Wednesday, June 7, 2017

Menikmati Sunset Candi Ijo, Candi Tertinggi di Jogja


Jika ditanyakan kegiatan apa yang paling berkualitas untuk mengisi waktu luang? Jawaban saya adalah baca buku dan jalan-jalan! Dua kegiatan ini mampu mengisi kekosongan kita dengan sesuatu yang bermanfaat yakni pengalaman, wawasan, dan pengetahuan. Mungkin jawaban tersebut bisa dibilang naif dan klise karena saya sendiri sebenarnya masih terjebak dalam gelombang dusta sosial media. Ada waktu senggang sedikit pasti langsung buka instagram atau facebook, kalau lagi banyak kuota ya youtube.

Sunday, May 28, 2017

Candi Gebang, Si Kecil Yang Penyendiri


Saya sangat akrab dengan sebuah jalan yang bernama Candi Gebang. Lokasinya yang dekat dengan rumah membuatnya sering saya lewati. Dulu saya kira 'Candi Gebang' hanyalah sebuah nama jalan atau perumahan. Sama seperti 'Candi Indah' yang saya kira nama dari sebuah candi tapi setelah dicari-cari ternyata merupakan sebuah perumahan semi elit, bukan sebuah candi. Syukurlah Candi Gebang yang saya maksud bukanlah sebuah perumahan, melainkan memang nama dari sebuah candi peninggalan peradaban masa lalu.

Friday, May 26, 2017

Berburu Barang Antik di Hari Pasaran Pancawara Yogyakarta


Salah satu hobi saya kalau sedang tidak ada kerjaan adalah berburu barang-barang vintage, antik, jadul, dan unik sekedar sebagai penghias rumah atau di alih fungsikan jadi sesuatu yang lebih yahud, istilah bulenya 'upcycle'. Tempat berburu barang-barang tersebut di Jogja selain di Pasar Klitikan, Pasar Niten Bantul , dan Pasar Senthir adalah di Pasar Pasaran Pancawara.

Tuesday, May 23, 2017

Menyusuri Panjangnya Pantai Trikora di Pulau Bintan


Pantai Trikora terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Riau Kepulauan. Berjarak 45 km dari Tanjung Pinang, atau 70 km dari Tanjung Uban.

Friday, May 19, 2017

Chinese Garden Singapore, Ketenangan di Tengah Riuhnya Metropolitan


Walaupun sebuah kota besar yang sibuk, Singapore mempunyai banyak tempat untuk menyepi dari penatnya kehidupan yang serba cepat ala kota metropolis. Banyak taman yang selalu penuhi oleh warga di setiap sudut kotanya. 

Ketika saya mengelilingi kota saya banyak melihat taman hijau yang luas dan rindang. Kanopi-kanopi pepohonan tropis tampak dari kejauhan menggelayut tertiup angin. Menurut situs Dinas Pertamanan Singapore (nparks.gov.sg) ada 1626 taman dan hutan kota yang tersebar di seluruh penjuru Singapore, termasuk taman atas gedung (roof garden) dan beberapa pohon lindung.

Ayo Bantu Kawan Kita Yang Terancam Punah!


Hei! Apakah kalian tahu kalau tanggal 19 Mei adalah sebuah hari berbahagia untuk teman-teman kita di luar sana? 19 Mei adalah World Endangered Species Day! Hari yang dikhususkan untuk teman-teman lucu kita yang mungkin jika kita tidak ikut turun tangan maka suatu saat nanti anak-cucu kita tidak bisa melihat mereka lagi. Sedih bukan? Saya selalu penasaran dengan yang namanya burung dodo, mereka punah pada abad ke 16, sekarang, saya hanya bisa melihatnya melalui gambar dan film-film fiksi saja.

Monday, May 15, 2017

Candi Kalasan, Sebuah Penghormatan Bagi Jiwa Yang Bebas


Jalanan siang itu sangat padat, truk dan bus saling salip, saya yang hanya menaiki sebuah motor matic tua melaju dengan kecepatan seadanya, tak sampai 40km/jam, mungkin.

Tepat di pinggir jalan raya, saya dikejutkan oleh sosok bangunan berbatu tinggi menjulang. Bangunan batu tersebut tampak kontras dengan rumah-rumah semen di sekelilingnya.

Wednesday, May 10, 2017

Gemerlap Cahaya Jamur dan Kunang-Kunang di Kampung Baduy Dalam


Perjalanan diawali dari Yogyakarta langsung menuju Banten, tepatnya di Leuwidamar, Kabupaten Lebak, melewati jalur selatan. Dari kota Lebak kami langsung menuju ke desa Kanekes yang berada di kaki Pegunungan Kendeng melewati perbukitan dengan lama perjalanan sekitar dua setengah jam. Jalan yang kami lewati sebenarnya sudah di aspal, namun masih terdapat beberapa lubang di kanan, kiri, bahkan di tengah, sehingga mobil yang kami tumpangi terpaksa 'berdisko'. 

Friday, May 5, 2017

Dongeng Dari Negeri Sabana : Simalakama Adat Leluhur


...Lanjutan Dari Dongeng Dari Negeri Sabana: Nyanyian Anak-Anak Rumput

Kakek Yoha meyuruh cucunya untuk mengambilkan sirih pinang di dalam rumahnya. Sejurus kemudian, satu set sirih pinang sudah ada di depan saya. Kakek lantas mengambil sebuah pinang dan mengunyahnya disusul dengan sedikit taburan kapur. Penasaran, saya pun ikut mencobanya. Beberapa detik setelah mengunyanya, mulut terasa seperti terbakar dan kepala agak melayang-layang. Sensasi pedas dan sengar beradu di dalam mulut. Sesekali saya meludahkannya ke tanah yang langsung berwarna merah, kemudian kembali mengunyahnya. Satu kali mencoba, saya langsung mulai akrab dengan rasanya. Setelah pinang pertama habis, saya lanjutkan pinang kedua sambil sesekali menghisap rokok kretek yang saya bawa. 

Thursday, May 4, 2017

Dongeng Dari Negeri Sabana : Nyanyian Anak-Anak Rumput


Pada suatu siang yang terik di sebuah negeri sabana bernama Sumba. Sejauh mata memandang, saya hanya melihat padang rumput dan semak belukar. Kadang diselingi pohon-pohon kurus yang tidak terlalu tinggi. Dua anak kecil tampak sedang menuruni sebuah bukit. 

Anak yang paling besar membawa setandan pisang. Sementara yang kecil tampak membawa sebuah karung yang terisi penuh. Di belakang mereka, satu anak perempuan juga membawa karung dan berlari-lari kecil mengejar dua anak di depan. 

Sesekali mereka berhenti dan menaruh kantong itu di tanah kemudian bermain-main sambil menyanyikan sebuah lagu daerah yang terasa asing di telingaku. 

Di atas padang rumput yang luas, mereka berkejaran kesana-kemari diiringi tawa yang lepas seakan-akan menyiratkan bahwa hidup mereka sungguh bahagia. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika melihat mereka dari kejauhan. Tawa lepas mereka menggema sampai ke tempat saya berada. 

Baca juga tulisan saya lainnya tentang Sumba
Di beranda sebuah rumah panggung yang terbuat dari bambu. Dua babi di kolong rumah tak henti-hentinya menguik sambil menggaruk tanah mencari apapun yang bisa dikunyah. “Ah, itu mereka sudah pulang” kata seorang kakek tua di beranda rumah tempat saya duduk bersila. 

Cucunya yang masih balita duduk di pangkuannya sambil memainkan jenggotnya yang sudah memutih. Namanya Yohanis Lodwig Mete. Dia menyuruh saya memanggilnya Yoha saja, nama panggilannya sejak kecil. 

Sebelumnya, saya yang sedang menyusuri sebuah jalan pengerasan, sebuah jalan tanah bercampur kerikil dan batu kapur diantara bukit-bukit padang rumput tiba-tiba melihat sebuah rumah panggung. Di halamannya terhampar biji-biji kopi yang sedang di jemur. 

Sebagai pecinta kopi, saya langsung tertarik dengan pemandangan itu dan menghampiri rumah satu-satunya yang ada di padang ini. Rumahnya ditumbuhi pepohonan dan semak tinggi yang sengaja ditanam untuk melindungi penghuninya dari panas terik matahari timur. 

Dua gelas kopi panas dan sepiring singkong rebus yang sudah dingin tersaji di hadapanku. "Maaf ini ala kadarnya saja ya bapak" katanya dengan santun saat menghidangkan suguhan yang menurut saya sudah lebih dari cukup. Seorang asing dengan mata sipit tiba-tiba menghampiri rumahnya lalu di suguhi makan dan minum. 

Sikap dihormati sebagai tamu seperti ini selalu saya dapatkan saat singgah di rumah-rumah penduduk walaupun hanya sekedar untuk bertanya mengenai kehidupan mereka sehari-hari.

Keharusan menghormati tamu memang sudah jadi sebuah ajaran umum di setiap agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Beruntung di Negeri Padang Rumput ini, ajaran tersebut masih terpelihara dengan baik, belum termakan budaya individualisme produk kebudayaan nirkabel.

Anak-anak kecil dari padang rumput tadi dengan ceria memasuki pelataran rumah yang di pagari dengan tumbuhan singkong. "Bapatua (kakek), ini kopinya sa (saya) taruh mana?" tanya si anak perempuan dengan sedikit malu-malu. Sedangkan dua anak lainnya beringsut ke bawah rumah dan menjahili babi-babi yang sedari tadi menguik-nguik terus. "Sini saja, ini bapa dari Jawa mau liat kopinya", jawab Kakek Yoha. 

Sebungkus besar plastik berisi kopi di sodorkan kehadapan saya. Biji-bijian yang masih hijau tersebut masih belum berbau wangi. Kakek Yoha menjelaskan kalau biji kopi ini diambil dari kebunnya yang berada di bawah bukit, dekat dengan sekolahan dua cucunya itu. 

Anak perempuan dengan senyuman yang manis ini punya cita-cita jadi dokter.
Saya baru sadar kalau hari ini memang hari aktif sekolah. Bocah-bocah tadi ternyata baru pulang sekolah, padahal jam di pergelangan tanganku menunjukan sudah pukul tiga sore. "Sekolahnya di mana ade?" tanyaku. Bocah perempuan yang manis itu langsung bersembunyi di balik tubuh saudaranya. Dia tampaknya malu ditanya oleh om-om aneh dari negeri antah berantah ini. Sambil tersenyum cengengesan, dia meminta Kakeknya saja yang menjawab.

Kakek Yoha menjelaskan kalau tempat cucunya sekolah ada di balik bukit, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah bukit yang di maksud. Sekolahnya berada di desa tetangga. Jaraknya sekitar satu setengah jam berjalan kaki.

Di tengah perjalanan, anak-anak juga harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup dalam untuk ukuran anak kecil, sehingga mereka biasanya meninggalkan seragamnya di sekolah. Seragam baru dipakai ketika mereka sampai di sekolah. 

Kakek Yoha juga menjelaskan, pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru kepada cucu-cucunya itu biasa mereka kerjakan di siang hari sepulang sekolah. Karena jika dikerjakan di malam hari, mata mereka akan sakit karena hanya diterangi oleh pelita dari lampu minyak. Penggunaan lampu minyak juga mereka atur se efisien mungkin karena harga minyak mahal. Listrik? Sebuah fasilitas mewah orang kota saja. 


Jalan Pengerasan yang dikelilingi oleh bukit-bukit sabana.
Perjuangan bocah-bocah inilah yang lantas menginspirasi dan memberi motivasi kepada saya untuk terus dan terus belajar tanpa menyerah pada keadaan. Saya yang hidup di sebuah kota besar penuh dengan fasilitas yang memudahkan justru termotivasi oleh perjuangan bocah kecil di Negeri Padang Rumput yang jauh dari kata modernisasi. Belajar adalah tentang proses. 

Proses dalam pembelajaran itulah yang sebenarnya memberi kita wawasan dan pengetahuan. Karena belajar itu tidak berujung. Selama kita hidup kita akan terus belajar dan belajar supaya menjadi pribadi yang lebih baik.