Senin, 19 September 2016

Wisata Pantai di Batam, Pantai Nongsa (1)




So..akhirnya saya sampai di persinggahan tepat pukul setengah sepuluh. Masih terlalu pagi untuk kemana-kemana dan motor baru tersedia jam dua siang. Akhirnya siang itu saya habiskan untuk sekedar bermalas-malasan sambil browsing tempat-tempat yang wajib di kunjungi di Batam. Saya juga download offline maps-nya Google Maps siapa tau nanti tidak ada sinyal disana. Keseriusan saya bermalas-malasan terganggu dengan panasnya udara di Batam, sampai anginnya juga ikut panas. Menurut dugaan saya sebagai seorang lulusan Geografi (cieee sombong) ini karena Batam dikelilingi oleh laut dan kebetulan di daerah saya tinggal tak nampak pohon-pohon besar sebagai pemasok oksigen, alhasil udaranya panas lembab gimana gitu.

Motor sudah ditangan sekarang saatnya ngebolang..sendirian..sedih.. L . Ga asiknya bepergian sendiri tuh ga ada temen ngobrol, ga ada temen buat bingung-bingung bareng, ga ada temen buat iuran hotel / transport, dan yang paling penting ga ada temen yang ngefotoin kita. Tapi bepergian sendirian enaknya lebih fleksibel semau kita sendiri. Gimanapun tetap lebih enak pergi bareng sohib-sohib kece kita. Kebetulan saya memakai motor punya keluarga, tapi kalau kalian butuh sewa motor / mobil banyak banget tersedia di Batam terutama di pusat kota daerah Batam Center atau Nagoya. Harganya bervariasi, untuk motor sekitar Rp. 70.000 – 100.000, untuk mobil Rp. 200.000 – 400.000. Kalau kalian bingung tinggal search di google, banyak banget iklannya.


Untuk sore hari ini saya memutuskan pergi ke Pantai Nongsa karena jaraknya cukup dekat, Cuma 15 kilometer dengan waktu tempuh 20 menit. Jalannya ngga ribet dan mudah diikuti. Kalau dari Bandara, kita tinggal keluar dan belok kanan ke Jl. Hang Tuah (arah utara). Lurus terus ikuti jalan sampai pertigaan baru belok kiri lewat Jl.Hang Jebat. Dari sini tinggal lurus terus sampai nemu perempatan dengan pos Informasi Pariwisata ditengahnya. Kondisi jalannya bisa mulus dan lebar, pokoknya nyaman lah berkendara di Batam, jalannya bagus-bagus.

Dari Pos Info Wisata saya ambil jalur kanan. Pohon-pohon di kanan kiri jalan mulai rimbun dan lebat, enak di pandang daripada daerah sekitar Bandara yang isinya bukit tandus dengan debu-debu berterbangan. Saya mengikuti jalan utama sampai di “Nongsa Village”. Saya kira waktu liat di peta “Nongsa Village” itu sebuah perkampungan tapi ternyata adalah sebuah Resort / Penginapan dimana kalau kita  mau ke pantainya itu harus bermalam dulu. Duuh dek, “terus gimana dong ini pak satpam? saya jauh-jauh dari Jogja lho” tanya saya. “Abang balik lagi aja nanti di kiri jalan ada jalan tanah, nah masuklah, disitu ada pantai juga Cuma lagi dibangun aja. Gak kalah indah kok bang”. "Kalau lurus kemana bang?" tanyaku lagi. "oo, kalau lurus ke resort Turi Beach bang". Okelah akhirnya saya putar balik menuju jalan yang ditunjukan pak satpam tadi, pantai yang bukan resort, pantai untuk kaum jelata seperti saya, pantai yang masih milik masyarakat umum, bukan hanya untuk masyarakat ekslusif.


Jalan tanah berwarna merah tampak kontras dengan jalan aspal yang saya lewati tadi. Tampaknya daerah pantai ini sedang dibangun karena ada bangunan semacam kolam air mancur yang baru selesai dipondasi. Cuma sekitar 100 meter dari jalan utama nampaklah sebuah pantai dengan pasir putih dan ombak yang sangat tenang. Beberapa bapak terlihat tengah asyik memancing sementara anak-anak mereka dibiarkan bermain pasir pantai. Beberapa anak muda kampung sekitar sedang asik duduk-duduk di sebuah kursi dibawah pohon sambil bergitar dan menyanyikan sebuah lagu melayu yang saya tidak pernah dengar sebelumnya.

Inilah Pantai Kampung Nongsa atau Pantai sebelah “Nongsa Village”. Suasananya sangat tenang dan syahdu apalagi ditambah dengan lagunya Payung Teduh yang sedang saya dengarkan lewat earphone. Ombaknya bergerak sangat pelan. Diseberang sana terlihat samar gedung-gedung bertingkat kepunyaan negeri tetangga Singaparna. Ada sebuah ayunan sederhana yang hanya diikatkan pada ranting pohon. Ayunan tersebut begitu menggoda untuk diduduki. Sambil ayun perlahan-lahan, kunikmati pantai tenang ini bersama secangkir kopi hangat dan sebatang rokok lintingan sendiri. Berasa jadi anak reggae.


Jam menunjukkan pukul setengah lima. Saya harus segera beranjak pindah ke pantai lainnya yang masih berada di daerah Nongsa dikarenakan pantai ini menghadap agak ke timur jadi tidak ada sunset disini. Tujuan berikutnya adalah daerah “Nongsa Pantai” dimana saya bisa melihat sunset. Di pantai itu terdapat makam dari “Nong Isa”, salah satu leluhur yang menjadikan daerah ini bernama “Nongsa”. Bersambung….

Galeri : 



Ombaknya sangat tenang.



Dermaga resort "Turi Beach" 
Nasib jalan-jalan sendiri, fotonya pakai timer.

Minggu, 18 September 2016

Jalan-Jalan Wisata Pulau Batam dan Sekitarnya (Intro)



Batam. Siapa sih yang ngga tau Batam? Kota industri dan perdagangan yang ada di bagian barat Indonesa, salah satu pulau terdepan Indonesia yang paling maju diantara pulau garis depan lainnya. Aura dan wangi lembaran rupiah yang cukup kuat di Batam mampu menjadi magnet penarik para perantau dari seluruh Indonesia untuk mencari peruntungan disini. Konon dari sumber yang tidak begitu bisa dipercaya menyebutkan bahwa jumlah perantau di Batam mencapai 75% dari total populasi warga Batam, hampir seperti Jakarta. Jumlah pulau yang ada di Batam mencapai 329 pulau dengan pulau utamanya yakni Pulau Batam, Rempang, dan Galang atau biasa disingkat Barelang. Nama Barelang sendiri menjadi salah satu nama Jembatan yang menghubungkan pulau-pulau ini, yakni Jembatan Barelang yang menjadi salah satu ikon Kota Batam. Katanya, beum afdhol ke Batam kalau belum foto di Jembatan Barelang.

Dari hanya sebuah pulau nelayan orang Melayu menjadi sebuah pulau perdagangan yang sukses, itulah Batam. Dulu katanya orang Melayu yang disebut sebagai “Orang Selat” sudah menempati pulau ini sejak tahun 231 masehi (sumbernya wikipedia) dengan persebaran kampungnya berada di bibir-bibir pantai. Pulau inilah yang menjadi medan perjuangan Laksamana Hang Nadim dalam menumpas penjajahan bangsa Portugis di Kerajaan Melaka. Namanya sekarang menjadi nama bandara dengan landasan pacu terpanjang di Asia yang panjangnya mencapai 4km, mengalahkan Changi dan Narita, yaitu Bandara Hang Nadim, Batam dengan kode iata : BTH.

Gerbang masuk alun-alun Batam
Saya menumpang pesawat Lion Air dari JOG menuju BTH jam 07.00 AM, dengan rasa was-was ketinggalan pesawat karena saya baru check in jam tujuh kurang seperempat, sampai-sampai nama saya berulang kali dipanggil lewat intercomm, hehe. Saya menuju ke nomor bangku dimana saya sudah check in memilih duduk disamping jendela tapi ternyata oh ternyata sudah ada yang punya. Sebenarnya mau saya tegur karena dia merebut tempat duduk saya tapi ya sudahlah karena dia cewek siapa tau bisa dapet nomernya. Bla bla bla ternyata cewek ini orang Aceh yang baru lulus kuliah di Jogja, lumayan dapet nomer :P .


Sampai di Batam jam sembilan pas. Saya sudah dijemput keluarga yang ada di Batam. Begini nih asiknya punya banyak saudara dan teman, bisa numpang-numpang. Dari Bandara menuju rumah keluarga saya sangat dekat, hanya sepuluh menit perjalanan. Namun, ada satu hal yang tidak saya sukai di Batam yaitu mereka menggerus bukit-bukit subur yang asri menjadi rata untuk dibangun perumahan dan ruko-ruko. Sepanjang jalan, yang saya lihat adalah tanah tandus berdebu dengan traktor dan alat-alat beratnya. Pemandangan semacam ini bakal selalu kita lihat jika berkunjung ke Batam terutama di pinggiran kota. Perluasan pembangunan di Batam dilakukan secara masif, kalau di ibaratkan, Batam ini surganya para kontraktor pembangunan. Seakan-akan kota ini sedang ngebut untuk menyaingi tetangganya, Singapura. 


Walaupun pertama agak kecewa dengan pemandangan di Batam untuk pertama kalinya, namun setelah beberapa hari disini saya agak lebih lega karena melihat pusat kota Batam yang asri dan hijau terutama daerah Baloi. Ditengah-tengah kota terdapat daerah resapan air yang berupa danau yang luas dikelilingi oleh pohon-pohon yang rimbun. Pemandangan elok ini bakal kita jumpai jika hendak menuju daerah Batu Aji melewati jalur Simpang Jam. Pemandangan di daerah Nongsa yang terkenal dengan resort dan pantainya yang katanya indah juga ditumbuhi pohon-pohon yang hijau dan rimbun. Mungkin sekarang Batam sedang banyak-banyaknya menelan pil pahit demi kesehatan di masa yang akan datang.

Banyak tempat yang akan saya kunjungi di Batam karena saya cukup lama berada disini. Jalan di batam sangat mudah untuk di hapalkan. Tata kota dan jalannya juga bagus. Beberapa tempat yang saya kunjungi adalah pantai-pantai di Pulau Rempang dan Galang, pantai-pantai di daerah Nongsa, pantai di daerah kota, pulau-pulau di sekitar Batam dan juga wisata belanja. Jadi tetap tunggu kelanjutan kisah saya di Batam, ciao!