Sabtu, 18 Januari 2014

Jumat, 10 Januari 2014

Review Buku : Garis Batas



Penulis : Agustinus Wibowo
Editor : Hetih Rusli
Tebal : 510 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ketiga : Juli 2011
ISBN : 978-979-22-6884-3


Agustinus Wibowo kembali melakukan perjalanannya setelah sebelumnya selama hampir tiga tahun berkutat di negeri selimut debu, Afghanistan. Kali ini Agustinus berusaha menyibak tabir barisan Pegunungan Pamir yang selama ini menutupi keberadaan negeri-negeri Asia Tengah demi menguak surga yang tersembunyi dari mata dunia, surga yang nampaknya menjadi tanah idaman bagi warga Afghanistan yang mendambakan modernisasi dan kebebasan. Surga dimana saudagar-saudagar dan para pelancong zaman dahulu sekelas Marco Polo terkagum-kagum oleh alam, kebudayaan, dan peradabannya. Perjalanan dari Afghanistan menuju negeri-negeri eks-Soviet yaitu Tajikistan, Kirghizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan tidaklah mudah, apalagi hanya berbekal paspor, tas ransel, sepatu butut, kamera, sedikit perbekalan, beberapa stel baju kumal, serta dompet yang tipis. Kita akan dibawa untuk mengenal lebih jauh negeri-negeri berakhiran “stan” tersebut. Tidak hanya alamnya yang indah, namun juga kehidupan masyarakat disana, adat-istiadat dan budaya-nya serta berbagai suka duka masyarakatnya.

Agustinus tidak sendirian dalam petualangannya. Dia ditemani oleh Dewi Fortuna yang selalu menyelamatkannya dari keadaan-keadaan genting yang menimpanya. Dimana ada saja orang yang menawarinya untuk ikut numpang di kendaraannya, orang yang baru bertemu di bus yang menawarinya untuk menginap ditempatnya, menyelamatkannya dari kerakusan-kerakusan polisi-polisi setempat, dan sebagainya. Kita juga akan dikejutkan dengan cerita-ceritanya, seperti mata uang sum Uzbekistan yang bila dipakai untuk membayar tiket pesawat di bandara banyaknya sampai dua tas plastik, sarjana geologi yang hanya menjadi tukang batu di Tajikistan, presiden Turkmenistan yang menjadikan dirinya seperti seorang nabi, ibu-ibu yang tidur dijalan karena mabuk alkohol. serta masih banyak lagi hal-hal mengejutkan yang mungkin tidak pernah kita sangka. Kemiskinan dan kebodohan menjadi perbincangan utama di setiap negara pecahan Unisoviet ini. Namun dibalik itu, kesederhanaan dan keramahan penduduknya-lah yang mampu menutupinya

Tajikistan dengan pegunungan pamirnya, Kirghizstan dengan keramahan masyarakatnya, Uzbekistan dengan peradaban kunonya, Kazakhstan dengan modernisasinya, dan Turkmenistan dengan kekonyolan negaranya. Semuanya dibawakannya dengan santai, lucu, dan dramatis. Garis batas memang membatasi satu kehidupan dengan kehidupan lainnya. Membatasi persamaan hanya untuk dibedakan.

Sabtu, 04 Januari 2014

Tips Fotografi Malam Hari - Night Photography


Night Photography, atau Fotografi Malam Hari merupakan salah satu cabang fotografi, dimana foto yang dihasilkan mempunyai karakteristik warna yang dalam. Dalam traveling, fotografi malam sangat diperlukan untuk mengabadikan suasana malam hari di tempat traveling kita. Supaya foto malam hari kita lebih ciamik, berikut ada beberapa tips oleh Mr. Robin Ryan :