Sabtu, 08 Oktober 2016

Cara Mendapatkan Air Bersih di Alam Liar


Saat kita berada di alam dimana tidak ada sumber air langsung seperti sungai, danau, dll, mungkin kita dapat mencoba metode ini. Dehidrasi akan membunuh kita jika kita tidak ada persediaan air sama sekali ketika berada di alam liar yang ganas, dimana "hukum yang kuat yang bertahan" berlaku disini. Secara medis, manusia dapat bertahan tanpa makan selama satu bulan itu pun jika kita terus konsisten minum air. Namun sayangnya berbeda jika yang kita hadapi adalah kelangkaan air. Manusia hanya bisa bertahan tiga sampai enam hari tanpa air. Nah, kali ini saya akan berbagi mengenai salah satu cara mendapatkan air di alam liar yang bersumber dari sodara dengan akun Blue-Jazz di Instuctables.com
Untuk membuatnya, kita butuh :
  • Sekop, untuk menggali tanah. Tidak harus sekop sih, apa aja bisa dijadikan alat, termasuk tangan.
  • Wadah, kaleng bekas atau apa saja yang bisa digunakan untuk menampung air.
  • Tumbuhan / Daun, 
  • Plastik / terpal yang agak lebar.
  • Batu atau jika tidak ada bisa memakai tanah bekas galian sebagai penahan.
Langkah 1 : Gali Lubang
Gali tanah dengan ukuran sekiranya hampir sama dengan yang ada di gambar. Tidak perlu terlalu besar. Kedalaman lubangnya sekitar setengah meter. Galilah lubang ini pada malam / pagi hari karena jika siang hari tubuh akan mudah berkeringat sehingga air dalam tubuh kita akan cepat berkurang dan itu sangat berarti jika kita berada di tempat yang tidak ada sumber air sama sekali.Jika lubangnya sudah tergali, taruh wadah kaleng tadi ditengah-tengah lubang. Wadahnya harus cukup dangkal, jangan terlalu dalam. kira kira jaraknya sekitar 5 cm dari ujung lubang.


Langkah 2 : Dedaunan
Cari tumbuhan dengan daun yang berwarna hijau, semakin hijau dan lebar daunnya semakin baik, contohnya daun pisang. Taruh daunnya didalam lubang disektar wadah tadi. Pastikan lubang itu penuh dengan daun, jangan sisakan ruang sedikitpun. Saat matahari terbit sampai matahari tenggelam akan membuat air yang ada didalam tumbuhan ber-evaporasi dan terkumpul di atas penutupnya.


Langkah 3 : Penutup
Pastikan plastik penutupnya meregang menutupi keseluruhan lubang. Taruh pemberat di sisi plastik, dan taruh satu kerikil pemberat di bagian tengah di atas wadah sehingga membentuk kerucut kebawah dengan bagian tengahnya adalah wadah penampung airnya. hal ini supaya air hasil evaporasi tumbuhan akan terpusat dan jatuh di wadah penampung air.


Saat malam tiba, cek apakah air sudah terkumpul. Jika sudah maka nikmatilah kesegarannya dan hilangkanlah dahagamu.

Kamis, 06 Oktober 2016

Wisata Pantai di Batam, Pantai Nongsa (2 - Fin)




Saya kembali lagi ke perempatan yang ada Pos Infromasi Pariwisatanya dan menanyakan arah ke Pantai Nongsa yang ada makan Nong Isa-nya. Penjaganya dengan ramah mengarahkan saya untuk lurus terus ke arah barat nanti di kanan jalan akan ada papan penunjuk arah Pantai Nongsa. Kembali saya pacu motor kali ini agak ngebut karena sudah sore. Jalanannya kali ini lebih lebar dan lebih halus dari sebelumnya. Kanan kiri jalan juga ditumbuhi pohon-pohon lebat dengan akarnya yang besar. Saya pelankan laju motor ketika melewati sebuah jembatan dengan sungai air payau / sungai yang masih menyambung dengan laut dibawahnya yang cukup jernih. Karena terbius dengan pemandangannya sayapun berhenti sebentar di jembatan itu. Banyak orang, muda-mudi berjejer dipinggiran jembatan saling berselfie bersama. Setelah saya perhatikan lagi ternyata ada pelabuhan / dermaga di bawah dengan satu kapal ferri kecil berlabuh. Tidak mau kalah dengan orang-orang disekitar saya pun ikut mengambil foto pemandangan dari jembatan tersebut karena matahari yang hampir tenggelam terlihat indah dari jembatan ini.



Lanjut perjalanan sampai di sebuah papan bertuliskan “Pantai Nongsa” dan “Makam Nong Isa” di sisi kanan jalan sebuah pertigaan. Saya ambil jalur kanan sesuai dengan papan tersebut. Sekitar 50 meter di kanan jalan terdapat sebuah pelataran parkir makam Nong Isa berekatan dengan masjid. Saya melaju lurus dan tampaklah deretan pohon kelapa dan warung-warung pinggir pantai. Pantai Nongsa ini cukup panjang dengan saung-saung diatas air yang seakan-akan menyekat satu pantai ini menjadi beberapa pantai. Satu hal yang dsayangkan adalah sampahnya buanyak banget! walaupun sudah ada tulisan dilarang buang sampah tapi tetap saja ada sampah disepanjang hamparan pasir putihnya. Banyak kapal yang bersandar di peraduannya sambil terombang-ambing ombak yang bergerak pelan. Nampaknya kapal-kapal tersebut merupakan kapal penyeberangan menuju Pulau Putri, 15 menit perjalanan menggunakan kapal tradisional bermesin solar. Sayangnya jam sudah terlalu sore jadi saya tidak bisa menyeberang ke pulau putri. Pelabuhan menuju Pulau Putri sendiri terletak di paling ujung utara pantai. Saya mampir di salah satu warung dan memesan segelas kopi hitam sebagai pencair suasana dan pelicin kata-kata. Saya mengobrol beberapa hal tentang Pantai Nongsa ini dengan si abang penjaga warung, alih-alih sebenarnya saya ingin menitipkan tas, hehe.


Saya jalan dari ujung ke ujung, mendengarkan deru angin pantai yang syahdu karena sore hari ini Pantai Nongsa benar-benar sepi, hanya ada beberapa pengunjung saja, salah satunya adalah rombongan anak sekolah yang sedang asik bermain volley di depan sebuah penginapan. Setelah puas, saya kembali ke warung tadi. Abang warung masih asik bermain dengan asap rokoknya sembari menyapa saya. “Udah puas bang?” tanya dia dengan nada seolah kami sudah berkawan lama. “Sebenarnya belum puas aku bang, tapi sudah mulai gelap ini, besok lagi saja kalau ada waktu aku main sini lagi” jawabku. Setelah ngobrol-ngobrol sedikit, saya pun beranjak pulang setelah sebelumnya membayar kopi nikmat ini yang cuma seharga Rp. 5000 saja, tidak pakai mahal, parkir disini juga gratis, pokoknya asik lah Pantai Nongsa ini.