Thursday, January 14, 2016

Menyibak Kabut Gunung Beser Purbalingga


Cuaca sore hari ini begitu buruk. Petir bersahut-sahutan di angkasa. Saya hanya bisa memandang pasrah karena acara nge-camp sore ini batal karena hujan . Sebenarnya saya berencana untuk eksplorasi sebuah gunung di Kecamatan Karang Jambu, Kabupaten Purbalingga bersama seorang teman. Sebuah gunung yang terlihat menjulang bila dilihat dari jalan dan belum pernah di eksplorasi untuk kegiatan wisata. Gunung ini juga terlihat di cerita saya sebelumnya saat saya berada di Desa Wisata Limbasari. Nama gunung itu adalah Gunung Beser.

Untuk yang baru belajar naik gunung bisa baca artikel Tips Mendaki Gunung
Rencana nge-camp akhirnya dibatalkan namun kami tetap berencana untuk naik dan mengeksplorasi Gunung Beser pada dini hari. Pukul tiga pagi kami berangkat dari Kota Purbalingga menuju Karang Jambu. Perjalanan ditempuh sekitar satu jam sampai di bawah kaki Gunung Beser dengan jalan naik turun tanpa ada lampu jalan sama sekali begitu memasuki area pegunungan. 

Memasuki kawasan hutan pinus jalan berganti dari jalan aspal menjadi jalan tanah berlumpur yang licin karena habis diguyur hujan. Saking licinnya membuat motor sampai terseok-seok dan jatuh bangun.  Kami berhentikan motor  di pinggir jalan karena jalan didepan sudah tidak dimungkinkan lagi untuk ditempuh motor biasa, setidaknya harus menggunakan motor trail.


Perjalanan mendaki dimulai. Tidak ada siapa-siapa, hanya ada kami berdua dikegelapan hutan pinus ini. Suara burung hantu sayup-sayup terdengar “huuu…huuu”. Tracking jalan Gunung Beser cukup datar, tanjakannya normal, tidak ada yang ekstrem. Namun, walaupun trackingnya mudah tapi cukup membuat saya ngos-ngosan karena belakangan ini kegitan saya hanya tidur dan makan saja, tanpa olahraga.  

Jalan didominasi oleh tanah dan lumpur, sesekali berbatu. Sekitar setengah jam berjalan tanpa berhenti, hutan pinus pun berganti menjadi hutan semak-semak belukar yang tinggi-tinggi dengan puncak yang mulai terlihat dekat.

Akhirnya kami sampai di punggung gunung dimana  sebelah kanan kami adalah jurang, sementara sebelah kiri kami semak belukar. Semak belukar yang tingginya sampai satu setengah meteran ini biasanya oleh warga sekitar dijadikan bahan baku pembuatan sapu atau atap rumah. 

Kami berjalan menyusuri igir / punggung gunung diiring oleh semburat cahaya matahari di depan kami yang masih tertutup badan gunung. Sepanjang perjalanan, kami sempat beberapa kali nyasar  karena mengira jalan tersebut menuju puncak namun ternyata setelah diikuti tidak ada jalan sama sekali. Matahari mulai menjulang tinggi dibalik kabut tebal Gunung Beser.  

Saya menengok jam tangan saya dan waktu menunjukan pukul lima lebih duapuluh menit. Jalan kami semakin cepat karena takut kehilangan moment sunrise yang menjadi tujuan pendaikan ini. Namun semakin jauh kami berjalan, tidak ada tanda-tanda jalan yang menuju ke arah puncak, sementara matahari semakin tinggi. 

Akhirnya kami trabas menaiki bukit yang belum ada jalannya dengan harapan bisa memotong jalan dan bisa berada di posisi yang lebih tinggi. Kami putuskan untuk berhenti dan menikmati terbitnya matahari dengan tidak ngoyo untuk terus sampai kepuncak karena bakal kehilangan momen. Walaupun akhirnya moment sunrise juga tidak kami dapatkan..hiks.


Matras kami gelar, jahe susu kami tuang, rokok kretek kami nyalakan sammbil duduk dan memandangi matahari yang perlahan naik keatas dan menyibak kabut-kabut tebal disekitar yang perlahan membuka pemandangan indah bukit-bukit dibawah sana. 

Kondisi Gunung Beser hampir sama dengan Gunung Prau, Dieng  dimana di bagian atas hanya terdapat puncak-puncak bukit gundul tanpa pepohonan sejauh mata memandang, namun bedanya disini rumput-rumput itu diganti menjadi semak belukar yang tinggi-tinggi karena mungkin ketinggiannya lebih rendah dari Gunung Prau dan air juga melimpah sehingga memungkinkan vegetasi selain rumput tumbuh disini. Gunung Slamet juga terlihat di sebelah barat. Tinggi menjulang dengan gagah bak pelindung dan pengayom kehidupan dibawahnya.


Tak berlangsung lama pemandangan itu kami nikmati karena kabut tebal dari atas kembali turun dan menghalau pandangan. Yah, apaboleh buat, kami tunggu saja sampai siang sambil tidur-tiduran dan bercengekerama asyik. Jam menunjukan pukul tujuh pagi dan langit sudah terang benderang namun kabut-kabut tebal masih menutupi sebagian pemandangan. Kami berkemas  dan kembali melanjutkan pencarian jalan menuju puncak. 

Di tengah jalan kami bertemu dua warga sekitar yang sedang merumput. Kami tanyakan arah jalan menuju puncak kepada dua orang bapak ini. Katanya jalan menuju puncak sudah lama tidak dilalui dan sudah lama juga tidak ada orang / warga sekitar yang muncak karena salah satu bagian gunung yang menuju puncak telah longsor. Wah, kata-kata bapak tadi begitu menurunkan semangat kami. Karena jalan igir ini bila diteruskan hanya akan memutar balik atau tembus ke jalur lain dibawah. Akhirnya kami putuskan untuk putar balik alias turun.


Dalam perjalanan turun kami bertemu lagi serombongan warga yang hendak merumput. Kembali kami sampaikan keluh kesah kami. Nah, dari rombongan ini kami mendapat sedikit pencerahan bahwa ada jalan lain menuju puncak yaitu di perbatas hutan pinus dan semak belukar kami harus belok kanan menuju atas dan melewati pinggir jurang menembus semak belukar. Katanya disitu ada jalurnya. Dengan mengucapkan terimakasih dan hati-hati di jalan, kami melanjutkan penjelajahan kami menuju jalur yang dimaksud bapak tadi. Pas di perbatasan vegetasi, kami menemukan jalur yang dimaksud yang sekarang sudah tertutup semak belukar, dan benar, pinggir jalan tersebut adalah tebing vertikal yang amat curam. Kembali, rasa sesal menjalar, dengan pertimbangan waktu, tenaga, peralatan dan safety equipment yang minim, kami urungkn niat untuk memuncak demi keamanan dan kembali turun.


Saya nyatakan eksplorasi kali ini belum berhasil dikarenakan persiapan yang belum matang. Jadi saya rasa perlu diadakan eksplorasi lanjutan di kemudian hari untuk membuka potensi wisata di Gunung Beser. Pulangnya, disepanjang perjalanan alunan merdu berbagai suara burung liar menjadi background music perjalanan kami. Aah..lelah terbayarkan dengan suguhan alam yang sempurna ciptaan Tuhan ini.

Another photo gallery :



Another Complete Fact about Gunung Beser From my hiking mate, Fito:

Tidak banyak yang tahu mengenai salah satu pegunungan atau puncak yang eksotis ini. Gunung Beser (puncak beser), ya itulah sebutan nama salah satu puncak tertinggi di kecamatan KarangJambu-Purbalingga lebih tepatnya ada di Desa Jingkang yang mempunyai ketinggian sekitar 1800 mdpl. Puncak ini terletak di arah timur laut Gunung Slamet yang ada di Kecamatan Karangreja, tidak sulit untuk menuju arah kesana, tinggal menuju arah kecamatan karang jambu dan cari arah desa jingkang meskipun tidak ada papan penunjuk menuju ke puncak tapi banyak warga sekitar yang tahu lokasinya. Kenapa dikatakan gunung beser, konon puncak ini menyimpan air dalam tanah yang sangat melimpah dan tidak akan pernah kering. 

Istilah beser sendiri dalam bahasa jawa artinya mudah kencing (beseran), karena itulah cukup sepadan juga dikatakan gunung beser karena mengandung banyak air. Perlu digaris bawahi bahwa sebutan gunung disini bukan berarti gunung berapi aktif lho, maka jangan harap menemukan kawah disini. 

Gunung ini merupakan puncak dari deretan pegunungan pinus yang ada dibawahnya dan tanaman yang ada dipuncak adalah tanaman glagah alas yang tumbuh liar. Perjalanan menuju puncak ini memakan waktu sekitar 1,5 jam berjalan kaki dari pinggiran jalan aspal desa. Bagi para pemburu Sunrise puncak ini cocok untuk hunting foto karena menghadap ke arah Timur Laut. Kalo cuaca cerah mungkin gunung-gunung tinggi di pulau jawa pun bisa terlihat, (maklum waktu penulis kesana kondisinya sehabis hujan dan berkabut). 


Untuk menaklukan puncak ini, bagi para traveler sebaiknya membawa peralatan keamanan dan logistik yang mamadai, mengingat daerah ini merupakan daerah yang bersuhu sangat dingin, sering hujan dan tekstur tanah yang mudah longsor ketika hujan bahkan terkadang Juga Babi Hutan (celeng) masih terlihat melintas disana, maka dari itu perlu hati-hati juga kawan. Minimal yang perlu dibawa adalah Jaket tebal yang bisa tahan air/embun, Jas hujan, Senter (kalo mendaki dini hari), air minum, sepatu Lapang, camilan, plastik kresek sampah, p3k dan yang pasti Kamera atau HP yang mampu capture pemandangan yang indah. setelah puas menikmati pemandangan dari puncak Beser.

5 comments:

Sukir Haryono said...

Keren bro, ngesuk jajal tek dolan ngonoh lah, wis tau ming gunung kelir urung ?

Vito ngapak said...

hahaha.. kenapa ra majang wajahku sisan beng?

Abenx Sagara said...

aja, mbokan koe terkenal koh, haha

Dimas A. R. Kambuna said...

Ehem.. Namanya kok mirip2 apaa gitu ya, Beser,, hahaha

Belum pernah muncak, nih..

Abenx Sagara said...

haha, beser kan artinya selalu kebelet kencing mas, kayak gunung ini yg selalu mengeluarkan air sepanjang hari.