Jumat, 14 November 2014

Warung Kopi Sederhana yang Bersahaja


Seorang lelaki tua dengan uban sebagai warna rambutnya.
Keriput sebagai make-up-nya tengah sibuk meracik kopi di warungnya yang sederhana.
Bekerja seorang diri namun raut mukanya segembira pengantin muda.
Kadang si kuntum bunga mawar kecilnya membantu dengan semangat.
Warung kopi sederhana yang bersahaja.

Bukan AC sebagai penyejuk, hanya kipas angin tua tergantung di langit-langit sedang memusingkan dirinya sendiri.
Bukan sofa empuk yang kududuki, hanya kursi resepsi berwarna merah tua yang lapuk termakan usia.
Bukan TV layar datar sebagai temannya, hanya sebuah TV layar cembung 12 inch tua yang digerumuti semut-semut.
Bukan hasil karya fotografer ternama yang tertempel di dinding, namun lukisan sederhana dengan bingkai kayu tua menutupi dindingnya yang lapuk.
Bukan espresso machine  merk terkenal yang dia punya, hanya termos air panas kembang-kembang menyirami kopi ke sebuah cangkir tua.

35 toples bertuliskan macam-macam kopi lokal tersusun berderet-deret di sebuah rak abu-abu yang berdiri dengan gagah di tengah ruangan.
Jangan khawatir soal harga yang selangit, seperti di coffeeshop-coffeeshop terkenal itu.
Cukup uang sepuluh ribu yang nanti akan di kembalikan setengahnya.


Di warung kopi bapak tua bersahaja ini aku merasakan suasana pecinta kopi sejati.
Seorang tua yang selalu tersenyum di masa senjanya dalam kesederhanaan itu.
Sebuah warung kopi sederhana yang bersahaja.

Oemah kopi Oemah Sedulur, Yogyakarta