak Supri ini orangnya sangat ramah, dan tidak segan-segan memberikan penjelasan yang sangat detil mengenai Candi Kalasan.

Di depan Candi ada sebuah pohon beringin yang telah roboh akibat terjangan angin puting beliung. Pohon tersebut di biarkan saja disitu, tidak di pindahkan entah karena alasan apa.

Batang pohon beringin yang tumbang di biarkan tergeletak di area candi
Tapi, menurut Pak Supri, dulu pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, pohon beringin tersebut dikelilingi oleh sebuah sendang (kolam kecil, biasanya untuk mandi) yang bersumber dari mata air di dekat candi. Sendang tersebut akhirnya diurug (ditutup) dan diubah jadi taman rumput. Sementara mata airnya di jadikan sebuah sumur. Sampai saat ini, banyak pengunjung dengan tujuan mistis jika mengunjungi Candi Kalasan pasti akan membawa air dari mata air tersebut.

Sayang sekali padahal sebuah sendang di bawah pohon dekat Candi bisa menjadi pemandangan yang sangat indah dan mampu menarik lebih banyak pengunjung ke Candi Kalasan ini.


Obrolan kami akhirnya meluas sampai ke kehidupan pribadinya yang ternyata dulu pernah bekerja menjadi supir bus kota, kemudian menjadi kuli gali candi di bawah para arkeolog, sebelum akhirnya dipasrahkan sebagai petugas penjaga Candi Kalasan.

Matahari yang tadinya tepat di atas kepalaku kini agak condong ke arah barat. Saya berpamitan dengan Pak Supri dan berjanji lain kali akan mampir lagi, sekedar berteduh sambil memandangi sisa-sisa kejayaan masa lalu Indonesia yang tak lekang dimakan oleh waktu.

Penjaga Candi Kalasan Yogyakarta