Sabtu, 29 November 2014

Menyibak Kabut Gunung Api Purba Nglanggeran

 


Jumat lalu teman-teman saya dari komunitas Njeglekerzt (?) berangkat camping ke Gunung Purba Nglanggeran di Gunung Kidul, Yogyakarta. Berangkat sore hari dari Yogyakarta. Sayangnya saya tidak bisa ikut dikarenakan meriang pusing, panas, demam, dan flu yang saya alami. Gunung Nglanggeran adalah sebuah gunung api purba berumur sekitar 60 juta tahun yang terletak di kawasan Baturagung, bagian utara Kabupaten Gunung Kidul pada ketinggian sekitar 200-700 mdpl.

Teletak di desa Nglanggeran Kecamatan Patuk, tempat wisata ini kurang lebih memakan waktu sekitar satu setengah jam dari kota Yogyakarta. Basecamp berupa pendapa dengan warung-warung makanan warga disekitarnya. Tarif untuk mendaki hanya Rp. 3000, bermalam hanya Rp. 5000, murah bukan? Tidak usah khawatir dengan persediaan makanan ketika naik gunung. Tinggal turun sebentar untuk beli makan kemudian naik lagi juga tak apa, haha. Jadi, karena saya tidak ikut, saya hanya bisa ikut ngeshare sedikit foto-foto G. Nglanggeran dari teman-teman saya. Mari... [.....]

Jumat, 21 November 2014

Tips Fotografi Human Interest Dalam Traveling


 Halo sobat, kali ini saya akan berbagi pengetahuan tentang fotografi Human Interest (HI). Walaupun saya masih pemula dalam hal foto-memfoto, namun saya akan coba berbagi dengan sobat sekalian terutama tentang fotografi yang berhubungan dengan dunia traveling. Apa itu Fotografi Human Interest? merupakan suatu seni fotografi yang mengedepankan manusia sebagai objek interest-ketertarikannya. Fotgrafi HI ini sangat diperlukan dalam sebuah traveling terutama untuk mengabadikan objek manusia ditempat yang kita kunjungi. Kan ngga asik kalo cuman motret landscape-nya saja. Nah, dalam traveling yang menjadi fokus utamanya adalah kegiatan manusia sehari-hari, kegiatan budaya, kondisi fisik, dll yang mencerminkan sesuatu yang khas dari tempat yang kita tuju. Misalnya kalau kita ke Yogyakarta, yang menjadi human interest kita adalah ciri-ciri manusia yang khas kota Yogyakarta, misalnya bapak-bapak memakai baju tradisional Jogja, ibu-ibu pake kemben, dll. Contohnya berikut ini :

Jumat, 14 November 2014

Warung Kopi Sederhana yang Bersahaja

 Seorang lelaki tua dengan uban sebagai warna rambutnya.
Keriput sebagai make-up-nya tengah sibuk meracik kopi di warungnya yang sederhana.
Bekerja seorang diri namun raut mukanya segembira pengantin muda.
kadang si kuntum bunga mawar kecilnya membantu dengan semangat.
Warung kopi sederhana yang bersahaja.


Bukan AC sebagai penyejuk, hanya kipas angin tua tergantung di langit-langit sedang memusingkan dirinya sendiri.
Bukan sofa empuk yang kududuki, hanya kursi resepsi berwarna merah tua yang lapuk termakan usia.
Bukan TV layar datar sebagai temannya, hanya sebuah TV layar cembung 12 inch tua yang digerumuti semut-semut.
Bukan hasil karya fotografer ternama yang tertempel di dinding, namun lukisan sederhana dengan bingkai kayu tua menutupi dindingnya yang lapuk.
Bukan espresso machine  merk terkenal yang dia punya, hanya termos air panas kembang-kembang menyirami kopi ke sebuah cangkir tua.

35 toples bertuliskan macam-macam kopi lokal tersusun berderet-deret di sebuah rak abu-abu yang berdiri dengan gagah di tengah ruangan.
Jangan khawatir soal harga yang selangit, seperti di coffeeshop-coffeeshop terkenal itu.
Cukup uang sepuluh riba yang nanti akan di kembalikan setengahnya.


Di warung kopi bapak tua bersahaja ini aku merasakan suasana pecinta kopi sejati.
Seorang tua yang selalu tersenyum di masa senjanya dalam kesederhanaan itu.
Sebuah warung kopi sederhana yang bersahaja.

Oemah kopi Oemah Sedulur, Yogyakarta

Sabtu, 08 November 2014

Photo Essay : Pasar Hewan Purbalingga


Mumpung lagi mudik alias balik kampung, saya sempatkan untuk sekedar menengok pasar hewan Purbalingga yang letaknya berada di sebelah terminal utama kota Purbalingga dan di belakang pasar Segamas. Pasar ini ya sebenarnya pasar hewan biasa yang menjual beraneka jenis hewan, ibarat kebun binatang mini, mulai dari bermacam-macam jenis burung, ayam, sapi, kambing, kelinci, kucing, marmut, dan hewan-hewan langka dilindungi (entah ada ijinnya atau tidak) seperti burung kakak tua jambul kuning, kukang, lutung, dll. Yang spesial di pasar hewan pada hari ini adalah , hari ini merupakan hari pasaran yakni kamis. Pasar hewan Purbalingga mempunyai hari pasaran pada hari senin dan kamis. Nah, pada saat hari pasaran itu, tidak hanya pedagang hewan saja yang meramaikan pasar, namun juga turut serta pedagang baju, peralatan rumah tangga, peralatan pertukangan, barang antik, obat-obat tradisional, dan lainnya.

Pasar hewan purbalingga juga terdapat lapak-lapak permanen khusus penjualan sepeda, kayu gelondongan, gerabah, perkakas, dll. Asiknya jalan-jalan waktu hari pasaran disini yakni banyak dagangan aneh-aneh yang ditawarkan dari pedagang-pedagang yang datang dari berbagai kecamatan di Purbalingga, bahkan dari luar kota seperti Banjarnegara, Purwokerto, Banyumas, Cilacap, Pemalang, Tegal dan Kebumen. Selain itu, suasana tawar menawarnya mengingatkan saya pada film-film tentang petualangan zaman dulu yang mengisahkan jual-beli pada pasar/ bazaar tradisionalnya dengan barang dagangan yang eksotis.Ya, hampir seperti itulah pasar hewan ini. Namun, bagi anda yang gampang mual , sebaiknya bawa masker / penutup hidung, soalnya bau hewan beserta kotorannya sangat menyengat, hehehe :D . So, cek foto-fotonya meen! (jelek ga papa, yang penting foto, hehe :P )