Selasa, 04 April 2017

Menyusuri Jejak Pengungsi Vietnam di Batam


Pasti kalian sering lihat atau minimal mendengar tentang perang Vietnam kan? biasanya film-film jaman dulu sering mengangkat tema tentang perang Vietnam melawan Amerika dimana si Amerika selalu jadi lakonnya. Tahukah kalian jika Amerika tidak memenangkan perang ini dan harus pulang ke negara mereka? Vietnam dengan strategi perang gerilya yang mencontoh strategi perang Indonesia saat melawan penjajahan Belanda akhirnya berhasil mengulur waktu dan membuat Amerika harus meninggalkan Vietnam dengan tangan hampa.

Perang Vietnam tersebut berdampak pada banyaknya pengungsi yang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka untuk menyelamatkan diri ke negara-negara tetangga meninggalkan harta bendanya demi menyelamatkan diri dari hantaman bom dan letupan timah panas. Salah satu tempat pengungsian mereka adalah Indonesia, tepatnya di pulau Batam.

Ini bukan di Vietnam, tapi di Batam
Saya di ajak oleh teman saya mengunjungi bekas tempat pengungsian tersebut yang terletak di Pulau Galang, Batam. untuk menuju Pulau Galang saya harus melewati sekitar enam jembatan antar pulau. Jembatan pertama yang saya lewati adalah jembatan Barelang, jembatan ikonik Pulau Batam yang menjadi salah satu tujuan wisata Pulau Batam.

Sepanjang perjalanan, yang terlihat hanyalah bukit-bukit tandus yang terlihat eksotis. Saya melewati satu-satunya daerah perkebunan di Batam yaitu di Pulau Rempang. Kenapa satu-satunya? karena tanah di daerah lain di batam tidak ada yang cocok untuk dijadikan tanah garapan. Selain itu juga pemerintah kota batam berfokus pada pembangunan kawasan industri sehingga tidak begitu peduli dengan sektor pertanian/perkebunan. Jalanan sangat sepi, hampir tidak ada permukiman, jadi hati-hati saja kalau kendaraan mogok atau bocor ban. Untung saja kendaraan kami saat itu tidak ada masalah.

Kera penyambut tamu di Camp Vietnam
Sesampainya di Pulau Galang, setelah melewati jembatan ke-enam, di sebelah kanan jalan ada papan petunjuk Camp Vietnam. Nah di daerah sini barulah mulai terlihat ada beberapa permukiman penduduk dan warung-warung kecil. Memasuki daerah camp, daerah yang tadinya hanya perbukitan tandus mendadak berubah menjadi daerah hutan tropis yang rimbun. Dari pintu masuk / retribusi, Bangunan yang paling pertama menyambut saya adalah sebuah Vihara yang masih difungsikan sampai saat ini. Banyak wisatawan yang mengunjungi vihara ini untuk sekedar berfoto atau memang hendak sembahyang. Selepas dari Vihara saya langsung menuju ke bangunan utama yakni Museum Camp Vietnam. Saya di sambut oleh banyak gerombolan kera yang menunggu di pinggiran jalan berharap dilempari makanan oleh wisatawan.

Makam dengan lambang swastika
Saya melihat ada sebuah komplek pemakaman dengan logo swastika. Logo ini mendadak mengingatkan saya kepada simbol paling terkenal didunia, yakni simbol Nazi. Kami parkir di pinggir jalan, disebelah sebuah monumen kapal laut yang mewakili jenis kapal yang digunakan para pengungsi Vietnam menuju pulau-pulau Melayu.

Kapal yang pernah digunakan oleh pengungsi Vietnam menuju indonesia lewat jalur laut.
Tujuan utama Camp Vietnam adalah museum, monumen kapal, dan beberapa bangunan bekas pengungsian salah satunya adalah sebuah gereja. Suasana hari itu sangatlah panas, membuat saya tidak betah berlama-lama di camp ini karena memang tidak banyak yang bisa saya lakukan disini. Ingin rasanya segera mampir ke pantai-pantai Pulau Barelang yang jumlahnya puluhan dengan papan petunjuk berderatan di sepanjang jalan yang saya lewati tadi. Yang paling ingin saya kunjungi adalah pantai paling ujung di deretan pulau-pulau Barelang.

Pemandanan dari pelataran Vihara

Suasana di dalam museum.

Foto ex-penghuni camp pengungsi Vietnam. Biasanya setiap tahun ada beberapa dari bekas penghuni yang datang ke Batam untuk bernostalgia.

Gereja di Ex-Camp Vietnam