Kamis, 20 April 2017

Traveling Nyambi Kondangan di Pulau Bintan

Pelabuhan Bulang Linggi, Tanjung Uban, Bintan.

Kepulauan Riau menyimpan banyak pantai-pantai indah, namanya saja ‘kepulauan’ pasti banyak pantainya. Salah satu pantai-pantai indah tersebut ada di Pulau Bintan. Pulau Bintan kalau di peta berada tepat di sebelah Pulau Batam. Saya menuju pulau Bintan dari Pelabuhan Telaga Punggur  Batam,  menuju Pelabuhan Bulang Linggi, Tanjung Uban. Ada dua rute menuju Pulau Bintan bila naik kapal laut dari Batam, yaitu lewat pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjung Pinang dan Pelabuhan Tanjung Uban. Kenapa saya lewat Tanjung Uban? Karena saya akan mendatangi pernikahan salah satu teman kuliah saya di Jogja, namanya Danang. Beruntung dia mendapat jodoh cewek Bintan yang aduhai cantiknye, khas awek malay. Akad dan resepsi nikahnya bertepatan dengan kunjungan saya ke Batam jadi harus saya sempatkan untuk hadir di acara sekali seumur-hidupnya.  Selain itu saya juga ada agenda lain yaitu mau plesiran ke pantai-pantai yang ada di Bintan, dan destinasi saya itu lebih dekat dijangkau dari Tanjung Uban ketimbang dari Pinang. Setelah saya searching di google, ada beberapa pantai yang harus saya kunjungi yaitu pantai Trikora dan Lagoy Bay. Lagoy Bay merupakan sebuah resort yang beberapa pantainya merupakan private beach dan tidak sembarangan orang boleh masuk kecuali tamu resort.


Saya membeli tiket kapal speed boat jurusan Tanjung Uban seharga Rp. 45.000. Perjalanannya cukup cepat, hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit mengarungi lautan. Buat yang hobi mabok laut harus waspada karena alunan ombaknya begitu intens. Laju kapal yang cepat, melawan gulungan ombak membuat perjalanannya cukup “menyenangkan”. Saya berangkat dari Batam sekitar jam tiga sore hari dan sampai di Uban sekitar pukul setengah empat kurang. Sesampainya di pintu keluar sudah banyak tukang ojek yang mengantri rezeki berharap salah satu penumpang mau memakai jasanya, maklum saat itu jasa ojek online belum ada di pulau kecil ini. Saya berniat memakai salah satu jasa tukang ojek ini tapi saya tunda dulu karena warung kopi di depan pelabuhan sangat menggoda untuk disinggahi. Saya pun memesan segelas kopi hitam dan duduk di bagian pojok warung sambil menikmati lalu lalang pengunjung pelabuhan. Saat saya akan membayar kopi, abang kasir mengenali logat jawa saya dan bertanya “ Mas, dari Jawa ya?” saya pun membalas “Iya mas, dari Jogja”, ternyata mas kasir yang juga pemilik warung tersebut juga berasal dari Jawa juga, tapi saya lupa Jawanya mana. Mas tersebut sudah merantau di Bintan selama sepuluh tahun dan menikah dengan warga lokal dan juga sudah dikaruniai seorang anak. Jiwa rantau suku Jawa ternyata boleh dikata tidak kalah dengan jiwa Rantau orang Batak, Padang, dan Bugis karena kita bisa bertemu orang Jawa di mana saja. Berbekal alamat dan lokasi GPS dari teman saya, saya pun meminta salah satu tukang ojek untuk mengantarkan saya. Tidak sulit mencari alamatnya karena di depan gang sudah ada janur kuning khas adat jawa yang melengkung.

Bersama mempelai pria, Danang, sekarang sudah bekerja sebagai wartawan di koran lokal Batam.
Sesampai di acara nikahan tersebut, bapak penyambut tamu yang ternyata paman dari mempelai perempuan menanyakan asal saya. Saat saya jawab bahwa saya jauh-jauh datang dari Jogja, seorang diri, kesepian, dan dengan raut muka memelas, bapak tersebut menyambut saya bak tamu VIP dan saya disuruh duduk di bagian kursi keluarga. Saya melihat teman saya bersama istrinya (sekarang sudah sah disebut istri) sedang berada di panggung utama menyalami para undangan yang hadir. Mereka mengenakan busana adat Melayu. Cukup lama saya duduk sendirian sebelum akhirnya teman saya turun untuk ganti baju dan menemui saya. Tidak banyak ngobrol saat itu karena memang acaranya masih berlangsung. Danang menawari saya untuk menginap saja di rumahnya (sekarang sudah jadi rumahnya Danang juga) tapi saya tolak karena tidak enak, dan tidak kenal dengan anggota keluarga barunya, nanti saya seperti orang hilang, hehe. Setelah sholat maghrb saya pamit karena saya harus mencari penginapan dahulu. Yap, saya sama sekali belum booking penginapan sama sekali. Tidak seperti traveler lain yang apa-apa serba harus dipersiapkan dahulu. Saya adalah tipe traveler yang sukanya dadakan. Jika tidak dapat penginapan ya tidak masalah kalau harus menginap di pombensin atau di masjid.

Foto mereka yang berbahagia, sayang fotoku bersama mempelai belum dikirimkan sama Danang, hiks.
Beberapa menit jalan kaki saya menjumpai sebuah café kecil berfasilitas free wifi. Saya mampir dulu di café tersebut sambil basa-basi bertanya tentang penginapan didekat sini. Abang café menyarankan saya ke daerah pelabuhan, karena disitu banyak penginapan. Oke, saya jalan kaki ke arah pelabuhan yang ternyata sangat dekat, hanya perlu lima belas menit dari rumah teman saya. Dipelabuhan saya bertanya lagi, kali ini dengan mas-mas dari Jawa tadi, dia menyarankan penginapan yang tepat berada disebelah pelabuhan. Penginapan tersebut menghadap ke laut. Saya check in di penginapan tersebut dengan biaya per malam untuk kamar ekonomi seharga Rp.80.000, sangat murah! Sayangnya saya tidak dapat kamar yang menghadap ke laut. Kesenangan karena mendapakan kamar dengan harga murah itu langsung lenyap setelah merasakan kondisi kasur yang bobrok. Kasurnya model spring bed, namun sudah rusak! Beberapa pernya sudah mencuat keluar dan saat saya tiduri, kasurnya merosot kebawah, tidak mampu menahan beban tubuh saya. Alhasil, malam itu saya tidak bisa tidur. Karena bete, saya memutuskan keluar di beranda hotel sambil menikmati suasana laut di malam hari. Beruntung di beranda hotel ada warung kopi kecil dan beberapa tempat duduk. Saya memesan teh tarik. Suasana di pelabuhan terbilang cukup ramai. Beberapa orang terlihat sedang asik memancing di pier pelabuhan. Kapal Patroli Bea Cukai terlihat sedang berlabuh. Kapalnya cukup besar, seperti kapal perang Angkatan Laut minus senapannya. Saya baru kali ini melihat Kapal Bea Cukai. Daerah perbatasan laut antar negara seperti ini memang rawan dengan penyelundupan barang-barang ilegal demi menghindari cukai. Rata-rata barang-barang tersebut nantinya berlabuh di Batam atau di pulau sekitarnya untuk kemudian di edarkan ke seluruh Indonesia. Untuk mencegah hal tersebut, pihak Bea Cukai memliki armada patroli lautnya sendiri, bekerja sama dengan TNI AL dan POLAIR.


Beberapa batang rokok sudah saya habiskan, sementara teh tarik sudah berada pada tetes terakhirnya. Saya beranjak kekamar untuk tidur. Mengingat kondisi kasurnya yang seperti neraka maka saya putuskan untuk tidur dilantai beralaskan selimut dan seprai hotel. Beruntung suhu malam itu sedang panas-panasnya, jadi tidak masalah bagi saya untuk tidur di lantai. Lantainya terbuat dari kayu dan saat saya mengintip sela-sela lantai ternyata dibawahnya langsung laut. Saya tidur dengan tidak nyenyak berteman nyamuk-nyamuk jahanam. Berharap malam segera usai dan pagi menyambut dengan sinar mentarinya yang hangat, yang akan mengantarkan saya menuju pantai-pantai indah di Bintan. (Bersambung)

Minggu, 16 April 2017

Jembatan Barelang Batam


Matahari sudah menyemburatkan warnanya yang keemasan. Ujung jalan beraspal Pulau Galang sudah kami lewati, begitu pula dengan petualangan hari ini terpaksa harus kami akhiri untuk kembali ke Kota Batam tercinta. Sebenarnya masih banyak pantai di Barelang yang nampaknya indah kalau di lihat di Google dan ingin kami kunjungi semua, tapi hari sudah hampir gelap jadi terpaksa kami lewati dulu pantai-pantai yang lain. Mungkin di lain waktu dan lain kesempatan saya bisa mengunjungi semua pantai di Barelang.


Seperti pas kami berangkat, pulangnya pun jalanan sangat sepi. Mobil rental kami melaju dengan kencang melewati bukit-bukit tandus khas Pulau Batam tanpa ada halangan sedikitpun, alhamdulilah. Jembatan demi jembatan kami lewat sampai akhirnya terlihat Jembatan Barelang yang terlihat megah dari kejauhan. Mendekati jembatan, sudah banyak warga yang kongkow di pinggiran jalan. Sebentar lagi lampu jembatan akan mulai dinyalakan dan mulai menerangi langit malam yang membiru mendayu-dayu. 


Pas sekali hari itu adalah hari dimana para jomblo tengah meratapi nasib mereka, yap! tepat sekali! hari itu adalah malam minggu. Jembatan Barelang sudah berasa seperti pasar malam yang minus komidi putar dan rumah hantu saja. Warga Batam maupun wisatawan sudah mengerubuti jembatan tersebut. Jalan yang tadinya mulus mendadak jadi macet. Inilah daya tarik ikon sebuah kota, dimanapun kita berada, ikon sebuah kota pasti akan ramai dikunjungi. Berhubung yang ada di dalam mobil hampir 60% jomblo, maka diputuskanlah untuk berhenti sejenak di Jembatan Barelang, menikmati suasana Jembatan Barelang di malam hari, alih-alih sebenarna pengin cuci mata melihat cewek Batam yang aduhai mak cantiknye. 


Setelah kendaraan sudah rapi di parkirkan, seperti biasa, tukang parkir yang entah dari mana datangnya tiba-tiba menghampiri kami dan berkata "sepuluh ribu bang" sambil menyerahkan tiket parkir. Banyak bakul makanan di Jembatan Barelang. Yang suka jajan saya jamin bakal sangat tergoda untuk mencicipi semua makanan yang ada disini, karena makanan disini unik-unik dan jarang ada di Jawa. Makanan yang paling saya sukai adalah otak-otak. Beda dengan otak-otak Jawa yang bentuknya kayak "anu", otak-otak disini bentuknya semacam pepes, rasanya? makjoss!
Muka kucel penuh dosa
Sangat disayangkan kamera muharanku baterainya wafat, jadinya tidak banyak yang terdokumentasi di malam yang penuh sejarah tersebut. Kami menyusuri jembatan dari ujung keujung, menggoda awek-awek innocent dengan muka kucel dan berminyak, ngobrol sana sini sampai akhirnya salah satu teman saya nyeletuk, "ke Sintai yuk!" Dan di jawab dengan sangat antusias oleh teman saya yang lainnya " waaah, boleeeh juga tuuh". Saya dengan muka polos pun mengiyakan ajakan mereka tanpa tau apa dan dimana Sintai itu. Perasaanku nggak enak nih...


Jumat, 07 April 2017

Pantai Yang Tidak Bikin Kulit Gosong : Pantai Cakang, Ujung Pulau Galang - Barelang, Batam


Nah, jadi karena saking panasnya hawa di Camp Vietnam , kami menyudahi kunjungan dan bersegara menuju destinasi yahud selanjutnya yakni pantai yang berada di paling ujung Pulau Galang, Barelang yang bernama Pantai Cakang. Perjalanan dari Camp mungkin membutuhkan waktu sekitar setengah jam berkendara santai. Pulau Batam dan sekitarnya ini sebenarnya kalau niat bisa kita kelilingi dalam seharian loh!


Mobil sewaan kami menyusuri jalan aspal yang sungguh halus dengan pemandangan di sebelah kanan kami adalah lautan luas dengan pulau-pulau kecil yang berserakan. It's an amazing view for me!. Setelah sekitar setengah jam kami menikmati mulusnya jalan yang semulus kulitnya Raisa, jalan bertanah mulai menghampiri yang diawali dengan adanya sebuah pos retribusi yang tampaknya kosong. Karena tidak ada penarik retribusi maka kami langsung melenggang masuk menyusuri jalan tanah sampai pada area parkiran yang ternyata sudah ada beberapa kendaraan pengunjung yang "niat" bertualang sampai ke ujung Barelang ini. Rata-rata pengunjung adalah kawula muda kece seperti saya. Saya kira tidak ada tukang parkir, karena lokasinya sungguh jauh dari pusat peradaban, tapi ternyata ada seorang bapak yang menghampiri kami dan menarik retribusi parkir untuk mobil. Memang dimanapun kita berada, tukang parkir itu bakal dengan ajaibnya muncul! ngga cuma di Indomaret saja!

Gapura Pantai Cakang, Barelang
Pintu gerbang sederhana yang terbuat dari kayu bertuliskan "Selamat datang Pantai Cakang Pulau Galang Barelang Bay" menyambut kami dengan humble-nya. Kami menuruni tanga buatan dan sampailah di Pantai Cakang, ujung Barelang. Pantainya gimana? Pantainya asik banget! ada banyak gazebo buat bersantai, ada juga pondok-pondok ditengah laut yang hanya dihubungkan dengan jembatan kayu dan menambah ke eksotisan Pantai ini. Beberapa pengunjung tampak asik bersantai beralaskan tikar, mengobrol sambil menyantap bekal yang mereka bawa dari kota. Beberapa anak muda juga ada yang sedang asik bakar-bakar ikan yang mungkin sudah mereka bawa dari rumah. 

Pulau di seberang Pantai Cakang, sayang tidak ada fasilitas penyeberangan, padahal pantainya tampak menggiurkan
Pantai Cakang ini bentuknya tidak seperti kebanyakan pantai yang hanya memanjang dan berisi pasir saja tapi pantai ini berbentuk seperti semenanjung dengan pantai di sisi kiri dan kanan sementara bagian tengahnya adalah pepohonan. Batas vegetasi dan pasirnya juga sangat dekat, jadi kita bisa bermain pasir dibawah pohon, tidak usah takut kulit gosong terbakar matahari. Di paling ujung Pantai Cakang terdapat bebatuan berwarna merah yang tampak kontras dengan putihnya pasir dan birunya lautan.

Pantai Batu Merah di ujung Pantai Cakang
Tidak terasa waktu menunjukan pukul empat sore yang artinya kami harus segera menyudahi asyiknya pantai ini karena menurut teman saya yang merangkap sopir dan asli akamsi (anak kampung sini), kalau berkendara malam hari di jalan Barelang itu bikin was-was. Jalanan yang sepi plus tidak ada pom bensin dan bengkel akan membuat repot bila terjadi apa-apa dengan kendaraan kami di malam hari. Maka dengan alasan itu kami menyudahi petualangan gembira di Pulau Cakang dan menuju pemberhentian selanjutnya yaitu Jembatan Barelang di malam hari yang katanya emejing!.


Overall, Pantai Cakang, Ujung Barelang ini tidaklah mengecewakan, dan saya nobatkan jadi salah satu pantai yang sunnah di kunjungi kalau kamu ke bervakasi ke Batam sob! 





Selasa, 04 April 2017

Mengunjungi Jejak Pengungsi Perang Vietnam-Amerika di Camp Vietnam, Batam



Pasti kalian sering lihat atau minimal mendengar tentang perang Vietnam kan? biasanya film-film jaman dulu sering mengangkat tema tentang perang Vietnam melawan Amerika dimana si Amerika selalu jadi lakonnya. Tahukah kalian jika Amerika tidak memenangkan perang ini dan harus pulang ke negara mereka? Vietnam dengan strategi perang gerilya yang mencontoh strategi perang Indonesia waktu melawan penjajahan Belanda akhirnya berhasil mengulur waktu dan membuat Amerika harus meninggalkan Vietnam dengan tangan hampa.

Perang Vietnam tersebut berdampak pada banyaknya korban pengungsi yang harus meninggalkan kampung halaman mereka untuk pergi ke negara-negara tetangga demi menyelamatkan diri dari hantaman bom dan letupan timah panas. Salah satu tempat pengungsian mereka adalah Indonesia, tepatnya di pulau Batam.



Ini bukan di Vietnam, tapi di Batam

Saya di ajak oleh teman saya mengunjungi bekas tempat pengungsian tersebut yang terletak di Pulau Galang, Batam. untuk menuju Pulau Galang saya harus melewati sekitar enam jembatan antar pulau. Jembatan pertama yang saya lewati adalah jembatan Barelang, jembatan ikonik Pulau Batam yang menjadi salah satu tujuan wisata Pulau Batam.

Sepanjang perjalanan hanyalah bukit-bukit tandus namun terlihat eksotik. Saya melewati salah satu daerah perkebunan satu-satunya di Batam yaitu di Pulau Rempang. Jalanan sangat sepi, hampir tidak ada permukiman, jadi hati-hati saja kalau kendaraan mogok atau bocor ban. Untung saja kendaraan kami saat itu tidak ada masalah.

Kera penyambut tamu di Camp Vietnam
Sesampainya di Pulau Galang, nanti di kanan jalan akan ada papan petunjuk Camp Vietnam. Nah di daerah sini baru ada beberapa permukiman penduduk dan warung-warung kecil. Memasuki daerah camp daerah yang tadinya bukit-bukit tandus mendadak berubah menjadi daerah hutan tropis yang rimbun. Dari pintu masuk / retribusi, Bangunan yang paling pertama menyambut saya adalah sebuah Vihara yang masih difungsikan sampai saat ini. Banyak wisatawan yang mengunjungi vihara ini untuk sekedar berfoto atau memang hendak sembahyang. Selepas dari Vihara saya langsung menuju ke bangunan utama yakni Museum Camp Vietnam. Saya di sambut oleh banyak gerombolan kera yang menunggu di pinggiran jalan berharap dilempari makanan oleh wisatawan.

Makam dengan lambang swastika
Saya melihat ada sebuah komplek pemakaman dengan logo swastika. Logo ini mendadak mengingatkan saya kepada simbol paling terkenal didunia, yakni simbol Nazi yang memang sebenarnya terinspirasi oleh simbol swastika agama Buddha. Kami parkir di pinggir jalan, disebelah sebuah monumen kapal laut yang mewakili jenis kapal yang digunakan para pengungsi dari Vietnam menuju pulau-pulau Melayu.

Gereja di Ex-Camp Vietnam
Tujuan utama Camp Vietnam adalah museum, monumen kapal, dan beberapa bangunan bekas pengungsian salah satunya adalah sebuah gereja. Suasana hari itu sangatlah panas, membuat saya tidak betah berlama-lama di camp ini karena memang tidak banyak yang bisa saya lakukan disini. Ingin rasanya segera mampir ke pantai-pantai Pulau Barelang yang jumlahnya puluhan dengan papan petunjuk berderatan di sepanjang jalan yang saya lewati. Yang paling ingin saya kunjungi adalah pantai paling ujung Barelang.

Pemandanan dari pelataran Vihara

Suasana di dalam museum.

Foto ex-penghuni camp pengungsi Vietnam. Biasanya setiap tahun ada beberapa dari bekas penghuni yang datang ke Batam untuk bernostalgia.

Kapal yang pernah digunakan oleh pengungsi Vietnam menuju indonesia lewat jalur laut.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Cara Mendapatkan Air Bersih di Alam Liar


Saat kita berada di alam dimana tidak ada sumber air langsung seperti sungai, danau, dll, mungkin kita dapat mencoba metode ini. Dehidrasi akan membunuh kita jika kita tidak ada persediaan air sama sekali ketika berada di alam liar yang ganas, dimana "hukum yang kuat yang bertahan" berlaku disini. Secara medis, manusia dapat bertahan tanpa makan selama satu bulan itu pun jika kita terus konsisten minum air. Namun sayangnya berbeda jika yang kita hadapi adalah kelangkaan air. Manusia hanya bisa bertahan tiga sampai enam hari tanpa air. Nah, kali ini saya akan berbagi mengenai salah satu cara mendapatkan air di alam liar yang bersumber dari sodara dengan akun Blue-Jazz di Instuctables.com
Untuk membuatnya, kita butuh :
  • Sekop, untuk menggali tanah. Tidak harus sekop sih, apa aja bisa dijadikan alat, termasuk tangan.
  • Wadah, kaleng bekas atau apa saja yang bisa digunakan untuk menampung air.
  • Tumbuhan / Daun, 
  • Plastik / terpal yang agak lebar.
  • Batu atau jika tidak ada bisa memakai tanah bekas galian sebagai penahan.
Langkah 1 : Gali Lubang
Gali tanah dengan ukuran sekiranya hampir sama dengan yang ada di gambar. Tidak perlu terlalu besar. Kedalaman lubangnya sekitar setengah meter. Galilah lubang ini pada malam / pagi hari karena jika siang hari tubuh akan mudah berkeringat sehingga air dalam tubuh kita akan cepat berkurang dan itu sangat berarti jika kita berada di tempat yang tidak ada sumber air sama sekali.Jika lubangnya sudah tergali, taruh wadah kaleng tadi ditengah-tengah lubang. Wadahnya harus cukup dangkal, jangan terlalu dalam. kira kira jaraknya sekitar 5 cm dari ujung lubang.


Langkah 2 : Dedaunan
Cari tumbuhan dengan daun yang berwarna hijau, semakin hijau dan lebar daunnya semakin baik, contohnya daun pisang. Taruh daunnya didalam lubang disektar wadah tadi. Pastikan lubang itu penuh dengan daun, jangan sisakan ruang sedikitpun. Saat matahari terbit sampai matahari tenggelam akan membuat air yang ada didalam tumbuhan ber-evaporasi dan terkumpul di atas penutupnya.


Langkah 3 : Penutup
Pastikan plastik penutupnya meregang menutupi keseluruhan lubang. Taruh pemberat di sisi plastik, dan taruh satu kerikil pemberat di bagian tengah di atas wadah sehingga membentuk kerucut kebawah dengan bagian tengahnya adalah wadah penampung airnya. hal ini supaya air hasil evaporasi tumbuhan akan terpusat dan jatuh di wadah penampung air.


Saat malam tiba, cek apakah air sudah terkumpul. Jika sudah maka nikmatilah kesegarannya dan hilangkanlah dahagamu.

Kamis, 06 Oktober 2016

Wisata Pantai di Batam, Pantai Nongsa (2 - Fin)




Saya kembali lagi ke perempatan yang ada Pos Infromasi Pariwisatanya dan menanyakan arah ke Pantai Nongsa yang ada makan Nong Isa-nya. Penjaganya dengan ramah mengarahkan saya untuk lurus terus ke arah barat nanti di kanan jalan akan ada papan penunjuk arah Pantai Nongsa. Kembali saya pacu motor kali ini agak ngebut karena sudah sore. Jalanannya kali ini lebih lebar dan lebih halus dari sebelumnya. Kanan kiri jalan juga ditumbuhi pohon-pohon lebat dengan akarnya yang besar. Saya pelankan laju motor ketika melewati sebuah jembatan dengan sungai air payau / sungai yang masih menyambung dengan laut dibawahnya yang cukup jernih. Karena terbius dengan pemandangannya sayapun berhenti sebentar di jembatan itu. Banyak orang, muda-mudi berjejer dipinggiran jembatan saling berselfie bersama. Setelah saya perhatikan lagi ternyata ada pelabuhan / dermaga di bawah dengan satu kapal ferri kecil berlabuh. Tidak mau kalah dengan orang-orang disekitar saya pun ikut mengambil foto pemandangan dari jembatan tersebut karena matahari yang hampir tenggelam terlihat indah dari jembatan ini.



Lanjut perjalanan sampai di sebuah papan bertuliskan “Pantai Nongsa” dan “Makam Nong Isa” di sisi kanan jalan sebuah pertigaan. Saya ambil jalur kanan sesuai dengan papan tersebut. Sekitar 50 meter di kanan jalan terdapat sebuah pelataran parkir makam Nong Isa berekatan dengan masjid. Saya melaju lurus dan tampaklah deretan pohon kelapa dan warung-warung pinggir pantai. Pantai Nongsa ini cukup panjang dengan saung-saung diatas air yang seakan-akan menyekat satu pantai ini menjadi beberapa pantai. Satu hal yang dsayangkan adalah sampahnya buanyak banget! walaupun sudah ada tulisan dilarang buang sampah tapi tetap saja ada sampah disepanjang hamparan pasir putihnya. Banyak kapal yang bersandar di peraduannya sambil terombang-ambing ombak yang bergerak pelan. Nampaknya kapal-kapal tersebut merupakan kapal penyeberangan menuju Pulau Putri, 15 menit perjalanan menggunakan kapal tradisional bermesin solar. Sayangnya jam sudah terlalu sore jadi saya tidak bisa menyeberang ke pulau putri. Pelabuhan menuju Pulau Putri sendiri terletak di paling ujung utara pantai. Saya mampir di salah satu warung dan memesan segelas kopi hitam sebagai pencair suasana dan pelicin kata-kata. Saya mengobrol beberapa hal tentang Pantai Nongsa ini dengan si abang penjaga warung, alih-alih sebenarnya saya ingin menitipkan tas, hehe.


Saya jalan dari ujung ke ujung, mendengarkan deru angin pantai yang syahdu karena sore hari ini Pantai Nongsa benar-benar sepi, hanya ada beberapa pengunjung saja, salah satunya adalah rombongan anak sekolah yang sedang asik bermain volley di depan sebuah penginapan. Setelah puas, saya kembali ke warung tadi. Abang warung masih asik bermain dengan asap rokoknya sembari menyapa saya. “Udah puas bang?” tanya dia dengan nada seolah kami sudah berkawan lama. “Sebenarnya belum puas aku bang, tapi sudah mulai gelap ini, besok lagi saja kalau ada waktu aku main sini lagi” jawabku. Setelah ngobrol-ngobrol sedikit, saya pun beranjak pulang setelah sebelumnya membayar kopi nikmat ini yang cuma seharga Rp. 5000 saja, tidak pakai mahal, parkir disini juga gratis, pokoknya asik lah Pantai Nongsa ini.











Senin, 19 September 2016

Wisata Pantai di Batam, Pantai Nongsa (1)




So..akhirnya saya sampai di persinggahan tepat pukul setengah sepuluh. Masih terlalu pagi untuk kemana-kemana dan motor baru tersedia jam dua siang. Akhirnya siang itu saya habiskan untuk sekedar bermalas-malasan sambil browsing tempat-tempat yang wajib di kunjungi di Batam. Saya juga download offline maps-nya Google Maps siapa tau nanti tidak ada sinyal disana. Keseriusan saya bermalas-malasan terganggu dengan panasnya udara di Batam, sampai anginnya juga ikut panas. Menurut dugaan saya sebagai seorang lulusan Geografi (cieee sombong) ini karena Batam dikelilingi oleh laut dan kebetulan di daerah saya tinggal tak nampak pohon-pohon besar sebagai pemasok oksigen, alhasil udaranya panas lembab gimana gitu.

Motor sudah ditangan sekarang saatnya ngebolang..sendirian..sedih.. L . Ga asiknya bepergian sendiri tuh ga ada temen ngobrol, ga ada temen buat bingung-bingung bareng, ga ada temen buat iuran hotel / transport, dan yang paling penting ga ada temen yang ngefotoin kita. Tapi bepergian sendirian enaknya lebih fleksibel semau kita sendiri. Gimanapun tetap lebih enak pergi bareng sohib-sohib kece kita. Kebetulan saya memakai motor punya keluarga, tapi kalau kalian butuh sewa motor / mobil banyak banget tersedia di Batam terutama di pusat kota daerah Batam Center atau Nagoya. Harganya bervariasi, untuk motor sekitar Rp. 70.000 – 100.000, untuk mobil Rp. 200.000 – 400.000. Kalau kalian bingung tinggal search di google, banyak banget iklannya.


Untuk sore hari ini saya memutuskan pergi ke Pantai Nongsa karena jaraknya cukup dekat, Cuma 15 kilometer dengan waktu tempuh 20 menit. Jalannya ngga ribet dan mudah diikuti. Kalau dari Bandara, kita tinggal keluar dan belok kanan ke Jl. Hang Tuah (arah utara). Lurus terus ikuti jalan sampai pertigaan baru belok kiri lewat Jl.Hang Jebat. Dari sini tinggal lurus terus sampai nemu perempatan dengan pos Informasi Pariwisata ditengahnya. Kondisi jalannya bisa mulus dan lebar, pokoknya nyaman lah berkendara di Batam, jalannya bagus-bagus.

Dari Pos Info Wisata saya ambil jalur kanan. Pohon-pohon di kanan kiri jalan mulai rimbun dan lebat, enak di pandang daripada daerah sekitar Bandara yang isinya bukit tandus dengan debu-debu berterbangan. Saya mengikuti jalan utama sampai di “Nongsa Village”. Saya kira waktu liat di peta “Nongsa Village” itu sebuah perkampungan tapi ternyata adalah sebuah Resort / Penginapan dimana kalau kita  mau ke pantainya itu harus bermalam dulu. Duuh dek, “terus gimana dong ini pak satpam? saya jauh-jauh dari Jogja lho” tanya saya. “Abang balik lagi aja nanti di kiri jalan ada jalan tanah, nah masuklah, disitu ada pantai juga Cuma lagi dibangun aja. Gak kalah indah kok bang”. "Kalau lurus kemana bang?" tanyaku lagi. "oo, kalau lurus ke resort Turi Beach bang". Okelah akhirnya saya putar balik menuju jalan yang ditunjukan pak satpam tadi, pantai yang bukan resort, pantai untuk kaum jelata seperti saya, pantai yang masih milik masyarakat umum, bukan hanya untuk masyarakat ekslusif.


Jalan tanah berwarna merah tampak kontras dengan jalan aspal yang saya lewati tadi. Tampaknya daerah pantai ini sedang dibangun karena ada bangunan semacam kolam air mancur yang baru selesai dipondasi. Cuma sekitar 100 meter dari jalan utama nampaklah sebuah pantai dengan pasir putih dan ombak yang sangat tenang. Beberapa bapak terlihat tengah asyik memancing sementara anak-anak mereka dibiarkan bermain pasir pantai. Beberapa anak muda kampung sekitar sedang asik duduk-duduk di sebuah kursi dibawah pohon sambil bergitar dan menyanyikan sebuah lagu melayu yang saya tidak pernah dengar sebelumnya.

Inilah Pantai Kampung Nongsa atau Pantai sebelah “Nongsa Village”. Suasananya sangat tenang dan syahdu apalagi ditambah dengan lagunya Payung Teduh yang sedang saya dengarkan lewat earphone. Ombaknya bergerak sangat pelan. Diseberang sana terlihat samar gedung-gedung bertingkat kepunyaan negeri tetangga Singaparna. Ada sebuah ayunan sederhana yang hanya diikatkan pada ranting pohon. Ayunan tersebut begitu menggoda untuk diduduki. Sambil ayun perlahan-lahan, kunikmati pantai tenang ini bersama secangkir kopi hangat dan sebatang rokok lintingan sendiri. Berasa jadi anak reggae.


Jam menunjukkan pukul setengah lima. Saya harus segera beranjak pindah ke pantai lainnya yang masih berada di daerah Nongsa dikarenakan pantai ini menghadap agak ke timur jadi tidak ada sunset disini. Tujuan berikutnya adalah daerah “Nongsa Pantai” dimana saya bisa melihat sunset. Di pantai itu terdapat makam dari “Nong Isa”, salah satu leluhur yang menjadikan daerah ini bernama “Nongsa”. Bersambung….

Galeri : 



Ombaknya sangat tenang.



Dermaga resort "Turi Beach" 
Nasib jalan-jalan sendiri, fotonya pakai timer.