Saturday, August 30, 2014

Berburu Batu Mulia Di Sungai Klawing

Jembatan Gantung Sindang, Purbalingga.
Purbalingga - Sungai Klawing merupakan sungai utama di Kabupaten Purbalingga yang juga merupakan sungai terbesar. Sungai ini membelah Purbalingga dari utara ke selatan. Bermula dari kaki gunung Slamet kemudian terus mengalir kebawah atau keselatan melewati beberapa kecamatan dan akhirnya bermuara di daerah Congot pada pertemuan antara Sungai Klawing dan Sungai Serayu.


Batu-batu berwarna di Sungai Klawing
Walaupun sekedar sungai, ternyata Sungai Klawing mempunyai potensi yang luar biasa. Diantara potensi-potensi yang dipuyainya adalah potensi batu mulianya. Sebenarnya bukan batu mulia kalau saya bilang, namun batu semi precious stone atau batu semi mulia yang banyak ditemukan di Kali Klawing. Beberapa waktu lalu penelitian gabungan dari ITB dan UNSOED menemukan beberapa jenis batu seperti Jasper, Crystal Quartz, Hematite, Heliostone, Citrine, dll. batu-batu ini mempunyai aneka warna-warni yang menarik dan setelah diproses bisa dijadikan hiasan, ukiran, permata, dll.


  
Kunjungan (Mantan) Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo
Setelah saya browisng di internet tentang Sungai Klawing akhirnya saya bersama teman saya sepakat untuk melakukan perburuan batu mulia di Sungai Klawing. Titik pertama perburuan kami adalah daerah pertambangan pasir dan batu/kerikil di sekitar bendungan Slinga, Kecamatan Kalikajar. Waktu kami kesana pas ada kunjungan dari Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo yang sedang meninjau pembangunan proyek bendung Slinga, jadi kami sempat terhambat sekitar satu setengah jam. kunjungan paling hanya satu jam namun memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit, Indonesia.


Banyak sekali batu-batu kecil yang berserakan di sekitar kanan-kiri sungai. Saya harus cermat dalam melihat batu-batu tersebut karena beberapa batu yang bagus tertutup debu dan tanah sehingga tidak terlihat jelas warnanya. Kami menyusuri sepanjang sungai dengan menggunakan motor, jadi selain berburu batu juga sekalian offroad-an, hehe. Banyak kegiatan masyarakat yang dilakukan disini seperti menambang, mencuci motor, memancing, menjaring ikan, dll. Batu mulia di sungai Klawing amat mudah ditemukan, berserakan disepanjang jalan berbatu yang kami lalui. Tampaknya masyarakat belum mengerti akan nilai ekonomi dari batu-batu sungai Klawing ini ya?



Sebelum batu dipilih, alangkah baiknya untuk membelah batu tersebut terlebih dahulu untuk melihat isi/warna yang ada didalamnya. Saya membelahnya menggunakan palu, karena terkadang batu yang dari luar terlihat bagus, belum tentu dalamnya bagus, begitu juga sebaliknya. Batu-batu kami cuci disungai supaya warna aslinya terlihat jelas. Sungguh indah, kami menemukan beberapa Jasper warna-warni seperti merah, oranye, hijau, biru, kuning, dan panca warna (warna dibatu lebih dari satu). Batu-batu kristal kuarsa yang bening dan tembus cahaya beragam warna yakni putih, bening, coklat, oranye, kuning, dan hijau.


Saya juga menemukan beberapa bloodstone atau istilah lokalnya nogosui. Batu ini mempunyai warna hijau tua dengan bercak-bercak merah seperti tetesan darah. Orang Prancis menyebutnya le sang du Christ atau batu darah Kristus dan digunakan sebagai lambang kebangsawanan bangsa Prancis. Selama ini batu tersebut baru ditemukan di India, namun sekarang ternyata sungai di kota kecil ini juga memilikinya. Potensi alam Purbalingga ternyata luar biasa!


Pemandangan di sepanjang sungai Klawing juga indah, airnya jernih sehingga ikan-ikan kecilpun terlihat. Di bagian hulu arusnya cukup deras sehingga sering dijadikan tempat untuk rafting atau arung jeram. Perburuan yang dimulai pukul 8 pagi akhirnya kami akhiri pukul 3 sore. Kami membawa pulang banyak sekali batu-batu mulia khas sungai Klawing, tinggal dipotong, dibentuk, gosok, dan poles, untuk kemudian dijual dengan harga tinggi.



Sayangnya pemerintah Purbalingga belum mulai mensosialisasikan manfaat dari batu-batu mulia yang berserakan di sungai Klawing ini kepada masyarakatnya. Bahkan batu-batu berharga tersebut ikut tertambang oleh penambangan batu dan pasir. Padahal jika masyarakat tau akan potensi batu daerahnya dan diberikan fasilitas oleh pemerintah, maka mungkin Purbalingga akan menjadi sentra batu mulia yang pamornya tak kalah dengan Pacitan, Banten dengan kalimayanya, dan Bacan dengan batu Bacannya.


Bagus buat hiasan akuarium

9 comments:

Ling-ling said...

Salam...

Bisa ga kami pesan batunya? kami kontak kemana?

Terima kasih

imam ciprut said...

Keren sob

www.kiostiket.com

Anonymous said...

yg mau di carikan batu seperti itu bisa email saya saya tinggal di dekat sungai klawing
anagdesa@ymail.com

saung aira said...

Dekat sroto pengadian bkn tempatna

Dwi Prasetyo said...

Ternyata gak sia2 juga saya ngambilin batu ITU.mending saya ngambil lagI ke sana

Gamis Baru said...

waoww
disana ada kayak gitu ya sob?
skali kali ingin ah kesana, ingin nyoba peruntungan mencari batu yang bagus, siapa tahu dapet yang istimewwa

Arwah said...

ada yg bisa bantu saya ? saya ingin membuka usaha batu2 cincin,.. terlepas dari modal besar atau kecil, saya ingin mengetahui secara detail apa saja yg dipersiapkan untuk membuka usaha batu2 cincin/mulia itu? terima kasih

Heri said...

Niate arep maring kebumen (karangsambung), tapi ternyata di daerah purbalingga ada daerah dengan potensi batu yang sangat luar biasa, jadi batal ke karangsambung, nyari yang lebih deket aja.... sekali-kali pengin dolan ah, sapa ngerti bisa entuk watu sing maen...

Evi Dwiratnasari said...

Ku cuman kasih komen ni..buat waspada kita smua kususnya bangsa ini...hati2 jangan sampe SDA kita di manfaatin ma bangsa lain?karna ulah kita sendiri???!jadi tingkatkan SDM kita agar tidak mudh dibohongi....ok bro....
:-)