Sabtu, 21 Maret 2015

Kenalan Dengan Traveler Bule Dari Rusia Mark & Natasha


Sore ini Purbalingga cerah sekali, tak seperti biasanya yang selalu mendung dan turun hujan. Saya menikmati sore hari ini dengan secangkir kopi hitam yang tak terlalu manis dan ditemani hisapan rokok favorit sambil menikmati kecerahan suasana alun-alun kota. Langit begitu cerah, awan-awan putih bertebaran di angkasa dengan bias sinar matahari berwarna oranye menembus awan-awan tersebut, matahari hendak tenggelam tampaknya. Ditengah kenikmatan tersebut, tiba-tiba ada yang mencuri perhatian saya, yakni dua orang bule yang sedang berjalan ditengah alun-alun sambil menenteng tas ransel besar dengan tampilan ala kadarnya. Si cowok mengenakan kaus merah dengan celan khaki 3/4 yang sobek dibagian lututnya, sedangkan si cewek mengenakan kemeja motif bunga-bunga dengan tanpa alas kaki alias nyeker. Wah, sungguh keren penampilan mereka. Coba saja kalau mereka bukan bule, pasti sudah di caci-maki oleh khalayak umum.

Senin, 09 Maret 2015

Senin, 02 Maret 2015

Danau Weekuri, Hidden Paradise Pulau Sumba


Sambungan cerita di sumba.....

Waktu penelitian di Sumba, waktu berada di Kodi, si kota konflik, waktu menginap di tempat pak camat, hari itu adalah hari minggu, dan merupakan hari yang sempurna untuk jalan-jalan di sela rutinnya tugas penelitian kami. Searching-searching di google, ternyata ada tempat wisata keren di Kodi, namanya danau weekuri. Tidak jauh dari tempat kami, sekitar 30 menit perjalanan naik motor. Kami mengandalkan anak pak Camat yang bernama ....... sebut saja Jono (maaf sekali aku lupa namamu kawan, hehe) untuk menjadi guide dan pelindung kami. Pelindung? yo! Kodi merupakan daerah rawan konflik dan rawan kejahatan, terutama perampokan di jalan, apalagi jalanan yang akan kami lewati merupakan daerah sepi dan masuk ke dalam. dengan adanya si Jono ini, diharapkan para calon perampok enggan untuk merampok sang putra mahkota dari Kerajaan Kodi ini, dan juga supaya kita tidak tersesat arah dan tujuan. Jono enggan jika tidak bersama ajudannya si Bono, maka okelah kami angkut Bono juga. FYI, Jono dan Bono ini masih SMA.

Pantai Kawona, Pantai Perawan nan Sunyi Senyap di Sumba Barat Daya



Sambungan Cerita di Sumba...

Siang itu, matahari di atas kepalaku bersinar dengan sangat sombong dan angkuh. Panasnya sungguh bikin aku  gerah dengan semua ini, tapi tidak lebih gerah dari gerahnya masyarakat terhadap para wakilnya. Es Buah di seberang rumah Pak Camat memanggil-manggil namaku, dan akupun terhanyut olehnya. Udara di Nusa Tengggara Timur memang sangatlah panas, hal ini dikarenakan letak dan kondisi geografisnya membuat angin yang bertiup di daratan NTT adalah angin panas. Sekarang aku berada di Kecamatan Loura, Sumba Barat Daya. Kecamatan yang akhir-akhir ini baru saja mekar, dan sedikit membuat aku bingung. Hari ini tujuanku adalah pergi ke pantai, menyejukkan pikiran dari penatnya kerjaan editing quesioner yang begitu banyak. Salah satu cara berwisata gratis adalah dengan mengikuti beberapa proyek survey seperti yang aku lakukan ini, sudah gratis, dibayar pula.

Merlion Park, Tempat Paling Iconic di Singapore


Apa yang sangat wajib dikunjungi bila pergi ke Singapore? Singapore sangat sangat sangat identik dengan patung singa berbadan ikan yang meumuncratkan air dari mulutnya. Patung tersebut bernama Merlion ( "Mer" berarti Laut, "Lion" berarti Singa). Badannya yang berupa ikan melambangkan asal mula Singapore yang dulu bernama Temasek sebagai sebuah desa nelayan. Sementara kepalanya yang berupa Singa melambangkan nama dari Singapura, yang berarti "Kota Singa". 


Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Merlion adalah pada sore hari. Karena bila kesini siang hari bakalan panas banget karena ngga ada atapnya. Selain itu, saat langit sudah mulai gelap, lampu-lampu ajaib dinyalakan, terutama lampu pada Marina Bay Sands yang menyala warna-warni membuat suasana semakin Gorgeous!. Saya kesini pada sore hari naik bus turun di depan Esplanade, Sebuah gedung yang mirip durian. Disekelilingnya merupakan taman yang asri tempat warga Singapore menghabiskan sore hari dengan berolahraga, senam, yoga, dan ngobrol. 

Esplanade, Gedung Durian.

Merlion Park dan Esplanade dipisahkan oleh sungai yang muaranya berada di Merlion Park itu sendiri. Sungainya jangan dibayangkan seperti sungai-sungai di Jakarta yah. Sungai di Singapore itu luar biasa jernih, lebar dan asik buat ngopi dipinggiran saat sore hari sambil ngeliatin amoy-amoy pada joging. Tempat ngopinya bernama Clarke Quay, cukup jalan kaki 20 menit dari Merlion. Dibelakang Merlion ada sebuah bangunan bergaya Eropa bernama Fullerton Hotel, sebuah hotel legendaris di Singapore tempatnya para birokrat elit mengistirahatkan diri. Tak jauh dari Fullerton, sekitar lima menit jalan kaki ada Museum of Asian Civilization.

Fullerton Hotel
Seperti biasa, di Merlion sudah banyak orang dengan kameranya mulai jeprat-jepret sana-sini, termasuk saya. Hari mulai gelap, lampu-lampu mulai dinyalakan, wisatawan semakin ramai. Seperti gembel, saya duduk di sebuah undakan sambil melihat antusiasme wisatawan. Lampu yang berwarna-warni itu tidak menurutkan kesepian saya sebagai solo traveler. Disebuah negeri asing, sendirian tiada yang menemani. Apalagi disebelah saya ikut duduk pasangan kekasih yang dengan khidmatnya berpelukan satu sama lain, hiks. Setelah puas dengan Merlion Park, dengan langkah gontai kesepian (duh, kesannya kok kasihan banget yah) saya memutuskan untuk ngopi-ngopi manja di Clarke Quay, sendirian! 😂😂😂😂