Selasa, 17 Maret 2015

Bromo, Sebuah Keagungan Mentari Sang Brahma


Bromo, sudah lama saya mendengar cerita dari teman-teman yang pernah melancong kesana. Kata mereka Bromo itu indah dan menakjubkan, terutama saat sunrise. Akhirnya saya terinisiasi. Segera saya browsing di internet tentang Bromo di beberapa blog dan milis-milis traveling. Nama Bromo berasal dari bahasa sansekerta yaitu Brahma, salah satu dewa utama Hindu. 

Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini dan mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut , meliputi empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. 

Baca : Backpackeran di Kota Hujan, Malang

 Saya bersama tiga orang teman sepakat berangkat ke Bromo melalui Malang dengan naik kereta api Matarmaja dari Solo. Saya sempat singgah dulu sambil jalan-jalan di Malang selama satu hari. Esoknya pukul sembilan pagi saya berangkat ke Bromo dari Malang naik bus ke Probolinggo, tarifnya cukup murah, hanya Rp. 12.000 dengan lama perjalanan kurang lebih tiga jam.

Kendaraan ini disebut 'Bison'
Sesampainya di terminal Probolinggo saya menuju ke tempat mangkal mobil angkutan menuju Bromo, atau biasanya disebut Bison, namanya memang keren tapi sebenarnya adalah angkutan kota kuno atau kalau di Jogja biasa disebut Kobutri. Satu mobil bisa muat sampai empat belas orang, kebetulan pas saya datang sudah ada enam orang, ditambah kami jadi sepuluh orang, jadi tinggal menunggu empat orang lagi. Dirombongan kami itu ada dua bule, satu dari Prancis dan satunya lagi dari Belgia. Akhirnya sambil menunggu empat orang lagi sebelum mobil berangkat, kami ngobrol-ngobrol dulu dengan bule-bule tersebut. 

Si bule dari Prancis bernama Cleude, dia umurnya sudah lumayan tua. Selama bekerja, dia selalu menabung sebagian gajinya hanya untuk berkeliling dunia ketika pensiun nanti. Si Cleude ini merupakan golongan menengah kebawah di negaranya, dia bahkan tidak punya rumah di Prancis sana. Kemarin-kemarin dia berusaha mendaftarkan anaknya disalah satu hotel di Bali untuk menempati posisi chef. Namun karena birokrasi di Indonesia terlalu njelimet, akhirnya anaknya bekerja di Australia.

Hampir satu jam kami menunggu empat orang yang tidak kunjung datang. Akhirnya kami bersepuluh setuju untuk membayar tarif Bison ini dengan tarif yang lebih mahal tentunya, karena minus empat orang. Tarif standar naik angkutan ini Rp. 25.000, itu jika kapasitasnya maksimalnya terpenuhi, namun kami terpaksa membayar Rp. 35.000/orang karena menanggung biaya empat tempat duduk yang kosong itu. 

Perjalanan dari terminal Probolinggo ke Bromo mamakan waktu kurang lebih sekitar 45 menit. Sopir Bison yang kami tumpangi ini membawa kami ke salah satu penginapan murah alias homestay, kami dipatok harga untuk satu kamar yang terdiri dari dua bed seharga Rp. 100.000. Padahal waktu saya browsing di internet, homestay model seperti ini paling mahal hanya Rp. 60.000 satu kamar. 

Sebenarnya saya tidak setuju dengan harga yang ditawarkan oleh sopir yang merangkap calo ini, tapi teman-teman saya dengan alasan tidak mau repot menyetujui begitu saja. Selain itu si sopir merangkap calo ini juga menawarkan kami untuk menyewa jeep yang nantinya akan mengantarkan kami ke Pananjakan dan Bromo pergi-pulang. Kata si calo ini harganya Rp.350.000, satu jeep muat untuk enam orang. Kami dipasangkan dengan dua orang bule tadi. Kami menyanggupi saja karena kami kira itu tarif standar sewa jeepnya. Ditambah lagi kami dua bule tersebut dipatok seratus ribu per orangnya, jadi sudah dua ratus ribu, kami berempat tinggal menggenapi sisanya saja, benar-benar tawaran yang menarik. Setelah deal, si calo-pun pergi. Saya ngobrol dengan supir jeep tersebut, ternyata kami hanya diantar sampai Pananjakan 1- Bromo saja, padahal tarif Rp. 350.000 itu sebenarnya adalah tarif  dengan rute Pananjakan 2 – Bromo. Seharusnya kami hanya perlu bayar Rp.250.000 saja. Ahh, betapa sial nasib kami.


Kami rehat sejenak, berbaring di kasur yang empuk tidak, keras juga tidak. Saya terlelap sampai jam setengah lima sore. Saya bergegas bangun dan buru-buru berjalan ke salah satu tempat untuk melihat sunset. Disitu banyak wisatawan mancanegara, namun wisatawan domestiknya sedikit, jadi saya merasa seperti bukan di Indonesia saja. 

Dimana-mana yang saya lihat hanyalah bule-bule yang di suhu dingin seperti Bromo ini hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Sedangkan saya mengenakan baju seperti mau perang saja dengan kaus dua lapis, jaket tebal, sarung tangan, celana panjang dan penutup kepala. 

Sunset di Bromo lumayan indah, titik tenggelamnya matahari adalah dibalik pegunungan. Semakin turun matahari, semakin memerah langit di atas sana. Matahari sore ini bak foto model saja, semua orang siaga dengan kameranya, menjepret kepada satu titik saja, sunset.


Tenggelamnya matahari di iringi bubarnya kerumunan wisatawan yang kembali ke penginapannya masing-masing, termasuk saya. Tidak ada niatan sedikitpun bagi saya untuk mencicipi mandi di Bromo malam hari yang dinginnya menusuk tulang seperti ini. Daripada diam di kamar yang lantainya semakin lama semakin basah. Saya dan teman-teman memutuskan untuk cari kehangatan dari secangkir kopi di warung terdekat. 

Sambil ngopi-ngopi, kami juga memesan nasi goring yang harganya cukup murah, Rp. 6000. Sambil ngopi, saya ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak pemilik warung yang asli warga dari Suku Tengger ini. Beliau bercerita bahwa sopir-sopir Bison di terminal Probolingga itu merupakan calo-calo yang benar-benar mencekik leher para wisatawan. Para calo ini tidak tega mengeruk untung hampir dua kali lipat. Hal ini menyebabkan pariwisata di Bromo semakin lama semakin menurun karena ulah para sopir merangkap calo tersebut. Apalagi kepada turis mancanegara, rakusnya minta ampun. Padahal turis mancanegara tidak semuanya kaya, seperti Cleude dari Prancis tadi. Bapak warga asli Tengger ini hanya berharap ada perhatian dari pemerintah terkait maraknya pencaloan oleh sopir angkutan di terminal Probolinggo. 

“Bromo itu Tengger dan Tengger itu Bromo mas, kasihan kami lah yang sudah dari dulu hidup di Bromo, semakin lama semakin sepi pengunjungnya” kata bapak yang bernama Adi ini. 

Dia berkata bahwa penginapan kami itu sebetulnya hanya Rp. 40.000 satu kamar, sementari tariff jeep kami yang rutenya Pananjakan 1- Bromo itu hanya Rp. 200.000 saja. Jadi lain kali jika ke Bromo lebih baik mencari-cari sendiri saja, jangan mengikuti calo. Jika si calo memaksa, laporkan saja pada petugas keamanan.


Disela-sela obrolan kami, teman saya dari Jogja datang dengan naik motor, dua orang satu motor. Teman saya ini sedang touring dengan rute Jogja-Surabaya-Madura-Bromo-Jogja. Kebetulan kami di Bromonya pas sekali bertepatan waktunya. Akhirnya saya dengan empat orang teman saya mendapat dua teman ngobrol baru. 

Karena waktu yang sudah malam, kamar saya dipakai untuk enam orang. Tak masalah, malah tambah hangat. Suhu benar-benar dingin, mendekati dua derajat celcius. Karena capek dan dingin akhirnya kami tertidur. 

Jam empat pagi, kamar kami digedor oleh sopir jeep. Jeep sudah mau berangkat, karena kami mengejar sunrise. Kami pun bergegas, dan ternyata dua bule rombongan kami sudah siap sedia di jeep. Benar-benar budaya orang bule itu benar-benar menghargai waktu, tidak seperti budaya ngaret negeriku. 


Tidak sampai 15 menit, jeep sudah sampai di parkiran Pananjakan 1. Dari parkiran, saya masih harus naik ke atas bukit, lumayan jauh dan lumayan membuat nafas ngos-ngosan. Di Pananjakan 1 sudah tedapat wisatawan, kebanyakan mancanegara, tengah menanti datangnya sang mentari pagi. Banyak pedagang souvenir dan minuman hangat disini, tapi harganya dua kali lipat dari harga normal. Maklum saja, aksesibilitasnya lumayan sulit di atas bukit ini. 

Mentari pagi yang kami nanti-nantikan pun datang. Semua orang sibuk dengan kameranya. Sunrise bromo benar-benar indah. Matahari muncul dengan cahaya keemasannya, menyinari Bromo dan barisan gunung disekitarnya. Sungguh indah, pantas saja sunrise Bromo ini dinobatkan sebagai salah satu sunrise terindah di Asia. Puas menikmati dan mengabadikan sunrise bromo. Saya pun turun dengan rombongan kembali ke parkiran jeep dan menuju ke Bromo.



Jeep melewati padang pasir yang lumayan luas menuju Kawah Bromo. Kawah Bromo ini mempunyai garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Jarak parkiran jeep dengan kawah Bromo lumayan jauh. 

Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. 

Dari parkiran jeep, saya melihat pura yang berdiri sendiri ditengah lautan pasir Bromo ini, memberikan suasana mistis sekaligus menakjubkan bagi saya. Setelah puas mengabadikan gambar pura ini, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju kawah Bromo ini. Pendakian menuju kawah Bromo lumayan sulit, tanjakannya benar-benar membuat nafas saya ngos-ngosan

 Beberapa kali saya berhenti di tengah jalan untuk mengembalikan nafas saya yang hampir hilang. Bagi yang tidak kuat mendaki, banyak tersedia kuda-kuda yang siap ditunggangi dengan harga sewa mulai dari Rp. 20.000 - Rp. 70.000, tergantung nego. Sesampainya di atas kawah, pemandangannya benar-benar indah. Sunrise dan pemandangan di Bromo ini begitu menakjubkan. Rasa-rasanya hilang sudah kekecewaan saya karena ditipu oleh calo-calo tadi. Bromo begitu fantastis! 



Setelah puas menikmati Bromo, saya pun kembali ke penginapan untuk packing barang-barang dan makan pagi, untuk selanjutnya kembali ke Malang dilanjutkan menuju Yogyakarta. Saya harap saya dapat kembali lagi ke Bromo nanti, dan tidak akan tertipu lagi oleh calo-calo tersebut. Goodbye Bromo, Your Sunrise is Amazing! 

UPDATE : Ongkos transportasi mungkin lebih mahal dikarenakan kebijakan pemerintah dan harga BBM yang naik.

8 comments:

momonway mengatakan...

Bromo, memang gak pernah ada matinya..Good.

Abenx Sagara mengatakan...

hahaha, yes, bro,o is the best ever,at least for now,hehehe

Anestiya noble mengatakan...

keren...mau kesana lagi tapi jalan kaki ke penanjakannya

Fahmi mengatakan...

Kalo ke bromo coba trekking trus stay overnight by tent bro, bakal menjadi pengalaman gak terlupakan :)

amadaffa mengatakan...

kemarin pgn ngecamp dibromo ga boleh. kecuali pas acara2 rame seperti kasada dan tahun baru.

Abenx Sagara mengatakan...

iya, ngecamp-nya ga bisa di pasirannya. Bisanya di daerah sekitar pemukiman, udah disediain tempatnya sih..

Fahmi mengatakan...

Kemarin aku juga abis dari bromo, tapi naik sepeda motor dari bali. Capeeek! tapi asiklaah, di bromo dapet penginapan rada mahal sih 200 ribu diisi 3 orang, tapi viewnya cakep dari penginapan, aku oke in aja. Trus, sampe pananjakan rencananya mau naik pake sepeda motor, tapi ternyata cuma boleh sampai parkiran jeep. Yaudah, lanjut jalan kaki lah, capek tapi seneeeng :D

Rental Mobil Malang dan Sewa Mobil di Malang Murah Online mengatakan...

Menarik. Artikel yang bagus. Salam kenal dari Rent Car Malang Simpati 0821 41555 123