Rabu, 11 Februari 2015

Singapore, Destinasi Awal Untuk World Traveler Pemula


Singapore, siapa sih yang tidak tau negara tetangga dengan ukuran yang mini ini? Yup, siluet negara ini sudah terlihat jelas dari tepian Harbour Bay Batam. Singapura merupakan negara dimana biasanya para traveler ataupun backpacker dari Indonesia mencoba melangkahkan kakinya ke luar negeri untuk pertama kali. Bisa disebut juga sebagai negara pertama bagi para newbie world traveler dari Indonesia, termasuk saya. Salah satu faktornya adalah selain jaraknya yang dekat, banyaknya tiket penerbangan promo Indonesia-Singapura yang disediakan oleh beberapa maskapai penerbangan seperti AirAsia, Mandala, dll. Harganya kalau promo tidak sampai Rp. 500.000, bahkan teman saya ada yang pernah mendapatkannya seharga Rp. 99.000 hanya sebagai gantai biaya avtur saja.



Saya terbang dari Yogyakarta menuju Changi pada pukul delapan pagi dan sampai disana pukul setengah sepuluh. Sebelum mendarat, saya disuguhkan pemandangan kapal-kapal kargo yang begitu banyak di perairan Singapura, hal ini menandakan eksistensi Negara ini sebagai Negara perdagangan yang paling strategis di Asia Tenggara. 

Sebelum mendarat, saya melihat bahwa bandara ini dikelilingi oleh hutan-hutan yang luas dengan pohonnya yang besar-besar. Bandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta dimana justru bandaranya dikelilingi oleh pemukiman padat penduduk. Bandara Changi cukup luas dan modern sampai toiletnya juga serba otomatis. Imigrasi disini tidak ribet, yang penting tempat tinggal kita selama di Singapura tercatat jelas pada kartu kunjungan, sehabis itu tinggal melanglang buana deh.

Saya tinggal disebuah apartement padat penduduk di pusat kota. Pemukiman disini sebagian besar merupakan apartemen/rumah susun. Dibagi per kawasan, per blok. Setiap kawasan mempunyai pasarnya sendiri dan juga foodcourt yang terletak dibawah. Saya tinggal di distrik Whampoa, dekat dengan Baleister rd. Terdapat community centre tempat berkumpul dan ngopi-ngopi warga sekitar.



Untuk transportasi saya menggunakan semua moda transportasi yang ada, MRT dan Bus. Cara menggunakan bus di singapura sangatlah mudah. Kita cukup membeli kartu di seveneleven atau cheers (mini market), saya memakai kartu NETS Flashpay yang berisi SG$ 16, cukup untuk bolak-balik 16 kali naik bus atau MRT. Untuk menggunakan kartunya cukup men-tap / menempelkan kartu pada mesin yang tersedia di dekat pintu bus. Jika tidak punya kartu, kita dapat membayarnya langsung ke supir bus, namun uang harus pas, jika tidak maka artinya kamu merelakan kembalian uang kamu.

Untuk MRT, jika tidak punya kartu, terdapat mesin tiket otomatis di setiap stasiun, cukup masukan uang sejumlah harga tiket yang tertera, nanti tiketnya akan keluar sendiri. Untuk jarak jauh, gunakanlah MRT, namun untuk jarak dekat cukup gunakan bus saja.



Warga Singapura, sebagaimana layaknya bangsa Asia umumnya ramah-ramah, jika tersesat mereka akan siap membantu kita. Tenang saja, kita tidak akan tersesat di Singapura karena penunjuk jalan terdapat dimana-mana.

Destinasi pertama saya adalah destinasi mainstream yang ada, yaitu Orchard Road, Esplanade, Merlion Park, Asian Civilization Museum (ACM), Clarke Quay, Mustafa, dan Little India. Semua destinasi tersebut dapat dilakukan dalam sehari saja dan cukup jalan kaki! Yang terpenting adalah kita tahu rutenya, pastikan destinasi tersebut sejalur. 

Contohnya, pertama saya awali dengan Orchard Road, dari situ saya naik bus ke Esplanade. Nah dari Esplanade ke Merlion Park cukup menyeberangi jembatan saja dengan jalan kaki. Dari Merlion Park, jalan menuju ACM kemudian lanjut ke Clarke Quay. Dari Clarke Quay bisa ke Chinatown dulu atau langsung ke Mustafa Centre, Bugis, dan Little India nak bus (jaraknya lumayan jauh boo..)



Orchard Road, bagi traveler kere seperti saya tampaknya tempat ini bukanlah tempat yang cocok karena disini semuanya mall-mall dengan brand-brand ternama seperti GUCCI, Louis Vuitton dll. Bisa dibilang ini tempat shopingnya orang-orang menengah keatas. Tidak ada yang menarik disini bagi saya karena saya bukan tukang belanja. Namun bagi mereka kaum hawa dan shopaholic tempat ini ibarat surga. Semua-semuanya adalah mall! mall! dan mall! Disepanjang jalan saya melihat banyak pengamen yang tengah beraksi, dan mereka punya kemampuan bermusik yang sangat hebat! Give applause!



Esplanade, gedung pertunjukan berbentuk durian. Gedung ini merupakan salah satu ikon Singapura. Selain gedung, kita bisa bersantai dipinggir gedung disebelah sungai sambil menikmati pemandangan kota dengan gedung-gedungnya yang menjulang, patung singa Merlion, Hotel Fullerton, dan Marina bay Sands yang terkenal itu ( gedung kembar dengan kapal diatasnya) dibawah pohon sambil menikmati angin yang semilir serta softdrink seharga SG$1,7.


Merlion Park, Nah ini dia ikon Singapura yang paling terkenal yaitu patung singa yang disebut Merlion. Patung ini dibuat sebagai ikon untuk menyambut para pelancong yang datang ke negeri mungil ini. Dari Esplanade, saya cukup menyeberangi sungai lewat jembatan. Disekitar patung merlion banyak turis-turis yang tengah berfoto maupun sekedar bersantai-santai. Jikalau saja saya punya uang lebih, maka saya akan menikmati secangkir kopi di café-café yang bertebaran disekitar patung tersebut. Saya pergi kesini dua kali, kunjungan yang kedua adalah untuk mengambil gambar patung ini dan sekitarnya yang katanya cantik dan indah dikala malam hari.


Asian Civilization Museum, tempat ini berdekatan dengan Merlion Park. Diseberang Merlion Park terdapat Fullerton Hotel, dan dibelakang hotel terdapat jalan Fullerton. Saya menyeberangi jembatan lagi, namun kali ini jembatannya lebih kecil dan lebih klasik dengan arsitektur jembatan masa colonial. Nah setelah jembatan saya melihat ada bangunan dengan arsitektur khas colonial, didepannya terdapat tugu yang dulu dibangun untuk menyambut kedatangan orang penting dari India. Bangunan tersebut merupakan Museum Asian Civilization, yang menampilkan beragam peninggalan-peninggalan bangsa Asia jaman dulu. Bangunan ini ada di pinggir sungai Singapura. Banyak jembatan-jembatan kuno disini yang bagus untuk diambil gambarnya. Disepanjang sungai banyak kapal-kapal wisata yang hilir mudik menambah keelokan tempat ini. Disekitar museum terdapat banyak taman dan ruang hijau sehingga dijadikan sebagai tempat jogging bagi masyarakat sekitar. Olahraga di sini sudah menjadi semacam lifestyle bagi warga Negara ini terutama untuk kaum mudanya.


Clarke Quay, jam sudah menunjukan pukul setengah delapan sore. Disini gelap baru datang jam segini. Dari museum saya berjalan menyusuri pinggiran sungai. Banyak café-café kecil yang berdiri disepanjang pinggiran sungai dengan temboknya yang dicat warna-warni. Pemandangan seperti ini menjadikan daerah pinggiran sungai ini dikenal juga dengan nama Venesianya Singapura. Saya berjalan sampai menemukan tulisan neon warna-warni yang dibaca Clarke Quay. Tempat ini merupakan kumpulan café-café yang menawarkan berbagai macam minuman, dari kopi, the sampai minuman beralkohol (lebih banyak yang menawarkan minuman beralkohol disini). Tempat ini merupakan tempat nongkrongnya para Ang Mo. Ang Mo adalah bahasa china untuk si rambut merah atau dalam bahasa kita sering kita sebut sebagai bule. Harga minuman disini bervarisai namun rata-rata ya mahal. Saya cuma bisa jalan-jalan sambil menikmati malam yang gemerlap ini ditemani traveler lain dari berbagai Negara.


Mustafa Center, Bugis Street, Litle India, ketiga tempat ini jaraknya lumayan dekat. Dari Clarke Quay saya naik bus ke Mustafa Center yang katanya juga surga belanja. Mustafa Center hanyalah gedung swalayan biasa dengan dagangan yang juga biasa, ya seperti swalayan pada umumnya, nothing special. Namun masih tetap banyak saja para wisatawan yang belanja disini. Karena nothing special maka saya lanjutkan ke Bugis Street. Tempat ini merupakan pasar oleh-oleh, banyak ditawarkan kaos-kaos Singapura, gantungan kunci, jajanan, dll. Harga disini murah-murah dan tempatnya lebih khas dan eksentrik. Saya sarankan lebih baik belanja disini daripada di Mustafa. Di Bugis juga terdapat sex shop yang menawarkan berbagai jenis sex toys untuk 21tahun ke atas. Dari Bugis saya berjalan menuju Little India. Daerah Little India merupakan daerah pemukiman orang-orang India yang cukup luas, tidak ada gedung tinggi disini, semuanya gedung standar 2-4 lantai. Banyak toko-toko yang menawarkan dagangan khas negeri India dengan harga yang lumayan miring. Jika jeli maka kita bisa mendapatkan barang berkualitas dengan harga yang cukup miring.



Hari pertama sudah cukup puas dan cukup melelahkan juga. Ada beberapa pengetahuan yang saya dapat selama sehari menjelajah Singapura :
  • Disini tukang bangunan mayoritas dilakukan oleh orang-orang dari India, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.
  • Disetiap bangunan yang sedang dibangun pasti kita akan melihat orang-orang ini. Disini pembantu rumah tangga masih tetap dikuasai oleh pembantu dari Indonesia. Berkali-kali saya  lihat orang Chinese bersama pembantu mereka (yang mukanya sangat njawani).
  • Terdapat kawasan-kawasan khusus masing-masing etnis seperti orang India di Little India, orang Melayu di Kampung Melayu, orang China di China Town, dan orang bule di Ang Mo Kio, ada juga orang-orang dari timur tengah di Arab Street namun jumlahnya hanya sedikit.
  • Jika kita kurang lancar berbahasa Inggris, gunakan saja bahasa melayu, sebagian besar orang disini tahu bahasa melayu, jadi santai saja.
  • Beli kartu perdana di minimarket seperti cheers dan seveneleven. Harganya lumayan mahal, SG$ 15. Minta aktifkan kartu ke pelayan toko menggunakan data dari passport kita.
  • Beli makanan murah ada di foodcourt yang banyak terdapat dipusat keramaian maupun di daerah pemukiman, namun untuk yang muslim harus hati-hati dengan makanan yang bertuliskan pork, ham, atau bak, karena itu semua adalah daging babi.
  • Jika tidak punya kartu tap untuk bus dan MRT, maka siapkan banyak-banyak uang receh koin, kita akan sangat membutuhkannya.
  • Jangan heran bila melihat orang berpelukan atau berciuman di bus, MRT, maupun dijalanan.
  • Banyak terdapat masjid maupun mushala, sebagian dari mereka berbentuk gedung biasa tanpa kubah diatasnya. Tanyakan saja pada orang melayu atau Bangladesh untuk lokasi keberadaan masjid.
  • Kalau mau beli kopi item, bilangnya jangan I want a coffee, nanti malah diberi kopi susu. Kalau pengen kopi item bilang saja Kopi’o. (berlaku diwarung kecil seperti di foodcourt).

7 comments:

Jacko_black mengatakan...

kereen oom kpn2 kl ngetrip ajak2 aku dong,

Abenx Sagara mengatakan...

okee om jacko hitam, siapp :D

Fath Vogra mengatakan...

wah keren... diposting juga donk om itenary nya, budget nya. hehe buat nambah2 informasi... :)

Abenx Sagara mengatakan...

yaahh, ane ga make itin bang, semua semua serba dadakan, hehe

Fahmi mengatakan...

Lah, saya juga foto disitu, yang ada tulisannya merlion park. kok sama juga ya,, hahaaa :hammer:

Abenx Sagara mengatakan...

Hahaha, berarti kita itu sehati lho bang Fahmi. Trims uda berkunjung :)

JalanJalanSingapura.com mengatakan...

Halo Abenx, kami dari JalanJalanSingapura.com
Great blog dan sangat informatif.
Kami mengirimkan penawaran kerja sama via email.
Silakan dicek.
Cheers.