Jumat, 26 Mei 2017

Berburu Barang Antik di Hari Pasaran Pancawara Yogyakarta


Salah satu hobi saya kalau sedang tidak ada kerjaan adalah berburu barang-barang vintage, antik, jadul, dan unik sekedar sebagai penghias rumah atau di alih fungsikan jadi sesuatu yang lebih yahud, istilah bulenya 'upcycle'. Tempat berburu barang-barang tersebut di Jogja selain di Pasar Klitikan, Pasar Niten Bantul , dan Pasar Senthir adalah di Pasar Pasaran Pancawara.


Pancawara merupakan nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari lima hari dalam budaya Jawa dan Bali. Contohnya Pasar Pon, Pasar Kliwon, Pasar Wage, dan seterusnya. Pasar tersebut tempatnya berbeda-beda sesuai harinya. Pasar Pon berlangsung di Pasar Godean, Kliwon di Pasar Bantul dan Cebongan, Legi di Pasar Kotagede, Pahing di Pasar Sleman, dan Wage berlangsung di Pasar Tegalrejo.

Bedanya dengan pasar biasa, pasar pancawara ini menjadi ajang para penjual barang bekas untuk menggelar lapaknya. Penjual berasal dari Jogja maupun kota tetangga seperti Magelang, Purworejo, dan Solo. Diluar negeri pasar seperti ini dikenal dengan nama flea market atau pasar lalat karena para penjual ini seperti lalat, hinggap dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menjajakan barang dagangan mereka. Atau bisa juga diartikan secara harfiah sebagai pasar dimana memang banyak lalatnya, karena barang-barang yang dijual ya memang sekelas barang rongsokan.


Dikalangan para pecinta barang-barang vintage ada istilah 'Grandma had it. Mom threw it out. I bought it back'. Kalimat tersebut memang sangat tepat karena saya benar-benar menyukai barang yang notabene pernah jadi benda kesayangan nenek. Kesan retro vintage yang dipancarkan oleh barang-barang tersebut saat dipajang di salah satu sudut rumah mampu membuat tuan rumah, bahkan tamu terpukau oleh nuansa nostalgianya.

Kenapa di pasar seperti ini banyak barang-barang vintagenya? Karena, barang vintage itu kan sebenarnya adalah barang bekas namun usianya sudah puluhan tahun. Nah di pasar seperti ini, barang bekas dari yang baru diproduksi sampai yang berasal dari jaman bahoela ada semua, tinggal bagaimana kita pintar-pintar memilihnya saja. Biasanya si penjual sudah memisahkan antara 'barang baru' dengan 'barang lama', atau malah ada yang mengkhususkan hanya menjual barang vintage saja.

Hari pasaran yang sering saya kunjungi untuk berburu barang antik adalah pasar pahing di Pasar Sleman karena dekat dengan rumah. Saking seringnya, pedagang disitu sampai hafal dengan saya. Jika saya berkunjung pasti sudah disiapkan barang-barang pilihan untuk ditawarkan.

Pasar Pahing di Sleman ini terletak sebelum Polres Sleman, di sebelah kiri jalan. Pedagang menggelar lapaknya di sepanjang jalan depan pasar. Ada puluhan pedagang yang menjajakan dagangannya dengan menggelar terpal di jalanan. Barang yang dijajakan antara lain adalah pakaian baru dan bekas, onderdil motor, alat-alat rumah tangga, buku bekas, obat-obat tradisional, dan tentu saja barang-barang jadul dan antik.


Setiap hari pasaran pasti pasar akan dipenuhi oleh warga. Jangan dikira bakal sepi. Ramainya pasaran ini hampir menyamai ramainya konser Raisa vs Isyana loh! Saya harus bejubel berdesakkan dengan pengunjung lain. Bahkan berebut cepat demi mendapatkan barang incaran karena barang yang dijual disini kebanyakan one and only, alias satu-satunya, tidak ada yang menyamai.

Jika telah lelah menyusuri dari ujung ke ujung pasar ini maka saya biasanya akan memesan segelas es kopi susu dan semangkuk soto pedas di warung-warung sepanjang jalan pasar tumpah ini. Atau kalau ingin jajanan pasar khas Jogja tinggal masuk ke pasar utama saja, karena didalam pasar masih banyak penjual makanan tradisional.

Oya jangan lupa kalau mau berkunjung harus berangkat pagi, sekitar jam 7 karena kalau kesiangan bakal panas dan barang yang bagus-bagus biasanya sudah sold out. Pedagang pasar pancawara baru akan mengemasi dagangan mereka pukul 11 siang atau jika matahari sudah dirasa terlalu panas.


Pasar pancawara di Jogja ini bisa jadi wisata alternatif bagi pembaca yang kebetulan mengunjungi Jogja pada salah satu hari Pasaran. Bahkan, Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi Yogyakarta sudah ada rencana untuk membuat pasar pasaran di Jogja ini menjadi salah satu tujuan wisata utama hanya saja terkendala infrastruktur pendukung obyek wisatanya saja.

Mari kita lestarikan pasar tradisional di Yogyakarta supaya tidak tergerus oleh pesatnya pembangunan pasar modern. Karena, belakangan ini Jogja nampaknya menjadi lokasi ajang lomba bangun Mall.