Jumat, 05 Mei 2017

Dongeng Dari Negeri Sabana : Simalakama Adat Leluhur


...Lanjutan Dari Dongeng Dari Negeri Sabana: Nyanyian Anak-Anak Rumput

Kakek Yoha meyuruh cucunya untuk mengambilkan sirih pinang di dalam rumahnya. Sejurus kemudian, satu set sirih pinang sudah ada di depan saya. Kakek lantas mengambil sebuah pinang dan mengunyahnya disusul dengan sedikit taburan kapur. Penasaran, saya pun ikut mencobanya. Beberapa detik setelah mengunyanya, mulut terasa seperti terbakar dan kepala agak melayang-layang. Sensasi pedas dan sengar beradu di dalam mulut. Sesekali saya meludahkannya ke tanah yang langsung berwarna merah, kemudian kembali mengunyahnya. Satu kali mencoba, saya langsung mulai akrab dengan rasanya. Setelah pinang pertama habis, saya lanjutkan pinang kedua sambil sesekali menghisap rokok kretek yang saya bawa. 

Salah satu metode psikologis untuk mengakrabkan diri dengan seseorang adalah dengan cara imitasi atau mirroring. Ketika kita melakukan suatu hal yang sama dengan yang dilakukan seseorang, maka orang yang kita tiru akan merasa ada kedekatan personal dengan dengan kita. Cara ini sangat efektif ketika saya mencoba berbaur dengan masyarakat di setiap tempat yang saya kunjungi. Selain itu, dengan melakukan apa yang orang lain lakukan -terutama budayanya- tentu akan menambah pengalaman hidup kita.

Kami saling bercerita dan sesekali diselingi dengan candaan yang membuat kakek Yoha terkekeh dan memberikan senyumannya yang hangat. Saya banyak bertanya tentang budaya orang Sumba kepadanya. Tentunya seorang kakek yang usianya di atas enam puluh tahun ini paham betul akan budayanya sendiri. 

Pertanyaan-pertanyaan saya hanyalah pertanyaan dasar tentang budaya dan istiadat orang Sumba. Seperti kenapa ada kubur batu, kenapa banyak tanduk kerbau di rumahnya, kenapa banyak orang yang membawa parang di kota, dan kenapa kenapa lainnya. Seperti seorang anak kecil yang sedang di bacakan dongeng oleh kakeknya, saya menyimak penjelasan kakek Yoha dengan antusias. 

Kubur batu yang banyak saya lihat saat berada di Sumba merupakan sebuah peninggalan budaya leluhur. Kubur batu merupakan warisan budaya megalitikum yang berkembang di Pulau Sumba sejak 4500 tahun yang lalu. Maka tak heran jika budaya kubur batu di Pulau Sumba ini dinobatkan menjadi salah satu situs warisan budaya dunia. Selain sebagai sebuah produk budaya, kubur batu juga mencerminkan status sosial masyarakatnya. Semakin megah dan mewah kuburnya, maka semakin tinggi status sosialnya. 

Sebagian masyarakat Sumba masih menganut kepercayaan Marapu yang bercampur dengan agama Nasrani. Di rumah kakek Yoha, saya melihat sebuah salib yang tergantung di dalam rumahnya. Salib itu berpadu mesra dengan kubur batu yanga ada di luar rumah.

Marapu adalah sebuah kepercayaan asli orang Sumba yang memuja arwah nenek moyang serta meyakini bahwa roh-roh leluhur adalah penghubung antara mereka yang masih hidup dengan Sang Pencipta. Karena itulah orang Sumba mengubur jasad kerabat mereka yang telah meninggal dalam sebuah kubur batu di dekat rumahnya supaya bisa selalu dekat dengan leluhurnya. Hal inilah yang membuat orang Sumba bersifat sangat kekeluargaan bahkan dengan orang asing sekalipun.


Sebuah totem untuk menghormati roh nenek moyang
Rela hidup sederhana demi adat

Kakek Yoha menjelaskan, jika seorang kerabat meninggal dunia maka akan diadakan sebuah upacara kematian dengan membuat sebuah kubur batu yang diiringi dengan mengorbankan hewan-hewan ternak seperti babi dan kerbau. Semakin banyak hewan yang dikorbankan maka dipercaya akan membuat roh yang telah meninggal semakin bahagia di dunia sana. Selain itu banyaknya hewan kurban juga berarti status sosialnya semakin tinggi. 

Hewan kurban, selain di korbankan oleh keluarga sendiri juga di sumbangkan oleh kerabat-kerabatnya. Hewan kurban yang berasal dari sumbangan ini nantinya harus dikembalikan atau di bayar balik saat keluarga si penyumbang ada yang meninggal. Jumlah harus sama atau lebih dari yang dulu pernah di sumbangkan. 

Sistem semacam ini, kata Kakek Yoha, membuat banyak masyarakat Sumba terjebak dalam kemiskinan karena seumur hidupnya harus melunasi hutang sumbangan yang telah di terima
Sebenarnya, dulu Bupati Sumba Barat telah membuat peraturan yang mengatur tentang jumlah maksimal hewan yang boleh di sumbangkan. Namun peraturan itu tampaknya tidak banyak berpengaruh bagi masyarakat yang sangat memegang teguh budayanya ini.

Kakek Yoha melanjutkan, selain kematian, hal lainnya yang membuat banyak orang Sumba hidup dalam kesederhanaan adalah Belis pernikahan. Pernikahan di Sumba, terutama Sumba Barat dan Sumba Barat Daya merupakan perkawinan antar suku. Ada suku penerima gadis yang di sebut 'doma' dan suku pemberi gadis yang disebut 'loka'. Kedudukan suku ini tidak boleh dirubah-rubah menjadi sebaliknya. Kedudukan suku pemberi gadis juga lebih tinggi. Maka dari itu, perkawinan adat Sumba bisa disebut sebagai perkawinan matrilineal. 

Belis merupakan mahar perkawinan yang harus dibayarkan oleh doma kepada loka sebagai tanda serah terima berpindahnya anak wanita yang selama ini telah dirawat dengan sebaik mungkin oleh keluarganya kepada calon suaminya. Belis tidak hanya di berikan oleh keluarga laki-laki saja. Keluarga perempuan juga harus memberi balasan atas belis yang telah di terima.

Belis dari keluarga laki-laki biasanya berasosiasi maskulinitas, seperti kerbau dan kuda, parang dan tombak, serta mamoli, perhiasan dari emas yang biasanya digunakan sebagai anting-anting. Sementara untuk pihak perempuan membalasnya dengan benda-benda feminim seperti babi dan kain tenun. 

Yang menarik dari mamoli ini adalah bentuknya yang menyerupai rahim perempuan. Mamoli juga sebagai berfungsi simbolis sebagai pengganti anak perempuan yang akan di bawa pergi. Jumlah belis bervariasi tergantung tingkat sosial calon mempelai. Untuk hewan ternak, kelas bangsawan biasanya meminta tiga puluh ekor. Sementara untuk kelas biasa sekitar lima sampai lima belas ekor hewan ternak. 

Belis balasan dari mempelai perempuan salah satunya adalah kain tenun.
Seiring berjalanannya waktu dan cepatnya modernisasi. Peraturan-peraturan adat ini semakin lama semakin melunak. Kakek Yoha mengatakan salah satu anaknya bahkan ada yang menikah dengan orang Bima. "Anak saya satu menikah sama orang Sumbawa, biar tidak mahal" katanya sambil terkekeh. 

Memang jika diteliti secara sekasama, ada istiadat orang Sumba ini sungguh rumit dan juga mahal. Mungkin rumah-rumah sederhana yang banyak saya jumpai di Sumba merupakan akibat dari mahalnya biaya adat di sini. Walau seperti apa pun susahnya kehidupan mereka, orang Sumba tidak bisa begitu saja meninggalkan adat mereka. Mereka tetap harus menjaga dan melestarikan budayanya sembari terus berjuang mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin mahal.  Seperti buah simalakama, mereka tidak bisa meninggalkan adat, namun mereka akan terus hidup dalam kekurangan jika tetap bersama adat.

Ah, siapakah saya menilai kekurangan dan kemiskinan seseorang yang sifatnya subjektif itu. Asalkan mereka mampu tersenyum hangat seperti itu, toh tampaknya mereka bahagia. Meski dari kacamata ekonomi, keadaan mereka akan disebut sebagai 'miskin'.

xxxxxxxxxxx