Selasa, 25 Agustus 2015

Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu



Gunung Lawu berada di di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perjalanan menuju gunung Lawu diawali dari Yogyakarta, perjalanan kami menggunakan kendaraan bermotor dengan waktu sekitar tiga jam. Rute dari Yogyakarta adalah Yogyakarta – Klaten – Solo – Karanganyar – Tawangmangu. Basecamp pendakian Gunung lawu ada dua yaitu rute Cemoro kandang yang berada di Tawangmangu, Karanganyar, dan Cemoro Sewu yang berada di Jawa Timur.

Untuk yang baru belajar naik gunung bisa baca artikel Tips Mendaki Gunung
Nama asli gunung Lawu adalah Wukir Mahendra. Menurut legenda, gunung Lawu merupakan kerajaan pertama di pulau Jawa yang dipimpin oleh raja yang dikirim dari Khayangan karena terpana melihat keindahan alam diseputar Gunung Lawu. Sejak jaman Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit pada abad ke 15 hingga kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro, para kerabat Keraton sering berjiarah ke tempat-tempat keramat di puncak Lawu.

Gerbang masuk Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu
Untuk pemberangkatan, kami memilih rute Cemoro Sewu karena Jalurnya lebih cepat namun lebih terjal. Pos retribusi cukup membayar tiga ribu per orang, sedangkan motor kami titipkan di rumah penduduk dengan biaya titip sebesar lima ribu per motor. 

Kami berempat berangkat dari basecamp selepas adzan maghrib, jadi kondisi jalan sudah gelap dan senter merupakan senjata utama kami. Kabut mulai turun dengan dingin yang menembus jaket sampai ke tulang. Maklum saja, gunung Lawu dinobatkan sebagai salah satu gunung ter-dingin di Pulau Jawa. 

Di awal perjalanan, jalan yang kami lalui masih jalan setapak menembus kungkungan pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi didalam gelap. Kunang-kunang menari kesana-kemari. Sudah lama saya tidak melihat kunang-kunang, apalagi di kota seperti Yogyakarta. Saya selalu mempunyai keinginan untuk menangkap kunang-kunang dan memasukannya kedalam botol, alih-alih sebagai pengganti penerangan jikalau baterei senter sudah habis. 

Beberapa penelitian menunjukan kalau disuatu tempat terdapat kunang-kunang berarti tempat tersebut udaranya bersih alias miskin polusi. Saya rasa benar juga, karena udara disini memang sangatlah bersih, sampai-sampai hidung saya perih saat menghirup oksigen di kaki Gunung Lawu ini.

Jalan landai yang kami lalui tidak bertahan lama, karena sekitar satu setengah jam perjalanan dari basecamp jalanan mulai menanjak. Jalanan berbatu dan berdebu menjadi penantang kami. Seperti pada umumnya pendakian gunung, kami harus melewati pematang sawah, lembah dan juga naik turun bukit. Saat berada diatas bukit, terlihat pemandangan kota dibawah, sungguh indah gemerlap cahaya lampu dari atas sini. 

Kami beristirahat menyesuaikan kecapekan kami, jika kami merasa capek maka kami akan beristirahat, tidak terburu-buru. Yang menjadi kendala selama perjalanan ini adalah tidak adanya nama-nama pos-pos pendakian. Umumnya disetiap jalur pendakian tersedia beberapa pos sebagai patokan lama tempuh perjalanan. Namun di Gunung Lawu ini tidak ada plakat nama atau nomer pos, padahal tempat-tempat yagyang bentuknya seperti pos itu banyak sekali. 

Yang membedakan Gunung Lawu dengan gunung-gunung lainnya adalah banyaknya warung disepanjang jalur pendakian, terutama jalur Cemara sewu, karena jalur ini merupakan jalur para peziarah. Namun sayangnya disaat pendakian kami, semua warung tutup, hanya satu warung saja yang buka, yaitu di puncak. 

Gubuk para peziarah Gunung Lawu
Sebenarnya jalur Cemara Sewu ini sudah dibuat tangga-tangga disepanjang jalur, namun kondisinya sudah tidak terawat sehingga banyak yang rusak, selain itu tangganya sangat terjal, sehingga tenaga begitu terkuras, alhasil frekuensi istirahat kami sangat banyak. Setelah hamper 6jam perjalanan, kami sampai di pos 4, tempatnya sangat kecil dan tepat di pinggir jurang. Untung saja tempatnya tertutup oleh tebing dan semak sehingga angin tidak begitu mengganggu kami. Tenda didirikan dan kamipun tidur pulas sampai pagi.
 
Mendekati Puncak Gunung Lawu
Kami tidak begitu antusias untuk menyaksikan sunrise  dari Gunung Lawu ini, jadi kami bangun pukul 8 pagi, tutup tenda, dan mengemasi barang-barang kami terlebih dahulu. Setelah ngopi dan ngerokok, kamipun melanjutkan perjalanan kami semakin keatas. Semakin terjal juga jalan yang kami lewati. Semangat kami berkobar karena semakin ke atas, pemandangan disekitar semakin indah. 

Hal yang kami sesali adalah, mengapa kami mendirikan tenda di pos 4 yang sempit itu, padahal sekitar 45 menit berjalan dari pos 4 maka kami akan sampai di pos 5 yang tempatnya lapang dan dan banyak tumbuh rerumputan yang pastinya bakal membuat kami betah berlama-lama disitu. Tapi ya sudahlah, kami hanya dapat istirahat sejenak disini.

Tanjakan Setan Di Gunung Lawu
Jalan setapak menjulur keatas sampai hilang dari pandangan kami. Pemandangan tersebut selain indah juga agak menurunkan semangat kami, seraya berkata “Bajigur!”. Kami harus melewati satu bukit lagi sebelum sampai di pos terakhir. Kami melewati sebuah petilasan yang sepertinya inilah tujuan akhir dari para peziarah. 

Petilasan tersebut merupakan tempatnya Eyang Sunan Lawu. Tempat bertahta raja terakhir Majapahit memerintah kerajaan Makhluk halus. Disamping petilasan atau makam tersebut terdapat mata air yang katanya mata air keramat. Banyak dari peziarah yang membawanya pulang untuk berbagai keperluan seperti pengobatan, pagar diri, dll. Disekitar petilasan tersebut banyak berjejer warung-warung non permanen dari bamboo/kayu namun sayangnya semuanya tutup. 


Petilasan Sunan Lawu di Gunung Lawu
Terdapat sebuah mata air yang disebut Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus. Air sendang ini dipercaya dapat memberikan mujijat bagi orang yang meminumnya. Juga terdapat bangunan yang berupa bilik-bilik untuk mandi, karena para pejiarah disarankan untuk menyiram badannya dengan air sendang ini dalam hitungan ganjil.

Juga ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak, gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa. Sumur ini berupa lubang bergaris tengah sekitar 3 meter. Untuk turun ke dalam sumur harus menggunakan tali dan lampu senter karena gelap. Di dalam sumur terdapat pintu goa dengan garis tengah 90 cm. Konon di dalam sumur Jolotundho ini sering digunakan untuk bertapa, dan digunakan guru-guru untuk memberi wejangan/pelajaran kepada muridnya.


Dari petilasan menuju pos terakhir terdapat beberapa bangunan permanen yang ukurannya lumayan besar, hamper menyerupai sebuah aula. Mungkin bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat inap para peziarah. Nah, pos terakhir ini ditandai dengan berdirinya sebuah warung yang bernama “Hargo dalem, Warung Mbok Yem” hanya satu warung ini yang tetap buka sepanjang waktu. 

Yang punya warung ini adalah seorang nenek yang dipanggil Mbok Yem, namun pada saat kami kesana, si “mbok” ini sedang turun gunung, yang menjaga warungnya adalah seorang pria paruh baya yang tampaknya merupakan putra dari Mbok Yem. Seorang nenek-nenek naik-turun gunung dengan begitu mudahnya??? Kami yang masih muda seperti ini saja sudah kepayahan saat naik gunung, benar-benar hebat!


Satu-satunya warung yang berada di Puncak Gunung Lawu
Terdapat padang rumput pegunungan banjaran / Festuca nubigena yang mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua menjelang Pos terakhir menuju puncak pada ketinggian 3.200 m dpl yang biasanya kering di musim kemarau. Konon pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul. Namun sebaiknya jangan coba-coba untuk mandi di puncak gunung karena airnya sangat dingin. Rumput yang tumbuh di dasar telaga ini berwarna kuning sehingga airnya kelihatan kuning. Telaga ini diapit oleh puncak Hargo Dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar telaga Kuning ini sekitar 4 Ha.



Puncak lawu berjarak setengah jam dari warung, menaiki satu bukit terakhir yang lumayan terjal jalannya. Pemandangan dari puncak terlihat kurang sempurna karena tertutup awan, namun kami cukup puas dengan penaklukan ini. Puncak Argodumilah pada saat tertutup awan sangat indah, kita menyaksikan beberapa puncak lainnya seperti pulau - pulau kecil yang dibatasi oleh lautan awan, kita merasa berada di atas awan-awan seperti di kahyangan. 

Baca Juga Catatan Perjalan Mendaki Gunung Sindoro, Merapi, dll.

Bila udara bersih tanpa awan kita bisa melihat Samudera Indonesia. kita dapat melihat pantulan matahari di Samudera Indonesia, deburan dan riak ombak Laut Selatan sepertinya sangat dekat. Sangat jelas terlihat kota Wonogiri juga kota-kota di Jawa Timur. Tampak waduk Gajah mungkur juga telaga Sarangan. Setelah dirasa cukup menikmati puncak lawu, kami turun kembali ke warungnya simbok Yem untuk menikmati nasi pecel ala puncak Lawu dengan segelas teh manis hangat.


Kami turun lewat jalur Cemara Kandang, Jalurnya mudah namun cukup jauh. Jalurnya dibuat melingkar, jadi tidak begitu terjal. Satu hal yang kami sangat berhati-hati di gunung Lawu ini adalah, tidak menyakiti burung jalak yang ada di gunung ini. Hampir sepanjang perjalanan, pasti kami selalu ditemani oleh burung-burung jalak ini, yang menurut mitos merupakan penunggu gunung ini. Burung tersebut katanya akan selalu menemani dan mengawasi kita sepanjang perjalanan. Jika kita menyakiti burung tersebut atau menangkapnya, maka kita akan mendapatkan kutukan. Percaya atau tidak, terserah anda. Hal tersebut masih dapat saya maklumi, mungkin mitos tersebut bertujuan untuk melindungi burung tersebut dari ancaman pemburu liar. Karena larangan yang paling dipatuhi oleh orang Indonesia adalah larangan berbasis pamali atau mitos dan legenda.


Goodbye Lawu, goodbye warung Mbok Yem, goodbye burung jalak.

4 comments:

Gama Nanta mengatakan...

Wah, indah sekali, salam kenal mas, saya rifqy dari malang, kasih tahu tarif transportnya dong mas ke gunung lawu, dan kondisi jalur pendakiannya, makasi :)

respectbywalk.blogspot.com
gamananta.blogspot.com

Abenx Sagara mengatakan...

Sory baru tau ada komen mas, hehe. Transport untuk naik bus saya kurang paham , yg jelas dr solo --> karanganyar --> tawangmangu.
Kondisi jalur pendakiannya lumayan ngeselin tapi aman mas, ga mungkin tersesat soalnya hnya ada satu jalan saja.

hanny joeghaz mengatakan...

wach bagus banget. huch jadi niat banget mendaki gunung lawu.



biaya transprot gak mahal dari malang
~ magetan ~ sarangan ngg akan abis 200

Pria Abi mengatakan...

assalamualaikum.. halo... saya Gatot Cermin Dari Magetan..