Tuesday, April 29, 2014

Singgah di Rumah Kopi OBAMB



 Well sore tadi saya sempat mampir ke kota Purwokerto dengan tujuan pertama yaitu bersilaturahmi ke tempat teman saya, e teman saya ngajak ngopi-ngopi di salah satu  warung kopi, namanya Rumah Kopi OBAMB, teman saya akhirnya terdampar di jln brigjend encung no 9 Purwokerto, lokalisasi, eh maksudnya lokasi bersemayamnya Rumah Kopi Obamb ini, kalo dari arah Unsoed tuh lurus terus sampai pertigaan lapangan belok kanan, terus kanan lagi terus belok kiri, nanti di kanan jalan akan nampak sebuah ruko yang didepan-nya nampak kursi dan meja dari kayu gelondongan,hehe. Berhubung kunjungan ini bersifat mendadak jadi saya tidak sempat membawa kamera, jadi di posting ini saya pasang fotonya dari akun facebook-nya OBAMB sendiri, :-P. So, mari kita lihat ada apa saja didalamnya...

Sunday, April 27, 2014

Saatnya Membuat Outdoor Gear Sendiri


Saya sempat prihatin melihat fenomena di dunia pendakian dan backpacking beberapa tahun belakangan ini. Kenapa? Karena kok sepertinya menjadi sebuah ajang pamer yang bergengsi. Baik di alam maupun di sosmed, ramai-ramai memamerkan alat-alat outdoornya yang mahal dan bermerek. Bahkan yang bekasan alias awul-awul sisa impor juga laku keras, terutama yang bermerek (termasuk saya, :P). Upload foto di depan tenda berlogo daun. Upload foto lagi masak pake kompor keren. Upload lagi kedinginan pake jaket logo fosil burung purba, dll. Bahkan di lapangan juga jarang sekali saya lihat yang pake gear seadanya , kecuali yang masih pemula.

Tips Survival: Perencanaan Survival Kit


Perencanaan survival itu merupakan sebuah kesadaran bahwa mungkin sesuatu dapat terjadi dan menempatkan kita pada situasi dimana kita harus bertahan hidup. Hal ini dapat terjadi pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Dengan mengantisipasi dan membuat rencana survival, berarti kita sudah mencuri start dalam mempertahankan nyawa kita. Perencanan survival berarti adalah persiapan. Persiapan berarti menyiapkan alat-alat survival yang dibutuhkan dan tahu bagaimana menggunakannya.

Survival tidak hanya untuk orang yang akan mendaki gunung atau yang terdampar di pulau terpencil saja. Orang yang bepergian menggunakan kendaraan seperti touring juga membutuhkan survival. Masyarakat yang tinggal didaerah bersalju sudah mempersiapkan segala sesuatunya dalam menghadapi medan mereka. Misalnya mereka menggunakan roda salju pada kendaraan mereka, membawa serta sekop, garam, dan selimut tebal. Contoh lainnya adalah kita bisa menemukan pintu darurat baik di elevator, pesawat, kereta, bus trans, dll. Itu menandakan bahwa segala sesuatu sudah dipersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk.

Persiapan juga bisa dilakukan dengan sederhana, yaitu dengan mengetahui rute perjalanan kita dan buat familiar dengan daerah disekitar kita. Intinya, persiapan darurat itu sangatlah penting!

Pentingnya Perencanaan

Rencana kemungkinan darurat / pencegahan yang detail sangat berguna dalam menghadapi berbagai kemungkinan kondisi survival. Salah satu aspek penting dari perencanaan pencegahan ini adalah obat-obatan preventif. Dengan asumsi bahwa kita tidak punya masalah kesehatan dan immun tubuh kita kuat, maka dapat menghindarkan kita dari kemungkinan kematian lebih cepat. Itulah mengapa pada beberapa pendaftaran ekspedisi, atau kegiatan yang mempunyai tingkat survive yang tinggi mengharuskan surat keterangan sehat dari dokter.



Baca juga Tips Bila Tersesat di Alam Liar

Mempersiapkan dan membawa survival kit (alat-alat pendukung survival) juga tidak kalah pentingnya dari masalah kesehatan di atas. Alat-alat ini secara ajaib mampu menambah umur kita dan menunda kematian. Hampir semua pesawat terbang militer punya survival kit pada kursi lontarnya tergantung pada daerah mana yang akan mereka tuju. Ada kit untuk survival air, gurun, dan hutan.
Sebelum mempersiapkan survival kit mu sendiri. Ketahui dulu misi atau tujuan perjalananmu, kondisi lingkungan sekitar, dan alat-alat yang akan dibawa.

Survival Kits



Lingkungan merupakan kunci untuk mempersiapkan apa saja yang perlu di bawa dalam survival kit kita. Banyaknya peralatan survival yang akan kita bawa bergantung pada bagaimana kita akan membawanya. Survival kit yang akan dibawa bersama tubuh kita, tentunya haruslah lebih kecil dari yang ada pada kendaraan. Selalu lapisi survival kit kita, taruh alat yang paling penting bersama tubuh kita. Misal kompas, peta, pisau, harus selalu ada pada saku kita.


Selalu memilih alat yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan (multifungsi). Jangan bawa satu-satu, itu hanya akan menambah beban dan tempat. Tempat yang digunakan untuk menaruh alat-alat survival juga harus kuat, yang paling penting adalah tahan air atau waterproof, mudah dibawa, dan bisa dikaitkan bersama tubuhmu.

Dalam survival kit harus ada :
-P3K
-Tablet pemurni air ( water purification tablet), bisa dibeli di apotik atau toko kimia
-peralatan pemantik api
-perlengkapan pemberi sinyal
-perlengkapan untuk (membuat) makan dan minum
-perlengkapan kemah / shelter
Contoh dari peralatan diatas :
-korek api, pemantik api manual, korek api kayu tahan air
-senar kawat
-kaca sinyal / kaca SAR
-Kompas
-Alat pancing ikan
-lilin
-tablet untuk diare dan infeksi (oxytetracyline)
-Lablet pemurni air
-Selimut / Lembaran aluminium foil
-pisau operasi / scalpel,
- alat jahit, benang dan jarum
- Kondom untuk penyimpanan air
- Pisau
-dll

Ini merupakan gambaran umum tentang bagaimana pentingnya persiapan dalam bertahan hidup. Penjelasan detail mengenai apa yang harus dibawa ada pada artikel-artikel berikutnya. Tetep pantengin blog keren ini sob!

Baca juga Tips-Tips Lainnya, supaya persiapan perjalanan kamu semakin matang!

Saturday, April 26, 2014

Tips Survival: Yang Harus Dilakukan Jika Tersesat atau Terdampar di Alam Liar


Beberapa waktu lalu berita-berita di televisi maupun surat kabar dan media online ramai dengan kasus pendaki hilang dan juga orang-orang yang terdampar karena kecelakaan kendaraan transportasi. Apa perbedaan antara tersesat dan terdampar? Tersesat itu jika kita tidak tau dimana kita berada dan tidak tau arah mana yang akan dituju, sedangkan terdampar itu kita tau sedang berada dimana tapi orang lain tidak tau. Tidak ada salahnya jika kita ikut waspada untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu hal tersebut terjadi pada kita. Sebenarnya, apa yang harus dilakukan sih jika kita tersesat? terutama di alam liar?  Menurut sebagian besar buku survival, tim SAR, website, dll, Ada beberapa tips dan peraturan yang harus kita ikuti dalam permainan "petak umpet" ini...

PERATURAN # 1 : Sebelum kita pergi jauh atau akan menjelajah alam liar, kita harus memberitahu seseorang kemana kita akan pergi dan kapan kira-kira akan pulang. Hal ini supaya jika kita tersesat dan tidak pulang-pulang, tim pencari akan tau dimana harus mulai mencari kita.


Baca juga Tips Merencanakan Survival Kit

PERATURAN # 2 : Jika kamu tersesat atau terdampar karena kendaraan yang macet atau kecelakaan pesawat. Lebih baik untuk tetap berada dekat dengan kendaraan atau pesawat. Akan lebih mudah bagi tim pencari untuk menemukanmu dalam posisi yang tetap daripada mencari orang yang bergerak atau gerombolan orang yang tidak tau kemana mereka berjalan.

Tapi jika tidak ada kendaraan ataupun pesawat karena kamu jalan kaki (mendaki gunung / jelajah hutan) dan kamu tidak tau dimana sekarang sedang berada,sekali lagi lebih baik untuk tetap berada pada satu posisi daripada mondar-mandir tidak jelas, yang ada malah kemungkinan semakin menjauh dari tim pencari.

Tapi jika kamu melanggar PERATURAN 1 dengan tidak memberitahu kemana kamu pergi, kamu bisa melewati PERATURAN 2, dan langsung menuju...

PERATURAN 3 : JANGAN PANIK! panik membuat kita tidak bisa berpikir jernih dan tenang, S.T.O.P! Stop, Think, Observe, Plan! Berhentilah sejenak, tenangkan pikiran dan rileks, berpikirlah kemungkinan sekarang kamu berada dimana, Perhatikan sekelilingmu dan coba balik arah siapa tau kamu mengenali sedikit daerah yang kamu lewati tadi. Jika tidak mengenali daerah sekitar, berhentilah dan duduk sebentar. Rencanakan apa yang harus dilakukan.

Coba dengarkan tanda-tanda peradaban, atau perkampungan. Dengarkan apakah ada suara mesin kendaraan, suara adzan, pabrik, suara gergaji mesin, dll yang akan menuntunmu ke luar dari belantara. Jika tidak ada, cobalah mencari tempat atau dataran yang lebih tinggi dan coba lihat dari atas adakah bangunan, masjid, jalan, kabel listrik, asap, yang bisa memberi petunjuk. Jika tidak ada dataran yang lebih tinggi, coba panjat pohon terdekat yang paling tinggi.
Jika kamu tidak menemukan adanya suara maupun bangunan yang menandakan peradaban maka coba cari jika ada sungai, atau aliran air kecil, dan ikutilah alirannya, tidak hanya bisa mensuplai air minum, biasanya aliran.akan membawa kita menuju sebuah perkampungan ataupun jalan raya.
Tapi jika belum menemukan apapun yang seperti disebutkan di atas, maka lebih baik berhenti dan mulai membangun sebuah kemah atau shelter sementara dan mulai membuat api sebelum hari mulai lembab dan gelap. Lakukanlah sebuah tindakan survival untuk menyelamatkan nyawamu dan nyawa teman-temanmu.

Panduan-panduan survival lainnya seperti cara membuat shelter, membuat api, mencari makan, air, dll akan di update kemudian, stay on track with me!


Sunday, April 13, 2014

Pendakian Gunung Merapi: Menggapai Puncak Garuda


Day 2: Puncak Garuda, Here I Come! - 05:00

Lanjutan dari Pendakian Gunung Merapi: Tersesat di Jalur Kartini

Capeknya dan hangatnya batu bara membuat tidur saya cukup lelap. Subuh, tiba-tiba serasa ada tangan lembut yang menyentuh pipiku, seakan ingin membangunkanku dai tidur pulas. Ah senangnya, di pagi yang dingin seperti ini saya dibangunkan oleh sentuhan lembut wanita idaman. Angan itu seketika lenyap karena ternyata itu bukanlah tangan lembut, melainkan kaki teman saya yang nempel di pipi. Sedih. 

Saya terbangun dan melihat handphone yang mendadak jadi sedingin es menunjukan pukul setengah lima. Teman saya yang lain terlihat sudah ada yang berangkat ke puncak. Sebagian lainnya masih meringkuk nikmat di atas matras. Kami, terutama cowok tidur tanpa tenda. Karena masih ngantuk, saya tetap dalam posisi tiduran sambil ikut meringkuk. 

Saat pikiranku sedang mengembara entah kemana, Anna, teman satu kelasku yang menurutku berparas dan berperawakan cukup 'menarik' mengajak saya untuk segera menyusul rombongan yang sudah berangkat duluan ke pasar bubrah. Dia tampak sudah segar dan siap bertempur. Rambutnya pendek model bob, mengenakan jumper distro warna hijau. Dia satu-satunya cewek tomboy di kelasku. 

Foto bersama Anna. Sumpah deh, kami tidak ada hubungan apa-apa kok.
Setelah membasahi muka dengan segenggam air, saya segera mengemasi barang-barang yang diperlukan. Sleeping bag, dan semacamnya saya tinggal untuk mengurangi beban. Toh tidak di pakai ketika summit attack. Ada beberapa bule yang lewat di depan saya. Waktu itu tempat camping kami berada di jalur pendakian, dan itu salah! jangan di tiru ya. Herannya, bule-bule itu hanya memakai t-shirt, celana pendek dan sebuah tas ransel kecil saja. Mungkin suhu sejuk begini bagi mereka masih terasa hangat yah?


Baca juga Kumpulan Tips-Tips Mendaki Gunung Biar Ngga Kewalahan Seperti Saya

Matahari sudah mulai bersinar dan mengeluarkan semburat kemerahan. Saya dan Anna mulai berjalan, di ikuti oleh beberapa teman yang memang sudah bersiap-siap sebelumnya. Saya menyusuri jalan sempit sepanjang igir. Jalannya terbuka dan berada di ketinggian sehingga kami bisa melihat pemandangan dibawah walaupun masih agak gelap. Gerombolan awan tampak sangat dekat di bawah kami, seperti sekumpulan kapas-kapas putih. Ah andaikan awan itu bersifat padat, ingin rasanya saya melompat ke awan tersebut.



Mulai mendaki tumpukan batu di depan pasar bubrah.
Sekitar setengah jam perjalanan di temani sunrise melewati jalan berbatu yang cukup datar saya sampai di pasar bubrah. Disini terdapat prasasti-prasasti dan monumen untuk mengenang rekan-rekan pendaki yang wafat dalam pendakian merapi. Di pasar bubrah sudah ada banyak orang. Sekitartiga puluh persennya adalah orang-orang bule. Beberapa merupakan pendaki dari India dan Jepang. 

Saya berhenti sejenak di pasar bubrah untuk melihat pemandangan yang amat mengagumkan, epic! Benar-benar Tuhan itu maha sempurna dan maha pencipta segalanya. Pemandangan di sebelah kanan saya adalah Gunung Merbabu yang dikelilingi awan yang benar-benar indah. Sayang saya tidak sempat melihat sunrise karena telat naik. Saya merasa seperti berada di negeri kahyangan. Di pasar bubrah sendiri ada sekitar tiga tenda. Setelah selesai foto-foto, saya melanjutkan Pendakian Puncak Gunung Merapi.


Saat mendongak ke atas, pemanangan seperti ini bakal membuat down siapa saja.
Sebelum sampai di puncak, saya harus mendaki tumpukan batu-batu vulkanis yang memebtuk sebuah gunung kecil dari batu dimana di balik itu adalah puncak sekaligus kawah Gunung Merapi. Pendakian lumayan sulit karena harus pandai-pandai memilih pijakan yang tepat, kalau salah bisa fatal akibatnya. Kenapa? karena sepanjang jalur adalah batu hidup - batu yang tidak setabil dan rawan longsor / jatuh sehingga bisa membuat kita terpeleset atau mengenai pendaki di bawah kita. Satu jam setengah adalah waktu yang saya perlukan untuk menaiki puncak pasar bubrah dalam Pendakian Gunung Merapi ini. Cukup lama karena jalur sempit, pendaki banyak, serta jalannya harus pelan dan hati-hati.


Kesabaran itu membuat kami akhirnya sampai di Puncak Gunung Merapi. Gunung paling aktif di Indonesia! Pemandangan yang ada di puncak hanyalah batu-batuan berwarna putih karena tertutup debu vulkanik dan di tebing-tebing yang di jurangnya terdapat sumber belerang. Kawah Merapi tampak mengeluarka kepulan asapnya, menggetarkan siapa pun yang melihatnya. Kami duduk-duduk di bebatuan sambil memandangi deretan awan di langit biru yang cerah. Langit yang cerah membuat Gunung Merbabu, Lawu, Sindoro-Sumbing terlihat di kejauhan. 


Anna di atas puncak Garuda sebelum erupsi 2010
Puncak Garuda Gunung Merapi terlihat menjulang menantang setiap pendaki untuk menaikinya. Puncak Garuda merupakan titik tertinggi dan simbol penaklukan merapi. Beberapa teman saya sudah antre di bawahya menunggu giliran untuk menaikinya. Saya tidak begitu antusias untuk mencobanya jadi saya hanya melihat mereka saja sambil menghisap sebatang kretek. Teman-teman yang tadi masih terlelap satu per satu mulai tampak dengan muka kegirangannya karena berhasil menaklukan Puncak Gunung Merapi ini. Saya pun begitu.

Day 2: Let's Go Home - 08 : 00


Pukul delapan pagi kami turun gunung dan mengemasi semua perlengkapan kemah. Semuanya terlihat puas. Sesampainya di basecamp, teman-teman kelihatan lebih dekat dan akrab dibandingkan waktu pertama kali. Bahkan beberapa dari mereka di kemudian hari menjadi sepasang kekasih. 

Mungkin ini salah satu alasan kenapa banyak orang suka mendaki gunung. Karena gunung itu teman, gunung itu cinta.


Sunday, April 6, 2014

Pendakian Gunung Merapi: Tersesat Di Jalur Kartini



Ini hanyalah cerita lama ketika saya masih awal-awal kuliah, sekitar tahun 2009. Sebuah reminder dikala Puncak Garuda masih berdiri kokoh sebelum hancur karena Gunung Merapi meletus pada 2010.


Beberapa waktu yang lalu tanggal 1 Agustus 2009 kemarin, saya dan kawan-kawan geografer mengadakan ekspedisi menuju puncak Gunung Merapi untuk memandu kawan-kawan dari KEMANGGA (Kesatuan Mahasiswa Purbalingga) yang akan mengadakan pendakian ke puncak merapi dengan jumlah keseluruhan sekitar 40 orang, sekitar lima belasnya perempuan. Perjalanan tersebut sudah seperti perjalanan wisata saja, mengingat pendakinya banyak dan tidak hanya berasal dari rombongan kami saja.


Truk pasir yang mengangkut kami
Day 1: Pemberangkatan - 14:00

Dimulai dengan acara pengecekan dan technical meeting yang rencananya diadakan sehabis duhur atau setengah satu. Karena mungkin sudah jadi tradisi dan budaya orang indonesia kali ya buat ngemolor-molorin waktu, akhirnya acara tersebut "ngaret" satu jam dari setengah satu ke setengah dua. 

Awalnya saya tidak berencana untuk ikut pendakian ini tapi pas pukul setengah satu tersebut, Ardhi, salah satu pemandu menghubungi saya untuk ikut pendakian, dan tanpa pikir panjang saya pun segera bersiap-siap. Berhubung tas carrier saya dipinjam oleh teman saya yang kebetulan juga ikut pendakian tersebut maka dengan buru-buru saya meminjam tas ransel ke teman saya yang lain. 

Selesai persiapan, saya langsung menuju ke lokasi pemberangkatan yang bertempat di depan kantor dekanat FIS UNY. Setelah pidato pemberangkatan dari ketua kemangga dan ketua mahameru (Pecinta Alam FIS UNY) kami langsung naik kendaraan yang sangat nyaman, murah, dan sejuk, yaitu sebuah truk pengangkut pasir. Tak apa lah, nyaman-nyaman saja selama tidak ada yang buang 'gas beracun'. Kami menggunakan jalur pendakian Selo, Boyolali yang memakan waktu dari jogja sekitar dua jam.

Saat itu kami belum mengenal pakaian outdoor branded layaknya pendaki gunung kekinian. Pakaian yang kami gunakan seadanya.
Day 1: Basecamp Selo - 16:00

Setelah sekitar dua jam kami digoncang dengan jalan yang naik turun dan berliku dalam posisi berdiri dan mungkin sebagian menahan hasrat buang air kecil yang dikarenakan udara dingin, kami sampai di basecamp selo yang berupa pendopo. Rencanya pendakian akan dimulai sehabis Sholat Isya. Tiga jam menunggu kami habiskan untuk mengisi perut, pemanasan, dan adaptasi udara yang dingin. Rombongan dari tim lain juga sudah hadir disitu,mereka dari UGM sekitar sepuluh orang.

seusai sholat isya,kami bersiap untuk berangkat, tim kami dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok diisi sekitar tiga belas orang. Saya kebagian berada di kelompok satu. Perjalanan dimulai dari basecamp selo melewati jalan aspal sekitar dua puluh menit menuju New Selo (menara pandang merapi), jalannya sangat menanjak. Karena sebelum pendakian saya tidak melakukan pemanasa, maka nafas saya terasa sangat berat, mungkin juga akibat saya terlalu banyak menghisap rokok.

Dari New Selo, perjalanan yang sebenarnya  akhirnya dimulai. Pertigaan new selo kami ambil jalan lurus. Jalan tanah melewati perkebunan penduduk. Namun tiba-tiba salah satu rekan saya mengalami sakit perut. Jadi terpaksa sebentar-sebentar kami berhenti. Setelah sekitar satu jam perjalanan, sakit rekan saya tadi mereda dan kami pun dapat melanjutkan perjalanan. 

Di akhir perkebunan, kami berhenti sejenak sekitar sepuluh menit untuk menjaga jarak dengan kelompok dua supaya tidak terlalu jauh. Kami melihat pemandangan yang lumayan beauty, dengan pemandangan Gunung Merbabu di depan saya yang samar-samar terlihat oleh cahaya bulan yang amat terang disamping kanannya lalu lampu-lampu kota yang berkerlap-kerlip bak bintang-bintang dibawahnya. Sayangnya dalam kelompok kami tidak ada yang membawa kamera jadi pemandangan yang langka tersebut tak ada publikasinya.

Anak-anak KEMANGGA angkatan 2009, dan beberapa penyusup.
Day 1: Lost? - 21:45

Jalur pendakian New Selo terdiri dari dua jalur yaitu jalur regular dan jalur Kartini yang curam dan terutup semak belukar karena jarang dipakai. Rencananya, kami tiga kelompok tersebut akan berkumpul dahulu di watu gajah atau pos pertama dan bersama sama lewat jalur biasa. Namun takdir berkata lain. Dalam kondisi gelap karena kami sudah memasuki hutan, jalannya sangat sulit untuk dilacak. Pemandu di depan kami, mas Aji (saya menjadi juru kunci yaitu penjaga belakang) sudah yakin bahwa jalannya sudah benar. Tapi lama-lama jalannya terasa aneh, semaknya semakin rimbun seperti belum pernah terjamah manusia. Jadi di jalur ini kami seperti sedang membuka jalur baru. Akhirnya kami sadari bahwa kami benar-benar tersesat.

Kami berhenti sejenak, kemudian memutuskan untuk terus berjalan kedepan. Mendaki terus dengan jalan yang terjal yang di kanan kiri nya adalah jurang. Bahkan kami sampai harus merangkak seperti sedang wall climbing. Kemungkinan saat di pos pertama kami salah jalan mengambil jalur sebelah kiri, yaitu jalur Kartini. Karena belum ada yang pernah lewat jalur ini maka kami sangat buta akan arah.


Biar tidak tersesat seperti saya, baca Tips Traveling Apa Yang Harus Di Lakukan Saat Tersesat.

Sementara itu, teman-teman perempuan sudah mulai panik dan mengeluh. Mereka minta istirahat sebentar, mengatur nafas dan pikiran yang sudah kalut. Sambil istirahat saya iseng berteriak "GEOGRAFI UNY!" sampai tiga kali namun belum ada jawaban. Lalu saya berteriak lagi "WOOOOOYYY!", teman-teman yang lain juga ikut berteriak. Selang berapa detik ada sahutan dari atas kami dan meneriakan "KEMANGGA?" dan kami jawab "YAAA!". Ternyata kami berada tidak jauh dengan kelompok lainnya. Setelah tersesat beberapa saat tadi. Perasaan kami semua pun menjadi lega. Dengan bersemangat kami langsung kembali berjalan lagi.

Jalanan sangat gelap, penerangan hanya menggunakan senter sawah.

Day 1, Reuni - 22:30

Sekitar lima belas menit melewati jalan yang juga dipenuhi oleh semak belukar, kami melihat ada sekitar tiga sorotan lampu senter dari atas. Kami langsung bergegas menuju arah lampu tersebut. Ternyata mereka adalah kelompok dua yang dipandu oleh mas Ardhi. Akhirnya kami ketemu juga dengan rekan-rekan yang lain. Memang benar bahwa kelompok saya tadi melewati jalur kartini karena kami bertemu mereka di sebuah persimpangan jalan. Lega sudah perasaan kami selamat dari liputan berita koran pagi.

Kami beristirahat lagi di persimpangan tersebut untuk regrouping. Banyak batu-batu besar disitu dan amat berdebu. Dalam sorotan cahaya senter, badan kami semua benar-benar kotor oleh debu karena cuacanya terang jadi tanahnya kering dan berdebu. Selang sepuluh menit, kami melihat beberapa sorotan lampu senter lagi yang ternyata itu adalah kelompok tiga. Akhirnya kami reuni juga dengan teman-teman yang lain.


Reuni dengan kelompok 1
Jalur di depan semakin menanjak dan berganti menjadi jalan kerikil berbatu. Badan benar-benar terasa pegal, apalagi bahu saya. Singkatnya sekitar jam dua belas malam kami sampai di pos kedua. Sebenarnya kami berniat mendirikan tenda di pasar bubrah. Namun pasar bubrah merupakan sebuah dataran luas di bawah kaldera yang berbatu jadi hembusan angin di pasar bubrah cukup kencang dan juga agak rawan oleh longsoran batu. Pasar bubrah sendiri yaitu sebuah dataran luas sebelum melakukan pendakian puncak Gunung Merapi. Di pasar bubrah pemandangannya lumayan indah dan biasanya yang tidak kuat lagi naik ke puncak akan merasa cukup puas hanya sampai disitu saja. Karena suasananya sudah seperti di puncak maka disebut puncak pertama. 

Kami mendirikan tenda di Pos 2 yang merupakan sebuah igir pegunungan atau tulang belakang sebuah gunung karena bentuknya yang memanjang di atas bukit. Tempatnya sangat sempit dan di kanan kirinya adalah jurang. Disitu angin menerpa kami dengan amat kencang, sampai-sampai kami sangat kepayahan saat memasang tenda. Batu bara yang kami bawa susah menyala, kami harus meniup sampai pipi kempot. Keadaan sangat amat tidak memungkinkan untuk tidur, namun para ladies sepertinya cukup mudah tertidur. Mungkin karena saking capeknya. 


Mengelilingi batu bara sambil bercengkrama
Kami beristirahat diisi dengan mengelilingi api batu bara sambil saling bercerita dan berbagi pengalaman. Tentunya ditemani oleh tembakau dan kopi. Tak terasa teman-teman yang tadinya semangat begadang satu persatu tertidur lelap oleh rayuan suara alam.

Baca lanjutannya Pendakian Gunung Merapi: Menggapai Puncak Garuda